Recommended

Daru 21 Agustus 2014: Wantok

Di pelabuhan Daru, para nelayan pun mengelompok sesuai daerah asal dan bahasa masing-masing (AGUSTINUS WIBOWO)

Di pelabuhan Daru, para nelayan pun mengelompok sesuai daerah asal dan bahasa masing-masing (AGUSTINUS WIBOWO)

Daru, dikenal sebagai “ibukota ikan kakap” adalah pulau berbentuk seperti anak ayam. Di bagian timur adalah mulut lancipnya, berupa pelabuhan yang selalu penuh perahu dari desa-desa sepanjang daratan utama dan daerah Sungai Fly, yang menyuapi Daru dengan beragam jenis ikan, sagu, udang sayuran. Di sini pula terletak toko-toko besar dan hotel, yang semuanya dimiliki orang dari China Daratan, menjual beras, berbagai makanan instan dan kalengan, bumbu, pakaian. Menyusuri jalan utama ini dari timur ke barat, kita akan melintasi bandara, dan dari sana kita akan berbelok ke selatan, menuju “anus” Daru: tempat sampah-sampah dibuang, pelabuhan yang sudah mati dengan kapal-kapal berkarat, juga daerah corner—permukiman penduduk pendatang yang dipercaya sebagai tempat tinggalnya para raskol.

Salah satu supermarket di dekat pelabuhan adalah milik sebuah keluarga China. Keluarga besar bermarga Yan dari Fujian, satu kampung halaman dengan leluhur saya. Hampir semua barang di supermarket ini adalah produk impor. Kasir dan pegawai adalah orang lokal, sedangkan para orang China duduk di atas kursi tinggi di belakang kasir.

“Apa yang kalian lihat dari ketinggian sana?” saya bertanya dalam bahasa Mandarin.

“Di negara ini terlalu banyak pencuri,” kata lelaki muda itu.

“Setiap hari ada?”

“Setiap hari ada! Bukan hanya pembeli, kasir pun kalau tidak diawasi bisa mencuri!”

Dia bertanya saya dari mana, lalu merasa senang karena leluhur saya berasal dari kampung mereka karena itu berarti kita “saudara”. Dia kemudian berkomentar betapa anehnya saya datang berwisata ke negara ini padahal Jakarta jauh lebih baik. Dia sendiri pernah dua tahun di Jakarta, bersama orang-orang China Daratan lain berdagang di daerah Asemka, kawasan pecinan di Kota Tua. Jakarta, menurutnya, jauh lebih modern dan aman, tetapi karena orang China terlalu banyak di sana bikin persaingan jadi susah. Di pedalaman Papua Nugini ini justru lebih mudah cari duit. Dia sudah tiga tahun tinggal di Daru, selain di dalam toko ini tak pernah ke mana-mana lagi.

Apakah tidak bosan, saya bertanya.

“Namanya orang merantau, yang penting sukses. Menderita itu tidak terhindarkan. Apalagi ini negara bahaya, paling aman ya di dalam toko.”

Kata-katanya mengingatkan saya pada perjalanan leluhur saya sendiri. Berasal dari desa miskin penghasil teh di pegunungan Fujian, kakek buyut saya berangkat menyeberangi lautan, memulai hidup di kota Batavia sebagai pedagang kacang di jalan. Hubungan kekerabatan di antara sesama perantau itu penting, dan kita lihat bagaimana orang-orang Tionghoa di berbagai negeri Asia Tenggara bekerja sama dengan keluarga besar atau orang-orang sedaerah dan semarga, hingga berhasil menancapkan akar dan menguasai bisnis. Di Daru sendiri, setidaknya sudah ada enam supermarket besar yang semuanya merupakan bisnis keluarga milik orang China, dan terletak berdekatan di sekitar pelabuhan.

