Recommended

Titik Nol 72: Visa Profesional

Seorang pedagang dari Srinagar di Kashmir, salah satu pendukung saya untuk terus tetap berjuang demi visa Pakistan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Seorang pedagang dari Srinagar di Kashmir, salah satu pendukung saya untuk terus tetap berjuang demi visa Pakistan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Permusuhan antara India dan Pakistan menyebabkan New Delhi sebagai salah satu tempat paling susah untuk memperoleh visa Pakistan.

Bagi sebagian besar orang India, pergi ke Pakistan hampir sama sekali mustahil. Demikian pula sebaliknya. Perseteruan kedua negara tetangga ini, yang dulu sama-sama di bawah pemerintahan British India, sudah diwarnai beberapa kali pertempuran dan perlombaan senjata nuklir. Walaupun demikian, kedutaan Pakistan selalu ramai dipenuhi orang-orang yang mencoba peruntungan untuk memperoleh izin masuk ke negeri itu.

Banyak di antara para pemohon visa ini adalah Muslim dari Kashmir. Tanah Kashmir terbelah dua. Sebagian di bawah kontrol India, sebagian sisanya di bawah Pakistan. Para pemohon visa ini umumnya punya sanak saudara di Kashmir-nya Pakistan yang menjadi sponsor visa. Tanpa undangan dari Pakistan, sulit sekali bagi seorang warga negara India bisa mendapat izin ke Pakistan.

Kalaupun mereka mendapat visa, bukan berarti mereka bisa berkeliaran bebas di Pakistan. Untuk warga India, Pakistan hanya memberikan city visa. Hanya kota-kota tertentu yang ditulis di atas visa yang boleh dikunjungi. Misalkan seorang India mendapat visa untuk Lahore, maka ia tak boleh ke Karachi. Hal yang sama juga diberlakukan oleh India kepada warga Pakistan.

Warga dari negara tetangga juga sering dianggap mata-mata atau orang yang harus selalu diawasi gerak-geriknya. Semua orang India yang datang ke Pakistan harus segera melaporkan diri ke polisi setempat dalam waktu 24 jam. Semua orang Pakistan yang masuk India juga kena peraturan yang sama.

Untuk melamar visa pun perlu serentetan prosedur yang panjang, birokrasi kusut dari kantor ke kantor, setumpuk berkas dokumen, ditambah lagi penantian dan perjuangan panjang di pelataran kantor Kedutaan. Banyak yang membawa matras, bantal, selimut, dan makanan seperti orang piknik. Dari pagi sampai siang pelataran ini mirip tanah perkemahan tanpa tenda.

Walaupun perjuangan memperoleh visa Pakistan sangat berat, tetapi orang India hanya membayar 15 Rupee saja, nyaris gratis. Sedangkan orang Indonesia harus membayar sampai 2.160 Rupee. Harga visa Pakistan sistemnya resiprokal, ditentukan berapa harga yang harus dibayar orang Pakistan untuk mendapatkan visa negara yang bersangkutan. Orang Amerika harus membayar paling mahal untuk visa Pakistan, 125 dolar, sama seperti harga visa Amerika untuk orang Pakistan.

Kalau kita memohon visa Pakistan dari luar negeri umumnya kita diminta membawa surat pengantar dari kedutaan. Surat pengantar ini biasanya hanya untuk syarat saja. Saya ingat cerita seorang backpacker dari Amerika Serikat yang juga diminta membawa surat pengantar dari kedutaannya di New Delhi. Pemerintah Amerika tidak menganjurkan warganya untuk pergi ke Pakistan. Si backpacker diberi surat penolakan. Bermodal nekad, backpacker itu membawa surat penolakan itu untuk melamar visa. Ia memang beruntung, petugas visa sama sekali tidak membaca surat itu. Esok harinya ia mendapat visa.

Sedangkan bagi saya, visa Pakistan dari New Delhi adalah pengalaman yang tak ingin saya ulangi lagi. Saat ini saya berbaris untuk mengambil visa, setelah paspor saya diinapkan semalam di Kedutaan. Tiga orang asing yang berbaris di depan saya, semuanya ditolak visanya.

