Recommended

Delhi – Indian Hospital Experience

December 7, 2005

Rumah Sakit Lady Hardinge, yah, itulah nama yang direkomendasikan oleh pemilik hotelku ketika aku menanyakan ke mana harus pergi merawatkan penyakit kuningku. Menurut banyak orang, ini adalah salah satu rumah sakit terbaik di New Delhi.

Memasuki rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggalku, aku hanya terkesima oleh keramaian orang-orang yang lalu-lalang. Tidak ada tempat registrasi untuk menanyakan ke mana aku harus pergi. Tidak banyak tempat untuk bertanya, karena semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Di balairung utama puluhan wanita duduk di lantai menunggu giliran. Dan sampah-sampah berserakan di setiap sudut koridor yang gelap.

Dengan susah payah aku menemukan ruang konsultasi. Tampak antrean panjang. Semua orang membawa formulir registrasi masing-masing. Tapi di manakah aku bisa mendapatkan formulir itu? Susah payah kembali aku menemukan wanita pembagi formulir, eh malah tidak dikasih formulir. Katanya aku langsung antre saja. Aku kembali ke ruang konsultasi untuk antre, tapi dokter menolak melayani karena tidak ada formulir. Terpaksa kembali lagi mencari wanita pembagi formulir, dan MEMAKSAnya untuk memberiku formulir. Dan dengan formulir ini aku kembali lagi antre dari awal. Total dua jam terbuang sia-sia dan bagi penderita sakit kuning yang lemah ini, dua jam adalah perjuangan.

Dokter menanyaiku beberapa pertanyaan. Gejala mata kuning, tidak ada demam dan meriang, hanya nafsu makan yang menurun, tubuh yang lemah, abdomen yang sakit, warna urine dan faeces yang tidak wajar. Aku langsung dirujukkan menuju bagian gawat darurat untuk tes darah.

Di bagian gawat darurat ini sampel darahku diambil oleh seorang suster muda. Suster menuliskan empat rangkap formulir untuk empat macam diagnosa yang akan aku jalani. Semua ditulis dengan tangan tanpa karbon. Suster di sini rupanya memang kudu sabar dalam urusan tulis-menulis. Kemudian aku mendapat infus, Dextrose 5% kalau tidak salah.

Ini adalah pengalaman pertamaku mendapatkan infus. Sebelumnya, jangankan infus, berada dalam rumah sakit untuk lebih dari 1 jam saja aku tidak pernah. Dan di ruangan gawat darurat ini, dengan 8 ranjang serta 10 pasien (beberapa pasien harus share ranjang yang sama, termasuk aku yang harus meringkuk seranjang dengan pasien lain), serta anjing yang berkeliaran di bawah ranjang pasien mengendusi apa saja yang bisa dimakan.

Tidak jauh dari tempat tidurku, ada seorang wanita yang nampak sangat lemah. Seluruh wajahnya kuning. Matanya pun jauh lebih kuning dari punyaku. Sakit kuning juga. Semoga penyakitku nggak sampai separah itu, aku berdoa dalam hati. Wanita ini masih menyempatkan untuk menyapaku, dan berbagi penderitaan denganku. Aku pun masih harus bersyukur, bahwa sebenarnya penyakitku masih belum ada apa-apanya dengan apa yang harus dia tanggung. Namun jarum infus besar serta cairan yang menetes setetes demi setetes itu benar-benar mengusik hatiku.

Anjing yang terus berkeliaran di ruang pasien ini benar-benar menarik perhatianku untuk mengabadikan. Dengan jarum infus masih di tangan, tiang infus di samping yang aku geret ke sana ke mari, dan tangan kanan yang masih bebas memegang kamera, aku terus memotret setiap penjuru ruangan ini. Suster tampak geregetan, katanya aku disuruh istirahat dan tak boleh capek, terpaksa aku harus berbaring lagi.

Setelah menghabiskan satu botol ini, suster bilang aku harus mengambil laporan tes darah. Ada dua tempat, satu di Bank Darah, satu lainnya di Lab Mikrobiologi. Aku bertanya apakah harus mengambil sendiri, suster bilang iya. Dia menggambarkan peta, namun dengan peta bikinnannya aku harus menghabiskan sekitar 1,5 jam untuk menemukan kedua tempat itu. Dan masing-masing hasilnya sama: hasil tes belum keluar.

