Recommended

Tarakbits 20 Oktober 2014: Mengungsi demi Merdeka

141020-png-tarakbits-pengungsi-opm-1Meninggalkan Tabubil, saya kembali bergerak ke selatan, menuju sebuah kamp pengungsi OPM yang konon tersembunyi di dalam hutan. Tidak banyak yang saya ketahui tentang kamp terpencil itu, kecuali tentang letaknya yang sangat dekat dengan perbatasan Indonesia. Untuk menuju Digo, saya kembali menyusuri jalan raya Tabubil—Kiunga ke arah selatan. Sekitar separuh perjalanan, saya mesti turun di Ningerum, yang dari sana konon kita bisa berjalan kaki delapan jam termasuk menyeberangi dua sungai untuk sampai desa Tarakbits, dan dari Tarakbits kita bisa berjalan kaki tiga jam untuk sampai ke Digo. Tampaknya tidak terlalu sulit, bukan?

Begitu saya sampai di Ningerum, saya mendengar ada perahu yang bisa langsung mencapai Tarakbits melalui jalur sungai. Perahu ini hanya berangkat siang hari, pada Senin, Rabu, dan Jumat, dengan bayaran 30 kina (Rp 150.000) per penumpang. Kebetulan hari ini Senin, dan kalau naik perahu saya bisa menghemat satu hari perjalanan (daripada harus jalan kaki 8 jam ditambah menyeberang dua sungai? No, thanks!). Karena itu, saya langsung menumpang bus lagi, bergerak 2 kilometer ke selatan, menuju tempat berlabuhnya perahu dari Tarakbits.

Untunglah perahu itu belum berangkat. Para penumpangnya kebanyakan adalah warga Tarakbits yang datang ke pasar Ningerum untuk berjualan dan berbelanja, lalu pulang pada hari yang sama. Perahu motor (dinghy) yang ditumpangi enam belas penumpang dan satu pengemudi ini berangkat pukul 14. Kami pertama mengikuti aliran sungai Ok Tedi yang keruh, lebar, dan deras ke arah selatan. Lalu sampai di persimpangan Sungai Ogou (Ok Au), kami mulai melawan arus. Sungai Ogou ini airnya hijau zamrud berkilau, airnya tenang, dan hutan rimba begitu pekat di dua sisinya. Jangan-jangan dalam air yang tenang ini banyak buaya? Saya langsung menarik tangan saya jauh-jauh dari tepi perahu. Pengemudi tertawa. Jangankan buaya, ikan pun tak ada, katanya. Walaupun bukan anak sungai Ok Tedi, air sungai ini juga tak bisa diminum karena sudah tercemar racun pertambangan. Dari Ogou, perahu masuk ke percabangan yang lebih sempit dan lebih jernih lagi. Kami melawan arus sungai Ok Berim. Tapi nyaris tidak ada arus, bahkan air pun sangat kurang. Berulang kali pengemudi menyuruh semua penumpang turun untuk berjalan kaki menyusuri sungai berbatu-batu besar ini, sementara dia menarik perahu dengan tangan. Parahnya, kami melakukan perjalanan ini di bawah guyuran hujan. Dan langit pun mulai menggelap.

141020-png-tarakbits-pengungsi-opm-2

Perahu tiba Tarakbits sekitar pukul 15.30. Saya tidak kenal siapa-siapa di desa ini. Saya hanya tahu nama pastor Gereja Katolik di sini (yang saya harap bisa menampung saya). Pengemudi perahu menggandeng saya turun dari perahu, lalu mendaki bukit terjal bersimbah lumpur di bawah guyuran hujan (saya terpeleset berkali-kali), lalu turun, lalu naik lagi, sampai kami tiba di dataran lapang luas. Setelah menanyai beberapa orang, kami baru tahu ternyata pastor sedang tidak berada di desa. Di bawah gerimis, pengemudi itu menyuruh saya menunggu di bawah pohon, sedangkan dia berlari ke rumah kepala sekolah.

Beberapa menit kemudian, dia keluar bersama kepala sekolah. Lelaki itu tinggi dan besar, sangat menonjol dibandingkan kebanyakan orang Ningerum dan Tarakbits yang pendek-pendek (pengemudi perahu hanya setinggi telinga saya, padahal saya sudah termasuk pendek untuk standar lelaki Indonesia). Pengemudi berbicara bahasa Inggris kepada kepala sekolah, memberi kode minta bayaran telah mengantar saya sampai ke sini. Kepala sekolah itu langsung memotongnya, “Jangan sampai aku lihat kamu melakukan hal-hal bodoh seperti ini lagi di sini!”

