Recommended

Matinya Agama Tua

170405-toraja-simbuang-funeral-aluk-1Perempuan tua itu seperti pengantin yang ketiduran. Bajunya merah menyala bersulam benang emas. Kedua pergelangan tangannya dilingkari gelang kebesaran peninggalan ratusan tahun, berupa piringan emas selebar kepala manusia, cemerlang bagai matahari di saat fajar. Warna-warna penuh gairah membalut sekujur tubuhnya, dari kepala hingga ujung kaki. Tetapi tubuh itu tak akan pernah bergerak lagi. Matanya yang terpejam itu juga tidak akan pernah membuka lagi.

Perempuan tua 90 tahun itu, sejak tiga hari lalu, mati.

Seorang anak perempuan dari nenek itu, alih-alih berduka bersimbah air mata, tersenyum mengundang saya masuk, “Mari. Mari makan bersama Nenek.”

Saya susah payah memanjat dan merangkak memasuki pintu yang berupa lubang jendela selebar pinggang. Di dalam ruangan rumah kayu yang sempit beraroma sejarah itu, para kerabat duduk berdesakan di sekeliling mayat duduk sang nenek. Anehnya, sama sekali tidak terlihat air mata. Mereka, sambil menyantap nasi jagung yang keras dan hambar, berulang kali memandangi mayat yang wajahnya mulai mengembang itu, berujar, “Nenek sungguh cantik. Sungguh cantik.” Beberapa kerabat juga mengambil gambar dengan telepon genggam, dari diri mereka yang berdiri berdampingan atau bahkan sambil memeluk mayat itu.

Bagi pemeluk agama tua Toraja di pegunungan terpencil di pedalaman Sulawesi, putusnya napas belum otomatis berarti mati. Hingga kemarin, sang nenek dianggap masih sebagai “orang sakit”. Baru tengah malam kemarin, semua anggota keluarga berkumpul dari seluruh penjuru Toraja untuk berembuk mengenai bagaimana upacara kematian nenek akan digelar. Ketika kata sepakat dicapai, seekor kerbau disembelih, genderang ditabuh, raung-raungan tangisan meledak, dan nenek itu pun dinyatakan mati—untuk pertama kalinya.

Mereka mendandani jenazah perempuan dengan pakaian penari. Apabila yang meninggal laki-laki, maka pada kepalanya akan dipasangi sepasang tanduk kerbau besar. Setelah didandani, mayat didudukkan di atas kursi dari bilah bambu.

Mayat duduk adalah pemandangan langka. Seorang lelaki desa berkata kepada saya, “Kamu sangat beruntung. Kamu orang luar kedua yang pernah menyaksikan ini di desa kami.”

Tidak semua mayat boleh didudukkan. Syarat pertama, yang meninggal haruslah anggota dari kasta tertinggi. Kedua, keluarganya harus mampu untuk menggelar upacara besar, sedikitnya mengorbankan tujuh ekor kerbau—paling murah Rp 20 juta seekor. Syarat ketiga adalah yang paling sulit: almarhum haruslah masih pemeluk agama tua Toraja.

170405-toraja-simbuang-funeral-aluk-4

Agama tua kini dikenal sebagai aluk to dolo—secara harfiah berarti “agama orang dulu”. Pada mulanya, semua orang Toraja adalah pemeluk aluk. Ketika pada abad ke-17 kebanyakan kerajaan di Sulawesi di sekeliling Toraja telah menjadi Islam, Toraja tetap hidup dalam dunia mereka sendiri, dibentengi gunung-gunung menjulang, tidak tertaklukkan. Agama Kristen pertama kali masuk Toraja pada awal abad ke-20, tetapi mereka butuh waktu puluhan tahun untuk benar-benar menancapkan akar di sini. Bahkan pada era 1970an, sebagian besar penduduk Toraja masih pemeluk aluk.

Tetapi kini, jumlah mereka tidak sampai 1 persen dari penduduk Toraja. Untuk menemukan masyarakat pemeluk aluk ini, saya harus menempuh perjalanan mengerikan dengan sepeda motor dari pusat Toraja, delapan jam hanya untuk jarak 70 kilometer, mendaki gunung-gunung terjal bersimbah lumpur. Distrik Simbuang teronggok sudut terjauh pada barat-daya Toraja, sulit dicapai dari mana-mana, dianggap sebagai basis terakhir pemeluk aluk di Toraja.