Setelah kelelahan jalan ke sana ke mari, aku kembali lagi ke ruang gawat darurat. Suster lainnya ingin melanjutkan infus, tapi aku memilih untuk mencari dokter. Sangat membosankan rasanya harus duduk dan berbaring berjam-jam dengan jarum besar di tangan itu.

Setelah 3 kali perjalanan pulang pergi ke bank darah dan lab mikrobiologi, aku mendapatkan laporan dari bank darah. Hasilnya haemoglobin normal. Dari lab mikrobiologi masih belum keluar hasilnya.

Ketika menunggu, suster menyuruhku untuk melakukan tes x-ray. Tes X-Ray? Untuk sakit kuning? Mengingat biaya X-Ray di Indonesia yang tidak murah, aku mencoba mengelak dengan berbagai alasan. Namun formulirku sudah ditandatangani suster kepala, jadi terpaksa aku menuju ke ruangan X-Ray. Semuanya berjalan cepat, tak ada antri, dan dalam kurang dari 5 menit aku menyelesaikan tesku. 30 menit kemudian hasilnya keluar, kata petugas X-Ray, dan doktermu akan mengambil sendiri hasilnya.

Kembali ke ruang gawat darurat, semua suster dan dokter sudah tidak ada. Makan malam. Pukul 6-6.30 jam makan malam kalau tidak salah. Hasil lab mikrobiologi sudah keluar. Nilai bilirubinku 14,6. Sangat tinggi. Angka normal seharusnya di bawah 1. Warna kuning di mata itu disebabkan oleh bilirubin.

Dalam bincang-bincang dengan dokter, aku menyatakan kekhawatiranku terhadap semua tes ini. Betapa mahalnya yang akan aku bayar, apalagi untuk X-Ray. Dokter bilang, “Jangan kuatir. Semua di sini gratis.”
“Haaa???? GRATIS???”
Dalam sekejap pandanganku terhadap rumah sakit ini berubah drastis. Anjing-anjing yang berkeliaran di ruang gawat darurat itu seakan bukan lagi duri di mataku. Semua ini gratis, bahkan untuk aku yang bukan warga India. Semua ini karena komitmen negara untuk melayani semua warganya, menjawab setiap ketukan dari warga miskin yang tak mampu. Dan betapa memalukannya jika kita ingat rumah sakit di Jakarta yang menolak pasien miskin.

Dokter memutuskan untuk mengopnameku. Aku semula ingin pulang, dengan alasan visaku yang hampir habis, dsb dsb. Dokter bahkan menelepon ke kedubes untuk memberitahukan keberadaanku di sini. Di balik fasilitas sanitasi dan higienis yang sangat minim, pelayanan medis di sini cukup profesional juga. Tes ACG dan USG pun berjalan dengan cepat dan efisien. Hasilnya, positif Hepatitis.

Dan malam ini aku melewatkan malam pertama dalam hidupku di sebuah rumah sakit. Terbaring lemah dengan jarum infus tertanam di tangan kiriku. Keluarga pasien lain juga sangat memperhatikanku, mengingat aku yang datang tanpa pengantar. Terkadang tante di sebelah membantuku mengangkat botol infus ketika aku hendak ke toilet. Aku belajar banyak tentang cinta kasih, di balik wajah-wajah muram itu pun masih tersimpan senyum yang manis dan perhatian yang mendalam.

Hari ini terlewatkan tanpa makan, hanya beberapa botol infus yang telah dilahap. Namun tidurku malam ini teramat sangat lelap.

2 Comments on Delhi – Indian Hospital Experience

  1. Thanks God Gus. Untung kamu sakitnya di India (gratis pula). Coba kalau kamu pergi ke negara barat, habis suah duit kamu. Bukan cuman habis, mungkin bisa hutang segala. So whats the result, Hepatitis A?

  2. Here He come, Agus!!!
    Sukurlah

Leave a comment

Your email address will not be published.


*