Lelaki itu menyuruh saya mengikutinya, sambil menggerutu, “Orang-orang sini memang otak mereka lain, pikirannya lain. Mereka cuma pikir buat cari untung.”

Dia berasal dari Sepik, di bagian utara Papua Nugini. Stanies Angoro namanya, dan kebetulan pernah bertugas di tempat-tempat yang pernah saya kunjungi dalam perjalanan ini. Sebelum bertugas di Tarakbits, dia pernah bertugas di Kuem, dan kenal sangat baik dengan Elisa si tukang perahu yang pernah mengantar saya ke perbatasan Indonesia (“a nice old man,” kenang Stanies). Satu anaknya lahir di Kuem, dan karena Kuem terletak di tepi sungai Agu, maka anaknya itu dia beri nama Agu.

Sebelum di Kuem, Stanies juga pernah bertugas setahun di Finalbin, desa yang dihuni para “tuan tanah” tambang emas Ok Tedi. Di tahun 1999 itu dia datang, dia terkejut melihat ruang kelas di sana. “Aku sempat mengira itu bukan kelas, melainkan kandang ayam!” kenangnya. Di desa yang seharusnya dihuni orang-orang kaya itu, tidak ada kamar untuk Stanies tinggal, sehingga selama setahun bertugas di sana, Stanies cuma tidur di kantin. “Sebenarnya orang Finalbin pada tahun 1984 sudah mulai membuka hutan untuk berladang, tetapi di tahun yang sama pertambangan dimulai dan mereka terus dapat uang dari perusahaan tambang, sehingga mereka lupa segalanya. Sekarang, mereka terlalu malas. Kalau orangtua tidak memberi uang, anaknya tidak mau sekolah,” katanya.

Stanies membawa saya ke rumah panggung yang terbuat dari bilah-bilah kayu, dan hanya berisi tungku untuk memasak. Ini adalah bangunan khusus dapur. Bangsa Ningerum memiliki tradisi yaitu membangun tungku lebih rendah daripada lantai—yang sangat berbahaya karena banyak anak kecil yang terjatuh ke dalam tungku yang membara. Istrinya sedang memasak nasi, mi instan, sayuran, dan ubi goreng untuk saya. Stanies semula sangat mewaspadai saya. Pertama dia meminta saya memperkenalkan diri sedetail-detailnya. “Ini daerah perbatasan sensitif, dan kami tidak pernah kedatangan pengunjung seperti kamu sebelumnya,” katanya. Lalu setelah yakin saya bukan ancaman, dia menyambut saya seperti seorang sahabat.

Stanies Angoro

Stanies Angoro

Juna, istri Stanies, adalah perempuan dari Bolavip, sebuah desa pedalaman di Pegunungan Bintang di utara sana. Karena bahasa yang berbeda, dia berbicara bahasa Inggris atau Inggris Rusak (Tok Pisin) dengan suami dan anak-anaknya. Dia bercerita, “Semua kami di sini takut pada perbatasan. Ketika tentara negara kami datang ke sini untuk berpatroli pun kami takut. Mungkin karena tentara Papua Nugini itu gemuk-gemuk, besar, pendek, jadi tak bisa jalan. Waktu mereka tiba di patok perbatasan di Ingambit, mereka kelelahan sampai tidak bisa jalan lagi, sehingga mereka suruh penduduk untuk menjemput mereka pakai perahu motor. Kalau ketemu tentara Indonesia yang lagi patroli, kami lebih takut lagi, takut mereka akan tembak kami.” Juna bicara sambil tertawa meledak-ledak.

Stanies justru punya pengalaman berbeda dengan tentara Indonesia. Suatu hari, dari Kuem dia ikut perahu pergi ke pasar Indonesia di Asiki. Tentara Indonesia mendengar bahwa ada guru yang datang, dan mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Stanies adalah orangnya, karena Stanies memakai baju yang sangat santai. Begitu dia menunjukkan kartu identitasnya, para tentara itu membungkuk memberi hormat. “Saya sangat terkejut dengan perilaku tentara Indonesia pada saya. Di Papua Nugini, tidak ada tentara yang memperlakukan guru seperti itu,” katanya.

Stanies berjanji membantu saya untuk mencarikan orang yang bisa menemani saya ke Digo. Di sekolah tempat dia mengajar banyak murid dari desa pedalaman, siapa tahu ada yang mau pulang kampung sehingga saya bisa berjalan bersama. Dia meyakinkan saya, bahwa perjalanan ke Digo tidaklah semudah yang saya sangka.