Seorang Iran, lima tahun pernah belajar di Pakistan, mengurus visa transit untuk pulang ke negaranya. Ia tidak diberi visa dan diminta untuk melakukan wawancara langsung dengan konsul.

Berikutnya seorang Nigeria, bukan hanya ditolak visanya tetapi sampai dibentak. “Tak peduli apa pun alasannya, tidak ada visa Pakistan buat orang Nigeria dari New Delhi!!!” Paspornya distempel petugas visa “REFUSED!”, bukan hanya satu tetapi berkali-kali. Si orang Nigeria naik pitam. Petugas visa Pakistan dengan santai berkata, “tashrif le jao!”, yang arti harafiahnya, “Bawalah segala kehormatanmu pergi dari sini!”

Di belakangnya, seorang Kanada keturunan India, yang sudah berbekal surat pengantar dari kedutaannya dan permohonan visanya sudah diterima kemarin. Sore ini ia pun tak mendapat visa. Surat pengantar dari Kedutaan Kanada dinilai tidak memenuhi syarat dan si turis malang ini disuruh kembali lagi ke kedutaannya untuk minta surat yang lain.

Mulut saya komat-kamit membaca doa. Ketiga orang yang berbaris di depan saya semula adalah para pemohon yang penuh percaya diri. Sedangkan saya hanya berbekal fotokopi faks surat pengantar dari Beijing yang sudah lusuh dan kemarin harus berdebat sampai lemas lutut dengan petugas yang bernama Latif. Saya semakin gelisah.

How are you today, Sir?” sapa petugas visa itu ketika saya melongokkan kepala di depan loket. Ramah sekali.

“Alhamdulillah, Sahab, aap ki dua hai, berkat doa Anda.”

Si petugas tersenyum lebar, sambil menunjukkan visa Pakistan dalam paspor saya. Visa ini bentuknya kertas sederhana, hitam putih tanpa warna, ditempel begitu saja dalam paspor dengan lem berkualitas buruk. Semuanya ditulis tangan. Tertulis, jenis visa: PROFESSIONAL, masa berlaku: 3 bulan. Ini adalah perlakuan istimewa. Visa Pakistan tiga bulan dari New Delhi tidak diberikan sembarangan.

Shukriyah, terima kasih, Sahab, Shukriyah. Khoda Hafez. Tuhan memberkati!” saya langsung menciumi paspor saya sebagai wujud syukur yang teramat dalam.

Kisah saya memperoleh visa Pakistan juga menggembirakan kawan-kawan staf lokal di KBRI New Delhi. Tak banyak orang yang seberuntung saya.

Baru saja saya berjumpa dua orang Indonesia berjenggot lebat, berjubah putih, dengan penuh optimisme berkata hendak berangkat ke Pakistan untuk menghadiri acara Tabligh. Mereka sudah menunggu di KBRI selama berjam-jam, Bapak Diplomat bahkan sudah pulang diam-diam.

“Insya Allah, kami akan mendapat visa Pakistan,” kata pemuda berjenggot itu dengan nada yakin.

Saya tak tahu apakah mereka harus melewati lika-liku yang sama untuk mendapatkan secarik visa Pakistan. Saya tak peduli. Tubuh saya sudah terlalu lemas seminggu penuh bertempur demi mendapatkan visa ini.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 11 November 2008

1 Comment on Titik Nol 72: Visa Profesional

  1. Hi Agustinus,
    saya lagi berpikir utk trekking Himalaya bagian Pakistan. Ada teman trekking saya yg senang ke India dan ke sana maunya tiap tahun. Nah, nanti kalau dapet visa Pakistan, kira2 susah gk ya, dapet visa India? krn kalau kemungkinan ditolak, duh, teman saya jadi males ke Pakistan.
    Thanks, Dewi

Leave a comment

Your email address will not be published.


*