Recommended

#VBookClub (2013): “Titik Nol”

3 May 2013

#VBookClub

1303-vradio-indy-natalia-1

http://indynatalia.blogspot.com/2013/03/vbookclub-titik-nol.html?spref=tw

#VBookClub – “Titik Nol”

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan membaca buku se-menarik “Titik Nol” dan bertemu dengan penulisnya, @avgustin88 di #VBookClub @VRadioFM. Sebelumnya, saya memang sudah jatuh cinta dengan buku ini.
“Titik Nol” menceritakan tentang kisah perjalanan penulis, Agustinus Wibowo ke beberapa wilayah seperti Tibet, Nepal, India, Afghanistan, sampai Pakistan. Melalui buku ini, rasanya saya ikut merasakan perjalanan darat yang dilakukan @avgustin88 dan mengenal kultur kebudayaan di masing – masing daerah. Ritual ziarah di tibet yang dilakukan sambil merangkak; Eksotisnya bukit – bukit curam di Nepal; Keprihatinan terhadap India yang berbeda kehidupan dengan gambaran Bollywood; sampai rasa tidak aman saat mengunjungi Afghanistan yang tengah dilanda konflik.
Dilengkapi dengan foto – foto menarik sepanjang perjalanan, saya sebagai pembaca mendapatkan gambaran yang jelas tentang terjadinya sebuah peristiwa. Tentang bagaimana sebuah tulisan mampu menggerakkan hati untuk ikut prihatin dengan apa yang terjadi di negara perang seperti Afghanistan.
“Perjalananku bukan perjalananmu. Perjalananku adalah perjalananmu”
Sesungguhnya, makna perjalanan yang ingin disampaikan oleh @avgustin88 adalah luas. Tidak hanya tentang berapa jumlah lokasi yang dituju, tidak hanya tentang berapa jumlah negara yang sudah berhasil dikunjungi dan dinikmati, tapi perjalanan adalah “mengalami”. Mengalami peristiwa dan kejadian yang kemudian membawa perubahan berarti dalam hidup, perjalanan juga berarti segala hal yang terjadi dalam hidup kita masing – masing.
1303-vradio-indy-natalia-2
Dengan background pendidikan di bidang ilmu komputer, saya kemudian bertanya kepada @avgustin88 tentang mimpinya sebagai seorang jurnalis. Ternyata mimpi ini dimulai saat ia ikut andil menjadi seorang relawan di Aceh. Perjalanannya selama menjadi relawan membuatnya berfikir bahwa menyampaikan sebuah peristiwa/ kejadian yang tersembunyi telah menjadi keinginan terbesarnya. Membuat dunia tahu akan hal – hal yang terjadi pada sebuah peristiwa, dan menyampaikan pesan yang tidak tersampaikan kemudian menjadi keinginannya yang paling dalam.
Menariknya, buku ini tidak hanya menyajikan cerita menarik seputar perjalanan – real story – yang luar biasa, tapi juga menyimpan haru saat @avgustin88 menceritakan perjuangan Ibunya saat melawan kanker. Disaat – saat terakhirnya @avgustin88 membagi cerita perjalanannya dengan sang Ibu, menceritakan setiap detail kultur dan budaya yang terjadi pada sebuah negara, dan menemaninya untuk berjuang melawan penyakit. Sepeninggal Ibu, @avgustin lalu menutup buku dengan menuliskan surat yang mengungkapkan curahan hatinya yang tidak tersampaikan kepada Ibu.
“Mama, wo ai ni.. “
Overall, saya tidak bisa berhenti memikirkan perjalanan dan petualangan selanjutnya saat belum membuka halaman berikutnya dari “Titik Nol”. Dan ya, perjalananlah yang akan mengubah kita menjadi seseorang yang lebih baik..
Tentang “Titik Nol”: 
* “Titik Nol” adalah buku ketiga setelah “Selimut Debu” dan “Garis Batas”
* Pada awal perjalanan, @avgustin88 membawa tas ransel seberat 16 kilogram. Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia tinggalkan barang – barang didalam tas ransel.
* @avgustin88 sempat terserang hepatitis selama melakukan perjalanan di India, dan diharuskan istirahat di rumah sakit selama beberapa minggu. Cerita lebih lengkap tentang perjuangan penulis untuk sembuh dan kembali melakukan perjalanan ada didalam buku ini.
* Kecopetan adalah nama tengah @avgustin88. Apa yang ia lakukan saat isi dompetnya raib? termasuk kartu pelajar dari universitas ternama di Beijing, Tsinghua?
* Dibalik kecintaannya terhadap dunia tulis – menulis dan fotografi, penulis mencintai musik pop dalam negeri, dan musik dangdut!
* Total, penulis pernah belajar secara otodidak dan menguasai 15 bahasa
* Kini, @avgustin88 tengah memulai kembali kehidupannya di Indonesia, dan menetap di Jakarta
* “Titik Nol” adalah buku yang paling personal dan terberat yang pernah ditulis @avgustin88. Selain merupakan semi autobiografi, @avgustin88 juga harus melawan kemelut hatinya sepeninggal sang Mama.
* Tepat setelah “Titik Nol” turun cetak, giliran sang ayahanda yang harus pergi meninggalkannya, menyerah pada takdir Ilahi.
* @avgustin88 pernah menjadi seorang penyiar radio di Beijing selama 3 tahun. Menyiarkan program dalam terjemahan bahasa indonesia, dan relay di radio Elshinta.
* Ada banyak kalimat -kalimat indah yang tertulis didalam “Titik Nol”, yang saya rangkum dalam blogpost sebelumnya
* Kunjungi www.avgustin.net dan lihat bagaimana sebuah foto bisa menggerakkan perasaan kita sebagai manusia, dan menunjukkan sisi humanis yang luar biasa.
Jadi, apakah anda traveler? turis? backpacker? atau bahkan musafir?
Tidak penting apapun orang menyebutnya, karena yang terpenting adalah inti perjalanannya.
Selamat menikmati “Titik Nol” versi anda, dan temukan arti “perjalanan” versi anda juga!:)
Cheers
@NathalieIndry