Beberapa tahun lalu juga pernah ada satu toko Indonesia, bernama TowooIndo, menjual baju batik, celana, dan makanan yang utamanya produksi Indonesia. Tetapi toko Indonesia ini terletak di sekitar “anus” Daru, di daerah corner yang orang pun enggan pergi, dan sendiri tanpa rekanan, sehingga sering menjadi target penyerangan raskol dan pencurian, bahkan satu pegawai dari Indonesia pernah ditebas tangannya sampai nyaris putus oleh raskol. Toko Indonesia itu tidak bertahan lama.

Di luar supermarket China ini, ada seorang lelaki lokal bertelanjang dada dan bertelanjang kaki, mengalami gangguan mental dan sering berteriak marah-marah. Begitu melihat saya, dia langsung meraih tanganku, menggenggam erat, tidak membiarkan saya pergi. “I am also from China!” dia bilang “Give me 2 kina!” Apakah dengan klaim sebagai rekan sebangsa dikiranya akan memperbesar kansnya mendapat uang dari saya? Lelaki gelandangan ini, yang kemudian saya tahu adalah seorang pencandu narkotika dan pernah dipenjara serta membunuh narapidana lain dalam penjara, terus mencengkeram pundak saya. Saya meronta, meminta tolong hingga kerumunan orang membantu melepaskan saya.

Para orang China pemiliki toko duduk dari ketinggian mengawasi anak buah dan pembeli (AGUSTINUS WIBOWO)

Para orang China pemiliki toko duduk dari ketinggian mengawasi anak buah dan pembeli (AGUSTINUS WIBOWO)

"Beginilah hidup di perantauan." (AGUSTINUS WIBOWO)

“Beginilah hidup di perantauan.” (AGUSTINUS WIBOWO)

Dari supermarket ini, sepanjang jalanan sampai ke daerah pelabuhan, adalah tempat berdagangnya orang-orang Papua Nugini. Mereka menggelar tikar di jalan, di bawah terik matahari, mengipasi ikan-ikan dan udang mereka dengan tangan agar tidak dikerubung lalat. Para pedagang Papua Nugini ini juga mengelompok menurut daerah asal masing-masing. Perempuan Daru yang berdagang pinang dan roti sagu isi kura-kura (isidou) berjejer di seberang toko merah HE&G Supermarket milik keluarga Yan, para pedagang ikan dari hulu Sungai Fly berjajar di dekat lapangan di seberang New Century Supermarket, sedangkan para nelayan dari Kepulauan Kiwai dan daerah Muara Sungai Fly di bibir pelabuhan di hadapan barisan kano. Ada juga lokasi untuk para nelayan dari daerah pesisir seperti Sigabaduru dan Mabudauan, yang menjual ikan kakap dan lobster. Bagi orang luar, secara fisik mungkin mereka tidak terlihat berbeda. Tetapi bagi orang sini, daerah asal dan bahasa adalah vital.

Muncul sebersit pertanyaan di benak. Kenapa, orang China yang tak sampai sepuluh tahun merintis bisnis di sini, sudah bisa menguasai roda ekonomi di kota ini, sedangkan para penduduk lokal masih seperti cara dagang nenek moyang mereka ratusan tahun lalu?

Cara berdagang penduduk lokal yang tidak berubah selama ratusan tahun, sementara pendatang China sudah membangun supermarket besar (AGUSTINUS WIBOWO)

Cara berdagang penduduk lokal yang tidak berubah selama ratusan tahun, sementara pendatang China sudah membangun supermarket besar (AGUSTINUS WIBOWO)

Belanja di sore hari (AGUSTINUS WIBOWO)

Belanja di sore hari (AGUSTINUS WIBOWO)

Mekha Eho’o, guru matematika yang juga mengajar bahasa Indonesia di Daru High Shool, menjelaskan pada saya, yang membedakan bangsa Melanesia dari bangsa lainnya adalah mereka bisa hidup tanpa uang. “Kalau dunia Barat adalah dunia kapitalisme yang mengejar kebahagiaan materialistik, dunia Melanesia adalah sistem wantok yang meyakini kebahagiaan ada pada hubungan manusia.”