Keesokan harinya, hujan deras mengguyur dari pagi, dan tidak berhenti hingga siang. Saya masih belum bisa meninggalkan Tarakbits. Seorang guru mendengar kedatangan saya di desa ini. Dia menyuruh murid-muridnya menjemput saya dari rumah Stanies. Lalu dia meliburkan murid-muridnya dari pelajaran, dengan alasan dia kedatangan tamu istimewa—yaitu saya. Kami lalu berjalan bersama kembali ke rumah Stanies, duduk di beranda, memandangi hujan yang deras, dan berbincang tentang masa lalu.

Guru itu bernama Ludwig Rumparmpam. Seorang pengungsi OPM.

Banyak anak pengungsi OPM yang belajar di sekolah Papua Nugini

Banyak anak pengungsi OPM yang belajar di sekolah Papua Nugini

Ketika Stanies terkesima pada kesopanan tentara Indonesia, impresi Ludwig tentang Indonesia tentu bertolak belakang. Ludwig lahir di Biak tahun 1960. Pada tahun 1984 dia ikut gelombang massal pengungsi dari Papua Barat (Irian Jaya) ke Papua Nugini, melalui Wutung di dekat Jayapura. Para pengungsi ini terkait dengan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang memperjuangkan kemerdekaan Papua dari Indonesia. Selama enam tahun pertama pengungsiannya, dia juga tinggal di dalam kamp di hutan-hutan Papua Nugini. Pada tahun 1990 dia masuk ke kamp pengungsi resmi di Iowara, dan sekarang sedang mengajukan permohonan untuk menjadi warga negara Papua Nugini. Dia sudah tiga tahun tinggal di Tarakbits.

Sekitar dua puluh dari muridnya adalah anak-anak pengungsi OPM, yang masih tinggal di kamp pengungsi Digo, di dalam hutan. Semula, para pengungsi itu tinggal di Tarakbits, tetapi kemudian ada konflik dengan para “tuan tanah” Tarakbits, mereka akhirnya mundur ke hutan. Tetapi para pengungsi itu masih diizinkan mendapat akses kesehatan dan pendidikan di sini.

“Bagi kami, itulah perjuangan,” kata Ludwig, yang hanya berbicara dalam bahasa Inggris dengan saya, bukan Melayu, “Tidak peduli semenderita apa pun hidup kami, kami akan terus melakukan perjuangan ini.”

Sumber inspirasi Ludwig adalah Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela, semuanya berjuang untuk mencapai cita-cita kemerdekaan melawan penjajahan dengan cara damai.

“Perjuangan OPM pun tergantung pada latar belakang pendidikan para pemimpinnya,” jelas Ludwig, “Sebelumnya para pemimpin OPM itu hanya ada di dalam hutan, tetapi sekarang mereka ada di mana-mana: para pemuda di pasar, para pekerja di kantor, semua orang bicara tentang kemerdekaan seperti jamur di musim hujan. Kami tidak bisa melupakan alasan kami, tetapi kami juga harus mendidik orang-orang kami untuk bisa meneruskan gerakan ini.”

Di Papua Nugini, tantangan mereka bertambah. Belakangan ini pemerintah Papua Nugini berubah haluan politik, dan mendukung kekuasaan Indonesia atas Papua. “Di Papua Nugini, kami tidak boleh lagi mengekspresikan pendapat kami tentang gerakan ini. Kami tidak boleh menulis tentang ini di surat kabar. Orang Indonesia sekarang ada di mana-mana, jadi semuanya semakin sulit buat kami. Beberapa orang Papua Nugini juga menyokong Indonesia karena mereka menerima suap. Tetapi kami tidak memandang ini sebagai kesulitan yang menghentikan kami. Ini adalah ideologi, jadi kami tidak bisa dihentikan. Kami terus berjuang demi hak-hak kami.”

Ludwig Rumparmpam, seorang pejuang OPM yang kini menjadi guru.

Ludwig Rumparmpam, seorang pejuang OPM yang kini menjadi guru.

Masalah utama dengan para pengungsi ini adalah, mereka sudah tinggal selama 30 tahun di Papua Nugini. Konflik tanah dengan para pemilik tanah di Papua Nugini semakin memanas, dan banyak orang-orang Papua Nugini di perbatasan yang ingin para pengungsi ini segera pulang ke Indonesia. Sebaliknya, bagi Ludwig, justru para pengungsi harus tetap bertahan tinggal di Papua Nugini.

“Kami tidak menduduki tanah mereka. Itu orang Indonesia yang menduduki tanah kami sehingga kami kehilangan tanah air. Justru merekalah yang harus pergi dari Papua, baru kami bisa pulang,” kata Ludwig tegas.

Dari Ludwig saya mendengar, bahwa pengungsian ini ternyata bukan semata-mata melarikan diri dari kesulitan. Ini bukan seperti pengungsi bencana atau pengungsi perang. Pengungsian ini adalah sesuatu yang telah direncanakan.

