Recommended

[IDSB] Undangan Misterius

Juli 2017, saya menerima sebuah email misterius. Pengirimnya adalah Kementerian Luar Negeri Pemerintah Nasional Republik Papua Barat (NGRWP). Dalam bahasa Indonesia ejaan lama, pengirim email itu menanggapi satu tulisan saya tentang seorang aktivis gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang saya temui di Papua Nugini.

Pak Wibowo,

Pengiriman email ini pertama sebagai perkenal sadja dengan mana saja perlu sampaikan bahwa ikut mengambil perhatian dari interview Pak dengan John A. Wakum.

John, saja kenal baik. Saja ingat bahwa bersama dengan John A. Wakum keluarganja termasuk 100-san para pelarian pengungsi politik dari 1984, bertempat di Vanimo dan dengan rombongan John, kami masuk ke Kiunga  di tahun 1989. Tentu Pak sudah dengar bahwa sepandjang perbatasan itu ada beberapa tempat jang menerima rakjat Papua warga negara Indonesia jang melintasi perbatasan dan achirnja masuk ke PNG.

Kalau sadja Pak berentjana ke Europa dan bila datang di Den Haag, silakan menghubungi saja sesuai alamat di website, sbb: www.ngrwp.org

Salam jang patut dari saja,

Simon P. Sapioper

Email itu seketika melemparkan memori saya ke tengah hutan rimba pedalaman Papua Nugini di tahun 2014, ketika saya menyusuri garis perbatasan RI-PNG demi memahami makna Indonesia dari seberang garis batasnya. Dalam perjalanan berat itu, saya baru menemukan ternyata banyak pengungsi dari Papua Indonesia yang bermukim di Papua Nugini, baik secara legal maupun ilegal. Saya juga sempat berbincang dengan sejumlah aktivis gerakan OPM, termasuk John Wakum yang disebutkan oleh pengirim email ini (baca artikel Benderamu Menghalangi Matahariku).

Para pengungsi Papua itu telah tinggal lebih dari 30 tahun di Papua Nugini, namun kita di Indonesia tidak banyak mendengar tentang mereka. Saat berada di sana, begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya. Bagaimana pengungsian akbar ini berlangsung dan apa sebabnya? Siapa yang menggerakkan mereka? Siapa pula yang memerintahkan mereka untuk terus berjuang begitu lama di daerah perbatasan itu? Apa masa depan dari perjuangan ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab dalam perjalanan saya di lapangan. Saya tahu, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, saya perlu berbincang langsung dengan parah tokoh pemimpin gerakan OPM di luar negeri. Saya dengar, banyak mereka bermukim di Belanda.

Email dari “Pemerintah Nasional Republik Papua Barat” ini seketika membuat perasaan saya bergejolak. Betapa ingin saya bisa berangkat ke sana. Betapa saya yakin, pertanyaan-pertanyaan saya akan mendapat titik terang di sana.

Tapi ini sungguh saat yang paling tidak tepat bagi saya secara finansial. Keuangan saya sedang kering habis-habisan, karena di bulan ini saya baru membeli rumah di Jakarta. Selain itu, seperti pernah dikatakan Elizabeth Pisani, penulis perjalanan Inggris sahabat saya, “Menjadi penulis perjalanan itu adalah cara paling terhormat untuk menjadi melarat.” Setiap perjalanan dan riset ini membutuhkan biaya yang sangat besar, dan tidak ada seorang pun yang bisa menjamin kita akan balik modal dari pemasukan hasil tulisan.

Tapi, terkadang jalan akan terbentang sendiri di depan mata kita tanpa pernah kita duga.

Berselang dua bulan, di September 2017, tidak sengaja saya menemukan informasi di sebuah website tentang program residensi bagi penulis Indonesia. Ini adalah program beasiswa dari Komite Buku Nasional dan Kemendikbud untuk penulis yang ingin menyelesaikan karya tulisan dengan tinggal menetap sementara di negara lain selama satu hingga tiga bulan. Penerima program akan mendapat berbagai bantuan, termasuk transportasi, akomodasi, dan biaya hidup selama berada di negara tujuan.

Sungguh program yang menarik, dan benar-benar saya butuhkan. Tapi, karena ini adalah dana dari pemerintah Indonesia, rasanya mustahil saya akan bisa mendapatkannya apabila saya mengatakan bahwa tujuan saya ke Belanda adalah demi bertemu dengan tokoh-tokoh OPM. Karena itu, dalam proposal saya menulis tujuan riset saya adalah untuk mempelajari “Nasionalisme Diaspora Indonesia di Belanda”.

Saya tidak berbohong dalam hal ini. Gerakan kemerdekaan ataupun separatisme memang merupakan bagian penting dari diskusi tentang nasionalisme. Para tokoh gerakan di luar negeri itu pun termasuk kaum diaspora Indonesia. Jadi tidak ada yang salah dengan usulan topik saya itu, walaupun saya tidak mengatakan tujuan saya sebenarnya secara terang-terangan. 😊

Namun misi saya memang bukan hanya soal gerakan OPM. Selain di daerah perbatasan RI-PNG, saya juga telah melakukan sejumlah perjalanan riset keliling Nusantara untuk mempelajari makna nasionalisme Indonesia. Saya sempat pergi ke Toraja, untuk mengamati bagaimana agama lokal berkembang dan memengaruhi kehidupan masyarakat. Saya juga telah pergi ke Aceh untuk mempelajari hubungan antara pakaian, Syariat Islam, sejarah konflik, dan politik di provinsi ujung barat Indonesia itu.

Dalam perjalanan-perjalanan ini, selalu tersisa beberapa keping misteri yang tidak berhasil saya temukan jawabannya di lokasi. Saya tahu, untuk menyingkap kepingan misteri itu, yang semuanya berhubungan dengan sejarah, saya perlu pergi ke Belanda. Bagaimanapun juga, kita tidak akan bisa mengabaikan Belanda untuk memahami Indonesia. Itu karena negara ini, bangsa ini, tercipta dari puing-puing penjajahan Belanda.

Semua argumen itu saya cantumkan dalam proposal saya. Sungguh tidak saya duga, dalam waktu kurang dari seminggu sejak saya mengajukan proposal, saya mendapat kabar bahwa saya lolos seleksi. Saya terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penulis yang akan mengikuti program residensi penulis gelombang pertama ini.

Berkat surat-surat dan dokumen dari pemerintah Indonesia, urusan visa Eropa yang biasanya ribet menjadi sangat mulus. Hanya dalam dua hari, saya mendapatkan visa Belanda dengan masa berlaku satu tahun. Saya menggunakan waktu dua minggu sebelum keberangkatan untuk mengebut belajar bahasa Belanda dasar, melahap buku-buku tentang sejarah Belanda dan kolonialisme Indonesia, juga mengais-ngais pakaian musim dingin yang sudah lama tersembunyi di sudut lemari.

Sebentar lagi, petualangan baru akan segera dimulai.   

Oktober 2017

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*