Wantok dalam bahasa Tok Pisin (Pidgin Nugini) berasal dari bahasa Inggris “one talk”—satu bahasa. Secara harfiah, ini berarti “orang yang bicara bahasa yang sama”. Di Papua Nugini, negara dengan 820 bahasa di mana dua desa berjarak satu kilometer bisa menggunakan bahasa yang sama sekali berbeda, persamaan bahasa adalah hal penting. Bahasa menunjukkan suku, daerah kekuasaan, kawan atau lawan. Tetapi wantok sekarang juga bermakna “teman baik”, tetangga, sahabat, rekan seperjuangan, dan berbagai ikatan hubungan kuat lainnya. Dalam sistem wantok, kau melindungi para wantok-mu tanpa meminta bayaran atau balasan apa pun. Sesama wantok dituntut untuk saling membantu dan melindungi. Satu orang disakiti, maka seluruh wantok juga merasakan sakit yang sama.

Mekha selalu mengingatkan saya agar berhati-hati, tidak sembarang memproklamasikan identitas keindonesiaan saya selama berada di Daru. “Orang-orang di sini punya koneksi Melanesia dengan orang-orang Papua di seberang perbatasan sana, kami adalah wantok. Jadi ketika orang-orang di sana tertindas, di sini pun ikut merasakan penderitaannya,” kata Mekha. Daru pernah menjadi tempat tinggal ribuan pengungsi West Papua dari sisi Indonesia, dan beberapa tahun lalu ketika pemerintah Papua Nugini bekerja sama dengan Indonesia memulangkan semua pengungsi dari Daru hingga nyaris habis total, konon terjadi tangisan massal ketika penduduk Daru melepas kepergian para saudara Melanesia mereka.

“Apa yang ada di sini, juga ada di sana. Sistem wantok ini pun juga kultur orang Papua di sisi Indonesia, karena ini akar budaya Melanesia,” jelas Mekha, yang pernah tinggal satu tahun di Jayapura untuk belajar bahasa Indonesia. Masalah di Papua Indonesia, kata Mekha, adalah transmigrasi, yang membuat luapan pendatang yang berlebihan hingga menenggelamkan orang Papua di tanah mereka sendiri. Dari kultur Melanesia, dia melihat ini sebagai pertentangan cara memandang hidup.

Transmigrasi adalah program yang dilancarkan oleh rezim Orde Baru pada zaman Suharto untuk mengurangi kepadatan penduduk di Jawa, yang luasnya hanya 7 persen luas Indonesia tetapi dihuni oleh 60 persen penduduk. Transmigrasi utamanya memindahkan penduduk dari Jawa ke pulau-pulau lain yang jarang penduduknya, selain untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di daerah tujuan, juga memiliki misi keamanan strategis. Kelak, ketika Orde Baru berakhir dan Suharto turun, banyak daerah transmigran yang menjadi zona konflik berdarah antara pendatang dengan penduduk lokal.

Semula saya tidak melihat masalah yang terlalu besar untuk Papua Indonesia, yang luasnya hampir sama dengan Papua Nugini dengan penduduk hanya tiga jutaan (penduduk Papua Nugini 7 juta). Bukankah begitu banyak tanah kosong untuk ditempati?

“Kamu harus mengerti konsep tanah orang Papua,” kata Mekha, “Itu tidak sama dengan pemahaman Jawa. Tidak ada tanah tanpa pemilik di Papua, semuanya adalah tanah adat. Tanah dalam kultur Melanesia bukan milik pribadi, bukan pula milik pemerintah, tetapi milik suku adat. Mereka berburu, menanam sagu, mengambil kayu, menangkap ikan, hanya pada tanah adat mereka. Mereka tidak berani menginjakkan kaki di tanah yang bukan milik suku mereka; kalau tidak, bisa perang. Mereka hidup dari tanah, tanah adalah nyawa. Mengambil tanah berarti mengambil nyawa. Ini kultur kami bangsa Melanesia, yang berakar dari tradisi bangsa berburu dan berpindah.”

