Recommended

Hidup (2008): Agustinus Wibowo, Menyusuri Negeri Tak Dikenal

27 Juli 2008

 

HIDUP

 

                  0807-Hidup-interview-menyusuri-negeri-tak-dikenal1       

 

Agustinus Wibowo

Menyusuri Negeri Tak Dikenal

 

“Hidup adalah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini akan berakhir,” tulis Agustinus Wibowo lewat surat elektronik.

 

 SUDAH tiga tahun, Agus melakukan perjalanan tanpa jeda. la melintasi Asia Selatan dan Tengah melalui jalur darat. Agus memang sedang melakukan misi pribadi berkeliling Asia. Perjalanannya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, Cina, 31 Juli 2005. la menuju Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, dan menembus Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali ke Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan, dan Turkmenistan. la menempuh perjalanan itu dengan berbagai ragam alat transportasi, seperti kereta api, bus, truk, kuda, keledai, bahkan berjalan kaki. Agus memang menghindari perjalanan dengan pesawat. “Perjalanan udara menghalangi saya menyerap saripati tempat yang saya lalui,” ujarnya dalam perbincangan lewat internet, beberapa waktu lalu. la ingin menyatu dengan budaya, menjalin persahabatan. mencecap kehidupan masyarakat yang dikunjunginya.

 

Agus memulai perjalanan berbekal 2.000 dolar AS. hasil tabungan saat ia kuliah di Universitas Tshinghua Beijing, Cina. Ketika bekal habis, ia menetap sementara di suatu tempat, la bekerja apa saja untuk mendapat bekal dan bertahan hidup. Bekal terkumpul, Agus pun melanjutkan petualangan. “Untung saya hobi fotografi dan menulis. Saya menulis dan menjual foto-foto saya ke beberapa media di Cina, Singapura, dan Indonesia,” tuturnya.

 

Menjadi turis

 

Agus lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981 sebagai anak sulung dari pasangan Chandra Wibowo dan Widyawati. Usai belajar di SMA 2 Lumajang. Agus meneruskan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Ia hanya melalui satu semester di ITS. la memutuskan pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua Beijing, Cina.

 

Sejak kecil, ia memang hobi jalan-jalan. Ia sudah menyimpan harapan untuk berkelana ke negeri-negeri jauh. Sewaktu masih SD, gurunya pernah bertanya tentang cita-citanya. Dengan polos, ia menjawab ingin jadi turis. Gurunya berkata, kalau turis itu bukan pekerjaan. bukan cita-cita. Tapi. Agus terus menyimpan mimpi masa kecilnya itu.

 

Pertama kali, ia pergi ke Mongolia tahun 2002. Ia sangat mengagumi kebesaran alam, gurun pasir, padang rumput, dan danau ciptaan-Nya. Tahun 2003, Agus melawat ke Afghanistan, yang baru saja bangkit dari perang. Pikirannya berkecamuk. “Betapa banyak manusia di muka bumi ini yang luput dari perhatian kita,” pikirnya. Tahun 2005. ia mengunjungi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), selepas tsunami. “Saya menyadari betapa mulia tugas wartawan yang mengabarkan kisah-kisah di daerah yang sebagian besar orang tak dapat melihat langsung. Saat itulah saya memutuskan untuk menjadi wartawan dan fotografer,” ceritanya. Cita-cita itu pun terwujud, setelah ia lulus kuliah pada pertengahan 2005.

 

la telah mewujudkan mimpinya menjadi turis. Perubahan itu dimulai tahun 2002 Ketika seorang teman menantangnya bertualang ke Mongolia. Agus juga sangat terinspirasi oleh perempuan asal Jepang, yang pernah berkeliling Asia Tenggara selama enam bulan, la sangat kagum, ketika perempuan Jepang itu bercerita tentang perjalanannya.

 

0807-Hidup-interview-menyusuri-negeri-tak-dikenal2

Dipukuli

 

Sejak itu. tak ada yang dapat menghentikan langkah Agus. “Makin sering saya bertualang, makin dalam keingintahuan saya tentang hal-hal bani di dunia ini. Dunia ini tidak seluas daun kelor. Ada banyak kehidupan dengan berbagai kebajikan lain di luar sana.” jelas pria muda yang telah menguasai bahasa Hindi, Urdu, Farsi, Rusia, Tajik, Kirghiz, Uzbek, Turki, Arab, Armenia, dan Georgia.

 

Agus memang suka belajar bahasa asing. Biasanya ia membeli buku pelajaran bahasa asing sebelum masuk ke negara yang dituju. Menguasai bahasa asing sangat membantu perjalanannya. Misalnya, ketika ia berjumpa Maois. para pengikut pemikiran Mao Zedong yang berhaluan komunis di Nepal. Karena dapat berbahasa Hindi. ia tidak dimintai uang. “Malah dianggap teman yang mendukung perjuangan mereka.” ceritanya.

 

Namun, kemampuan menguasai beragam bahasa pernah membuatnya hampir celaka. Ketika di Afghanistan, polisi setempat mencurigai Agus sebagai seorang teroris dari Pakistan. Tanpa sebab-musabab, sepasukan polisi memukulinya dengan geram. Agus marah. Ia berteriak dan memaki. Tapi. yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Urdu. bahasa nasional Pakistan. “Harusnya saya berbahasa Inggris, tapi waktu itu spontan yang keluar bahasa Urdu,” ujarnya.