“Pengungsi adalah kasus besar yang ingin dimunculkan OPM kepada dunia. Kami tidak datang ke sini karena kemauan kami sendiri. Ini adalah sebuah program. Ini dimobilisasi. Pada tahun 1984, ada program untuk memobilisasi pengungsi dari Papua Barat ke Papua Nugini, sehingga dunia membuka mata terhadap apa yang terjadi di tanah air kami. Tetapi Indonesia menyebut bahwa kami ini tidak lebih dari sekadar pelintas batas ilegal, untuk meremehkan kami,” kata Ludwig. Dia kemudian melontarkan ludah jauh-jauh keluar beranda.

Pada tahun 1984, terjadi pembunuhan terhadap Arnold Ap. Dia adalah seorang antropolog Universitas Cendrawasih (Uncen) yang diculik, dibunuh, dan jenazahnya dibuang di tepian pantai Jayapura. Selama ini saya mengira, gerakan pengungsian ini, terutama gelombang pengungsi yang melewati jalur utara melewati Jayapura dan perbatasan Skouw—Wutung, berkaitan dengan kematian Arnold Ap. Tetapi Ludwig punya cerita lain.

“Pembunuhan Arnold Ap justru karena inteligen Indonesia sudah mengendus rencana kami. Kami sudah merencanakan melancarkan kudeta, dan jika tidak berhasil maka kami akan menggerakkan pengungsian besar-besaran ke Papua Nugini. Saya waktu itu adalah anggota resimen Mahachandra dan kami sudah merencanakan untuk mengambil alih Jayapura.”

Indonesia mendidik mereka menjadi anggota resimen, membekali mereka dengan teknik tempur, tapi kemudian mereka justru menggunakan ini untuk melawan Indonesia?

“Resimen mahasiswa itu adalah kegiatan wajib bagi mahasiswa Uncen saat itu, dan kami menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kami membentuk gerakan bawah tanah tentara anak-anak Papua, pada Februari 1984. Ketika mereka (tentara Indonesia) mengendus rencana kami, mereka mengejar para mahasiswa sampai ke asrama. Dan ketika informasi bocor, mereka mulai mengejar warga biasa.”

Dari situlah, gelombang pengungsian dimulai. Orang-orang yang pertama mengungsi melintasi garis batas di timur adalah orang-orang terpelajar: pegawai negeri, dosen universitas, mahasiswa.

“Pada awalnya, tentara Indonesia mengincar para mahasiswa, sehingga kami tidak menyelundup malam hari karena banyak patroli polisi. Kami naik mobil Kijang waktu subuh, saya berakting sangat percaya diri seperti penumpang normal. Saat tiba di daerah perbatasan Skouw, mereka menginterogasi saya, sehingga saya tunjukkan kartu Resimen Mahasiswa saya dan bilang, ‘Mau ke Papua Nugini jalan-jalan tiga hari.’ Mereka izinkan saya lewat.”

Perjalanan belum selesai. Pos terakhir yang harus mereka lalui adalah Sungai Tami. Tentara berpatroli hingga ke pantai, dan akan kembali ke pos di pagi hari. Rombongan para pengungsi ini tiba pada waktu yang sudah diperhitungkan matang. Begitu para tentara meninggalkan Sungai Tami, mereka langsung menyelinap menyeberangi sungai, hingga akhirnya mereka berhasil menembus batas Papua Nugini.

Pengungsi West Papua di tengah hutan yang menjadi garis batas Indonesia dan Papua Nugini

Pengungsi West Papua di tengah hutan yang menjadi garis batas Indonesia dan Papua Nugini

“Ini adalah perjalanan berbahaya, tetapi saya tidak takut. Orang-orang juga membantu kami dengan memberi peta sampai kami tiba di Papua Nugini. Saat itu sangat ketat, tidak ada jalan yang menghubungkan kedua negara, dan hanya penduduk lokal yang boleh menyeberang. Kalau mereka tangkap kami, kami bisa ditembak,” kenang Ludwig.

Banyak dari puluhan ribu pengungsi Papua ke Papua Nugini pada tahun 1984 itu yang mati di tengah perjalanan. Mereka berjalan berhari-hari di dalam hutan rimba, bisa mati karena sakit dan tidak ada makanan, bisa pula mati karena bertemu dengan tentara Indonesia.

“Para pengungsi yang orang biasa mungkin tidak mengerti semua ini,” kata Ludwig, “tetapi orang-orang terpelajar seperti kami ini yang tahu betul, bahwa pengungsian ini adalah bagian program perjuangan gerakan kemerdekaan kami.”

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*