Di Papua Nugini orang tidak bisa menjual dan membeli tanah, hanya bisa menyewa. Ketika pemerintah Papua Nugini hendak membangun sesuatu, juga harus bernegosiasi dengan pemimpin suku pemilik tanah, serta memberi kompensasi bagi semua anggota suku yang berhak atas tanah itu.

Bahkan hutan rimba pun ada pemiliknya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Bahkan hutan rimba pun ada pemiliknya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Mekha tinggal di Indonesia pada masa Orde Baru berkuasa, dan menyaksikan bagaimana pemerintah Indonesia waktu itu menindas bangsa-bangsa minoritas, termasuk Papua dan Tionghoa. Dia ingat, saat dia kuliah di Jawa, ada seorang profesor India memberikan kuliah tamu di universitasnya. Profesor itu berkata, “Apa kekuatan yang sanggup menyatukan Indonesia, negeri dengan belasan ribu pulau ini, tiga ratusan suku, tujuh ratusan bahasa? Kekuatan magis itu bernama Pancasila.” Mekha langsung mengacungkan tangan, berdiri. “Maaf,” katanya, “Saya tidak setuju. Yang mempersatukan negara ini adalah militer. Kalau benar Pancasila itu sebegitu saktinya, coba hilangkan semua tentara dari seluruh penjuru negeri ini, Anda bisa jamin pulau-pulau itu tidak akan merdeka?”

Itu adalah zaman Orde Baru, ketika orang Indonesia belum berani lantang menyuarakan hal-hal yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Tapi Mekha orang asing, dan dia tak peduli. Argumen Mekha membuat profesor itu terdiam beberapa saat, mengangguk-angguk, berkata, “Kau benar.”

Dulu saya juga sempat berpikir seperti Mekha. Indonesia yang terlalu beragam dan secara geografis terlalu berjauhan, sulit dibayangkan secara rasional akan bisa menjadi sebuah negara. Seperti halnya keragaman Papua Nugini yang dipersatukan oleh kolonialisme Inggris, Indonesia sebagai sebuah negara juga adalah produk dari penjajahan Belanda. Tanpa Belanda, negara ini tak mungkin sebegini besar dan sebegini beragam. Banyak orang berasumsi, untuk mempersatukan orang-orang yang begitu berbeda suku, bahasa, agama ini maka diperlukan militer yang kuat. Sungguh itulah yang sekilas tampak dari zaman Orde Baru Suharto, di mana militer memiliki kekuasaan yang luar biasa, bukan hanya menjaga ketertiban tetapi juga mengatur negara. Sehingga, ketika Orde Baru berakhir dan pemerintahan Indonesia menjadi sipil, banyak pengamat internasional memprediksi Indonesia akan menjadi Uni Soviet dan Yugoslavia berikutnya, pecah berkeping-keping.

Kenyataannya, kecuali Timor Leste yang lepas, Indonesia masih bertahan dari Sabang sampai Merauke. Lalu, kalau bukan militer, kekuatan perekat apa yang begitu magis mempersatukan Indonesia? Itulah misteri yang ingin saya temukan jawabannya melalui perjalanan menyusuri perbatasan Indonesia ini. Salah satu kekuatan itu, asumsi saya, adalah bahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga membentuk pola pikir. Indonesia menciptakan bahasa untuk mempersatukan beragam suku dengan 700 lebih bahasa. Bukankah itu juga berarti menciptakan sebuah wantok?