 

Tak hanya sekali Agus mengalami kejadian naas. Seorang pengembara mau tidak mau harus berteman dengan marabahaya. Berulangkah ia ditangkap polisi, ditahan agen rahasia, dipukul preman, dirampok, dan berakrab dengan perut lapar. Agus pun pernah putus asa lantaran kameranya rusak dan uang bekalnya dicuri orang. Pernah juga ia menginap di rumah pelaku kriminal. Ia pun pernah menyelundup melintasi perbatasan Uzbekistan dan Kyrgyzstan, dua negara di Asia Tengah. Batas antarnegara sengaja dibuat kacau sehingga ketika dua negara ini merdeka, mereka tak dapat lepas dari konflik dan sengketa. “Di perbatasan, ada rumah yang dapurnya di Kyrgyzstan. sementara kamar tidurnya di Uzbekistan,” ujarnya.

 

Seni mengembara

 

Melihat sepak terjang Agus, orangtuanya tentu sering khawatir. Masih jelas dalam ingatannya, ketika ia hendak ke Mongolia pada tahun 2002. Setelah tiga minggu di Mongolia. Agus menelepon ke rumah dan ibunya menjerit saat mendengar suaranya. Begitu pula saat ia pergi secara diam-diam ke Afghanistan. Sekembali dari Afghanistan, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Namun, kini semua sudah berubah. “Ayah saya pernah berkata, kamu sudah besar, sudah bisa menimbang sendiri baik buruknya. Kami hanya mengarahkan. tapi kamu sendiri yang memutuskan,” tiru Agus. Orangtuanya pun telah percaya akan pilihan Agus dan mendukungnya.

 

Bagi Agus, petualangannya bukan sekadar menikmati kemolekan pantai, kesegaran pegunungan atau kemewahan hotel berbintang. Bagian terbaik dari perjalanan. menurutnya, adalah ketika ia menemukan apa yang disebutnya sebagai ‘seni mengembara’. “Ketika kita tidak lagi menjadi diri sendiri, ketika kita kehilangan identitas kita. masa lalu kita. ikatan norma masyarakat yang selama ini mengikat kita. dan pada akhirnya lepas dari jerat yang selama ini memasung kita. Kita menjadi terbuka pada kehidupan dan menerima apa yang diajarkan kehidupan pada kita. Ketika sampai pada titik ini. kita akan melihat dunia dengan mata hati yang baru,” tuturnya.

 

“Bahkan di lekukan gunung Afghanistan dan padang pasir Pakistan, ada kebijaksanaan mahatinggi dari orang-orang pedalaman yang terlupakan oleh dunia,” tambah Agus.

 

Agus masih di jalan, entah sampai kapan, la menyimpan cita-cita. Ia ingin melihat negeri yang ‘ada namun tiada’ di Afrika, melintasi Kaukasus. Eropa Timur hingga Timur Tengah. Di bagian bumi ini. ada negeri-negeri yang hampir tak pernah terdengar. Abkhazia, Transdniestr, Ossetia, Nagomo Karabakh.

 

Hidup memang perjalanan. Tujuan bukan yang utama. “Tapi lika-liku menjalaninya yang paling penting. Perjuangan menuju kebahagiaan tidak mudah. Harus melewati berbagai tahap, kesenangan duniawi, kesusahan, kesadaran, pelepasan, pencerahan. hingga akhirnya menyadari bahwa segala sesuatu itu begitu sederhana,” pungkasnya.

 

Y. Prayogo

 

Biodata

 

Nama             : Agustinus Wibowo

 

Tempat lahir : Lumajang

 

Tanggal lahir : 8 Agustus 1981

 

Nama orang tua: Chandra Wibowo

 

                               Widyawati

 

                              Anak pertama dari dua bersaudara

 

Pendidikan

 

– SMA Negeri 2 Lumajang

 

– Kuliah di Jurusan Informatika Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS)

 

– Strata-1 Computer Science and Engineering dari Tsinghua University Beijing, China.

 

Pekerjaan :

 

– Penulis lepas dan kontributor untuk berbagai media di Indonesia, Cina. Singapura, dan Thailand.

 

– Redaktur foto di Pajhwok Afghan News, Kabul, Afghanistan.

 

 

 

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

3 Comments on Hidup (2008): Agustinus Wibowo, Menyusuri Negeri Tak Dikenal

  1. Gus, gw doakan biar cepet2 bisa ngumpulin duit
    , supaya bisa travelling lg. I am your fans di Kompas,

    God Bless You

  2. Semoga selamat sampai selesai perjalanan nanti.
    Paling tidak aku bisa mengikuti ceritamu, nggak harus datang sendiri ke tempat2 yang kamu sebutkan

  3. Sudah 2 tahun berlalu… seśaat saya kembali mengingat sosok yang saya kagumi. “Ah, ternyata saya punya kartu namanya!”… betapa keingintahuanku mengenal lagi sosok itu, memaksaku untuk beranjak dari pembaringanku menuju smartpone yang bisa google..”ah, ada websitenya, searching ah”…. tepat saja, aku menemukan kembali sosok aku kagumi. Betapa senangnya….
    Sosok itu adalah si penulis “garis batas dan selimut debu”.. aku begitu mengagumi kisah2 petualangannya yang membuatku ingin seperti sosoknya, memiliki keberanian untuk ke” negeri lain” yang asing bagiku… tapi seketika aku selalu terbentur dengan rasa ketakutan berlebihan, kecemasan, yang mengalahkan segala egoku… sampai saat ini aku bertanya pada diriku apa aku bisa seperti dia?? Dan keingintahuanku apakah dia mempunyai rasa ketakutan dan kecemasan seperti yang saya rasakan saat ingin memulai suatu petualang ataukah begitu tangguhnya hingga dia mampu mengalahkan rasa ketakutan seperti yang saya rasakan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*