Recommended

jurnalistik

Selimut Debu 106: Hari Kelam

Ini sungguh hari nahas. Aku dicurigai sebagai teroris dan aku lupa bawa dokumen apa pun untuk membuktikan siapa diriku. Biasanya aku bawa paspor, tapi hari ini aku sengaja meninggalkan di rumah karena takut hilang. Bahkan fotokopinya pun tertinggal. Sekarang aku adalah manusia tanpa identitas. Tapi itu bukan alasan untuk menampar dan memukuliku, bukan? Aku jadi pusat perhatian massa. Belasan orang yang mengerumuni dipenuhi rasa penasaran. Aku seperti maling yang tertangkap. Aku digelandang menuju ruang satpam di depan kementerian. Polisi yang menamparku tadi sudah pergi. Tentara ini masih bersama aku yang menjalani interogasi. “Aku mau menelepon kedutaan.” Aku mengeluarkan telepon genggam. Langsung dirampas oleh polisi. “Ini, ini kartu nama staf kedutaan. Tolong telepon mereka!” Kartu nama itu pun disita. Tanpa reaksi. “Apa sih maumu sekarang?” aku sudah tak kuasa menahan emosi. Sialnya, dalam keadaan panik ini, yang meluncur dari mulut bukan bahasa Inggris melainkan bahasa Urdu, bahasa nasional Pakistan. Mereka sudah curiga akan adanya pelaku pengeboman yang mengincar Kabul, dan  ini semakin menambah kecurigaan mereka bahwa aku teroris dari Pakistan. Mereka tak percaya aku orang Indonesia dan punya hubungan dengan kantor berita. “Hah… ketahuan kamu. Kamu dari Pakistan, kan? Kalau kamu orang asing, tunjukkan paspormu!” bentak tentara itu. Ia kemudian tertawa [...]

March 24, 2014 // 13 Comments

Selimut Debu 105: Bom

Tenteramnya Lembah Bamiyan sudah menjadi kenangan dunia lain ketika aku kembali menginjakkan kaki di Kabul. Di bulan Ramadan ini bukan kedamaian yang terasa, melainkan kengerian sebuah negeri perang. Bom meledak. Letaknya di seberang kantor berita Pajhwok, tempat aku biasa duduk dan menghabiskan waktu bersama para wartawan. Pukul delapan pagi, pegawai kantor Kementerian Dalam Negeri masuk kerja dan murid-murid masuk sekolah. Bus shuttle yang mengantar para pegawai kementerian berhenti di tepi jalan untuk menurunkan para penumpang. Pelaku peledakan melompat ke arah bus, dan meledakkan dirinya. Bersamanya, lima penumpang bus dikirim ke akhirat, juga anak-anak sekolah dan ibu tua. Tak ada api, tetapi ledakan dahsyat ini mematikan. Hingga tengah hari, jumlah korban sudah mencapai empat belas orang, belum lagi ditambah puluhan yang luka parah di rumah sakit. Para pelajar melihat potongan telinga dan anggota tubuh lainnya terlempar sampai ke halaman sekolah mereka, tersangkut di pepohonan dan tersebar di lantai gedung. Anak-anak berteriak histeris. Dalam usia sekecil ini, mereka sudah harus terbiasa dengan ledakan, perang, dan kengerian. Esoknya, bom lain meledak di daerah Mikroyan, blok-blok perumahan yang dulu dibangun oleh pemerintah Uni Soviet ketika menguasai negeri ini. Pelaku bom bunuh diri adalah seorang pemuda berpakaian ala Barat yang sekarang jasadnya terbaring di pinggir [...]

March 21, 2014 // 1 Comment