Orang-orang datang dan pergi di Daru selalu berombongan satu wantok, tidak pernah sendiri (AGUSTINUS WIBOWO)

Orang-orang datang dan pergi selalu berombongan satu wantok, tidak pernah sendiri (AGUSTINUS WIBOWO)

Wantok, berawal dari satu bahasa menjadi saudara. (AGUSTINUS WIBOWO)

Wantok, berawal dari satu bahasa menjadi saudara. (AGUSTINUS WIBOWO)

Sistem wantok adalah satu nilai yang mempersatukan Papua Nugini. Tak mungkin kita memahami Papua Nugini tanpa memahami wantok. Walaupun demikian, wantok sebenarnya bukan hanya monopoli orang Papua Nugini; wantok mengakar juga dalam tradisi Indonesia maupun China. Saya datang ke Papua Nugini, duta besar Indonesia yang orang Batak menerima saya seperti anggota keluarga, itu karena wantok. Pemuda China di supermarket China di Daru seketika langsung akrab dengan saya, karena saya bicara bahasa mereka, bahkan sering memberi saya diskon dan mi instan gratis, itu juga karena wantok. Para perantau Tionghoa membangun jaringan bisnis mereka di Asia Tenggara, juga berdasar kekerabatan tanah leluhur—sebuah wantok. Para pedagang China Daratan anggota keluarga besar semarga berkolaborasi membangun supermarket besar di pedalaman Papua Nugini, juga karena wantok. Para transmigran Jawa mempertahankan tradisi “makan atau tidak makan tidak masalah, yang penting berkumpul” di tanah asing mana pun, itu juga sebagai identitas wantok.

Tetapi sepertinya, di Papua Nugini mereka membawa pemahaman wantok ini ke pengertian yang lebih ekstrem. Wantok di Papua Nugini bahkan melepaskan diri dari materialisme. Ini mungkin berkaitan erat dengan kultur bangsa peramu dan nomaden yang masih kuat. Banyak orang Papua Nugini, begitu mendapat gaji langsung habis hari itu juga, karena uangnya dibagi-bagi untuk para wantok. Mereka juga sulit berdagang, bisnis mereka sulit berkembang dan selama ratusan tahun tetap menjadi pedagang kecil pinggir jalan, karena ketika ada wantok datang hendak membeli mereka biasa memberi cuma-cuma. Kalaupun selama ratusan tahun mereka tetap menjadi pedagang pinggir jalan, sedangkan ketika orang-orang luar berdatangan membangun supermarket di tanah mereka, mereka tampaknya juga tak terlalu peduli, dan tak menawarkan solusi.

Seorang anggota tentara Indonesia pernah bertanya pada Mekha, kenapa selama lima tahun dia tinggal di Papua Nugini ini sama sekali tidak melihat ada pembangunan apa-apa. Mekha menjawabnya, “Kami bukan bangsa yang materialistis. Kami tidak terlalu peduli uang, tidak berharap banyak dari tamu-tamu kami. Ini bukan masalah take and give atau give and take. Kami lebih penting untuk membangun hubungan.”

Itulah sebabnya, di tengah kesibukannya yang luar biasa dan walaupun uangnya sangat terbatas, Mekha masih begitu memperhatikan aku sebagai tamunya.

“Investasi kami orang Papua adalah pada wantok,” kata Mekha, “Kalau kau punya rezeki, kau bagikan pada wantok-mu, dan ketika kau butuh kau tinggal minta tolong pada wantok-mu. Bukankah itu juga logika dari tabungan dan investasi? Bedanya, kita tidak menghitung untung rugi seperti di Barat.”