Quotes – “Titik Nol”

cover_titiknol400
“Hidup itu adalah sebilah cermin.  Dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri. Caramu memandang dunia adalah caramu memandang diri. Jika dunia penuh kebencian dan musuh ada dimana – mana, sesungguhnya itu adalah produk dari hatimu yang dibalut kebencian. Jika kaukira dunia penuh dengan orang egois, itu tak lain adalah bayangan dari egoisme egomu sendiri. Dunia yang muram berasal dari hati yang muram. Sedangkan kalau dunia di matamu selalu tersenyum ramah, berterima kasihlah pada hatimu yang diliputi cinta. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada perbuatan pasti ada balasan. Semua itu simetris” – Hal. 423 – 424.
“Berbahagia itu sederhana. Tak perlu menunggu jadi kaya raya atau mengenakan mahkota raja. Semua orang bisa berbahagia saat ini juga, kalau mau” – Hal. 318.
“Orang bilang, kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan. Pemandangan terindah justru terlihat ketika melambatkan langkah, berhenti sejenak” – Hal. 315.
“Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan. Sesungguhnya, tak ada kebetulan yang benar – benar kebetulan. Setiap pertemuan dan perpisahan itu sudah ada yang mengatur, sudah menjadi guratan nasib. Hubungan anak dan ibunya adalah perjodohan. Hubungan suami dengan istri, hubungan antara anjing dengan tuannya, semua adalah produk perjodohan” – Hal. 237.
“Di mataku, hal yang membedakan kualitas perjalanan adalah apakah digunakan hati. Ada orang yang pergi ke ratusan negara, sampai sudah tak  ingat lagi mana – mana saja yang pernah didatangi, selain bukti foto – foto dan cap di paspor yang menjadi piala kebanggaan.Ada orang , seperti Lam Li, yang berjalan perlahan – lahan, mendalami negeri – negeri, menyelami manusia, menganalisa sejarah, mempelajari budaya, dan mencatat setiap cerita” – Hal. 232.
“Kita melakukan perjalanan demi mencari sesuatu yang tak ada dalam kehidupan kita sesungguhnya. Itulah sebabnya, jenis perjalanan yang disuka banyak orang adalah time – travel, perjalanan menembus waktu. Masing – masing kita memendam ekspektasi, setiap tempat memiliki dimensi waktunya sendiri – sendiri” – Hal. 176.
“Dalam hidup manusia, memang ada orang – orang yang ditakdirkan untuk datang sekelebat, mengajarkan sesuatu, lalu lenyap sama sekali. Kehilangan adalah untuk menemukan. Buddha besabda, kebebasan dari segala keterikatan adalah pencerahan, kebahagiaan” – Hal. 156.
“Perjalanan bisa jadi pelarian dari rasa takut, bisa pula pencarian untuk menemukan cara membunuh takut” – Hal.139.
“Ketakutan selalu menemani hidup. Kau dan aku takkan pernah bisa lari darinya. Dalam berbagai wujud, ketakutan selalu menghantui manusia, sahabat setia dari gua garba hingga liang lahat. Adakah bagian dari perjalanan hidup ini yang terlepas dari ketakutan? Lihatlah semua tindakan yang dilakukan semua manusia pada hakikatnya adalah demi membebaskan diri dari sebuah rasa takut. Orang bekerja keras, berkeluarga, membesarkan anak, melakukan investasi membeli asuransi, semua demi sejumput rasa aman” – Hal. 138.
“Aku adalah nomad. Napasku adalah perpindahan” – Hal. 135.
“Perjalanan adalah eksplorasi untuk menemukan dunia “lain”. Perjalanan adalah hak eksklusif kalangan terbatas, dari negeri – negeri terhormat dan berperadaban, hanya bagi para pemberani atau orang superkaya, mata – mata atau misionaris, bangsawan ataukah saudagar. Perjalanan untuk bersenang – senang hanyalah mimpi kosong bagi rakyat jelata, yang masih harus berjuang keras mengisi perut atau bertahan hidup di tengah kemelut perang. Para hippies mengobrak – abrik semua asumsi itu. Perjalanan bukan lagi mimpi di siang bolong. Perjalanan kini adalah milik semua umat. Tidak ada lagi yang mustahil. Para hippies membuka mata, tentang surga – surga terpencil di sekujur dunia. Perjalanan itu bukan sekedar fantasi. Kebebasan itu adalah kebahagiaan sejati…” – Hal. 133 – 134.
“Dalam ajaran Tibet, perjalanan fisik itu sebenarnya adalah erjalanan kedalam hati, batas antara dunia alami dengan dunia spiritual itu sangat tipis. Dalai Lama pernah berkata, pusat semesta itu ada dalam diri kita masing – masing” – Hal. 94.
“Kalachakra, Roda waktu. Seperti halnya perjalanan hidup kita yang juga diiringi perjuangan untuk menghasilkan karya – karya besar dan berbagai pencapaian, tetapi semuanya tetap kembali lagi pada kekosongan. Kembali menjadi bulir pasir yang hampa” – Hal. 53
“Kau bilang perjalanan hanyalah bagi sang pemberani. Kau bilang perjalanan keliling dunia itu eksklusif bagi para lelaki gempal jagoan yang kuat melibas semua musuh. Namun bagiku, ujian pertama dalam perjalanan adalah pembuktian kesabaran” – Hal. 18.

*Ditulis random, dari halaman belakang – depan

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*