Sebuah permukiman kumuh (corner) di Daru, padat dihuni oleh orang-orang yang satu wantok (AGUSTINUS WIBOWO)

Sebuah permukiman kumuh (corner) di Daru, padat dihuni oleh orang-orang yang satu wantok (AGUSTINUS WIBOWO)

Daerah ujung belakang Daru adalah daerah pembuangan sampah, kebanyakan orang tidak berani ke sini kalau tidak mengenal siapa-siapa (AGUSTINUS WIBOWO)

Daerah ujung belakang Daru adalah daerah pembuangan sampah, kebanyakan orang tidak berani ke sini kalau tidak mengenal siapa-siapa (AGUSTINUS WIBOWO)

GDP per kapita Papua Nugini sangat rendah, tapi sistem wantok memungkinkan orang hidup tanpa uang. Di pedesaan, satu desa hidup bersama dari kebun mereka, dari hewan-hewan buruan di tanah adat mereka sendiri. Sedangkan di kota seperti Port Moresby atau Daru, kultur wantok terlihat di permukiman semipermanen, yang disebut sebagai corner karena biasanya terletak di pojokan kota. Setiap corner dihuni orang satu kaum, satu wantok. Orang dari daerah lain bahkan tidak berani memasuki corner yang bukan daerah wantok-nya. Raskol yang paling kejam pun biasanya mengurungkan aksi kejahatan mereka, kalau mengetahui korbannya adalah wantok. Itu sebabnya, walaupun Mekha sudah 3 tahun tinggal di Daru, dia sama sekali tidak pernah pergi ke corner di ujung belakang daerah “anus” Daru—karena itu bukan wantok dia; tidak ada rasa aman di sana.

Dalam tradisi Melanesia, semua permasalahan yang paling serius pun bisa diselesaikan ketika semua yang bertikai duduk bersama sebagai wantok, menggelar pesta perdamaian dengan menyembelih babi. Mekha memandang wantok sebagai cara hidup ideal. Sekarang, orang Papua Nugini di matanya telah terkorupsi uang. Dan itu pengaruh Barat. Dia menyayangkan, pemerintah Papua Nugini mengirimkan para pelajar terbaik negeri ini untuk belajar ke Australia. “Itu sama saja dengan menghancurkan mereka,” katanya, “Karena mereka tidak akan pernah bisa masuk ke dalam sistem Australia, dan ketika mereka pulang, mereka juga tidak bisa menjadi bagian dari sistem tradisional Papua Nugini lagi. Yang terbaik dari mereka tetap tinggal di Australia, menjadi orang hitam dengan otak putih.”

Tentu saja, wantok bukan sistem sempurna. Efek yang paling jelas di Papua Nugini adalah nepotisme: bos biasa merekrut anak buah berdasar wantok, tidak peduli apakah mereka kompeten atau tidak. Korupsi yang parah di pemerintahan juga karena kaum elit itu harus membayar utang budi pada para wantok-nya. Orang-orang dari desa yang terbiasa hidup dalam sistem ekonomi tanpa uang berkat sistem wantok, harus bertahan hidup di kota yang sangat bergantung pada uang, sehingga banyak yang mengambil jalan pintas: menjadi raskol. Sistem wantok juga menyebabkan banyak parasit dalam keluarga, yang tidak bekerja dan hanya menghamburkan uang yang susah payah didapatkan oleh wantok. Di Daru, sistem wantok membuat satu rumah bisa ditinggali 20 sampai 30 orang bersama dari anggota keluarga yang sangat jauh (para wantok), bahkan kolong rumah panggung dan perahu pun menjadi tempat mereka tidur. Akibat sanitasi yang buruk dan kepadatan tempat tinggal, di Daru saat ini merebak penyakit MDR-TBC—jenis tuberkolosis berbahaya yang bibit penyakitnya resisten terhadap berbagai jenis obat.

Tinggal di Indonesia telah membuka mata Mekha. Dia banyak belajar dari cara orang Indonesia berdagang, bahkan hal yang sangat sepele pun bisa menghasilkan uang. Baginya sekarang, wantok penting, tetapi bukan nomor satu. Wantok tetap akan dibantu, tetapi prioritas utamanya adalah anak—di situlah investasi utamanya untuk masa depan.

Dan, belajar dari Indonesia, Mekha menanami sepetak kecil lahan di depan rumah ini dengan kubis, yang dijualnya pada para tetangga seharga K10 (45.000 rupiah) per buah. Tidak bisa ditawar.

Masyarakat Papua Nugini bisa hidup tanpa uang, karena sistem wantok (AGUSTINUS WIBOWO)

Masyarakat Papua Nugini bisa hidup tanpa uang, karena sistem wantok (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

19 Comments on Daru 21 Agustus 2014: Wantok

  1. Keren. Tambah pengetahuan tentang wantok dan tradisi orang Papua :)

  2. Menjawab pertanyaan saya atas kebiasaan suku di Papua bagi bagi uang gajian ke seluruh kampung

  3. Mas agus…tulisan2 ttg papua ini klo bisa dibukukan jg…! Thanks mas agus…!

  4. semoga bisa segera dibaca bukunya….sukses selalu mas Agus…

  5. Mungkin yang menyatukan bangsa kita adalah wantok juga, bahasa Indonesia, entahlah. Pancasila hanya ada di pelajaran moral saja tapi masih banyak kasus-kasus SARA dan perang saudara di negeri kita :(

  6. tidak/belum ada pernikahan lintas wantok? pembauran gitu

  7. suka skl tulisan ini..sy tunggu bukuny..smntr ini sdh pny 3 buku mas agus

  8. hu um. ditunggu buku ttg PNG. dg TTD sang penulis tentunya 😀

  9. G sabar nunggu buku barux kaq..:)

  10. Mungkin ini juga yang membuat Papua selalu ada gejolak. Pemerintah tidak memahami akar budaya melanesia yang sesungguhnya sehingga menyamaratakan dengan suku-suku lainnya. Tindakan refresif yang kerap di-show-kan kepada rakyat Papua hanya menunjukkan cengkraman kekuasaan.

  11. Masyaallah….Tulisan Agus tetap kereenn.
    Pada hakikatnya Allah Subhanahu wa ta’ala yg menyatukan Indonesia, krn masyarakatnya adalah umat islam terbesar di dunia.

  12. Pada hakikatnya Allah subhanahu wa ta’ala yg menyatukan Indonesia, krn masyarakatnya umat islam terbesar di dunia.
    Seperti biasanya, tulisan Agus tetap kereenn.

  13. Mirip sekal dengan kultur Polinesia di NZ. Suku Maori menjunjung tinggi sekali nilai tanah karena mewakili ibu, kehidupan. Tidak boleh ada jual beli, hanya meminjam. Tanah adalah milik suku, tribe (Iwi) setempat. Maka kedatangan bangsa Inggris ke NZ dan merampas tanah bangsa Maori, disambut dengan konflik. Tipuan Inggris melalui Treaty of Waitangi, sekarang mulai dibuka habis2an dan dibawa ke hukum internasional. Baru 2 dekade lalu akhirnya Inggris melalui pemerintah NZ mengakui perampasan tanah di masa lalu dan mengganti ratusan juta dolar kepada Iwi-iwi tersebut.

  14. Rita Kunrat // April 8, 2015 at 11:09 pm // Reply

    “Kenyataannya, kecuali Timor Leste yang lepas, Indonesia masih bertahan dari Sabang sampai Merauke. Lalu, kalau bukan militer, kekuatan perekat apa yang begitu magis mempersatukan Indonesia? Itulah misteri yang ingin saya temukan jawabannya melalui perjalanan menyusuri perbatasan Indonesia ini. Salah satu kekuatan itu, asumsi saya, adalah bahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga membentuk pola pikir. Indonesia menciptakan bahasa untuk mempersatukan beragam suku dengan 700 lebih bahasa. Bukankah itu juga berarti menciptakan sebuah wantok”…..Luar biasa. Sebuah petualangan yang sempurna. Tetap sehat dan sukses Mas Agus.

  15. satu Indonesia , satu “wantok”.
    Keren ya.

  16. suka sama setiap tulisannya mas agus, terus berkarya

Leave a comment

Your email address will not be published.


*