Bahkan di sini pun, mereka telah menjadi minoritas. Di antara anak-anak nenek yang meninggal itu, satu telah menjadi Katolik, satu telah menjadi Kristen, satu anak laki yang masih pemeluk aluk—tetapi dalam waktu dekat juga akan dibaptis menjadi Kristen. Sementara generasi cucu mereka di seluruh desa tidak ada satu pun yang aluk.

Sejak berkuasanya rezim Orde Baru Suharto yang antikomunis pada akhir 1960an, semua orang Indonesia diwajibkan beragama. Mereka harus memilih satu dari lima agama yang diakui pemerintah: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha. Agama tercantum pada KTP setiap warga. Ini masalah bagi mereka yang agamanya tidak diakui pemerintah, terutama ratusan agama tradisional yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Mereka sering dianggap tidak beragama, tidak bertuhan, sesat, terbelakang, tidak bermoral, atau lebih buruk lagi: ateis dan komunis. Mereka akan sulit mencari pekerjaan, sedangkan anak-anak akan sulit mendapat ijazah dari sekolah karena tidak akan lulus dari pelajaran agama—yang merupakan mata pelajaran wajib di negeri ini. Kalau tren ini berlanjut, kita bisa berasumsi, dua puluh tahun lagi semua pemeluk aluk akan punah di Toraja.

Supaya bisa bertahan, agama-agama tradisional terpaksa melebur ke salah satu agama yang diakui. Islam dan Kristen sama-sama memandang ritual-ritual tradisional Toraja—yang berasal dari aluk—sebagai kepercayaan kafir yang harus diberantas. Karena itu, aluk terpaksa menyamar sebagai “agama Hindu Toraja”—walaupun sulit kita menemukan hubungan antara Toraja dan India.

170405-toraja-simbuang-funeral-aluk-2

Tetapi mungkinkah untuk mencabut aluk dari Toraja? Aluk selalu ada dalam ritual kematian Toraja. Aluk ada pada sistem pembagian daging korban dan sistem kasta. Aluk ada pada arsitektur dan setiap detail ukiran rumah tradisional Toraja. Aluk ada pada sejarah dan legenda, filosofi, kebanggaan. Kalaupun aluk tak bisa bertahan sebagai agama, roh aluk tetap akan mengalir bersama darah orang Toraja. Kini, mayoritas penduduk Toraja memang telah menjadi Kristen, tetapi mereka masih menjalankan ritual-ritual penghormatan mayat yang berasal dari kepercayaan aluk—yang telah disederhanakan dan dikristenkan oleh Gereja.

Aluk, melalui berbagai ritual kematiannya, adalah cara Toraja memaknai kehidupan dan kematian: bahwa kematian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Pemahaman ini membuat orang-orang Toraja tampak sangat tenang menghadapi kematian anggota keluarga. Mereka merayakan kematian, sebagaimana mereka merayakan kehidupan. Mereka bahkan menyebut ritual kematian sebagai “pesta”.

Di Toraja, kematian justru mempersatukan kehidupan. Kematian nenek tua ini mendatangkan ratusan sanak saudara dari seluruh penjuru Indonesia. Beban biaya korban pemakaman yang mahal akan ditanggung bersama semua anggota keluarga besar—ribuan orang jumlahnya—sehingga menciptakan suatu ikatan kekeluargaan yang kokoh. Ketika malam menjelang, orang-orang bergandeng tangan membentuk lingkaran, melantunkan lagu-lagu untuk mengenang si mati. Kebersamaan dan keceriaan, tawa lepas dan kerinduan para kerabat yang lama tak berjumpa…sekilas kau mungkin mengira ini adalah pesta reuni ditemani api unggun, bukannya acara kematian.

Sementara di dalam ruangan, anak perempuan sang nenek, duduk di bawah mayat duduk ibunya, tetap tersenyum pada saya, berkata, “Nenek sungguh beruntung. Semasa hidup, dia tidak pernah keluar kampung. Ke Makassar pun tidak pernah. Sekarang, dengan kamu di sini, foto-foto Nenek akan keliling dunia.”

Mendengar itu, malah saya yang menangis.

170405-toraja-simbuang-funeral-aluk-3

Sebuah catatan dari Simbuang, Tana Toraja, 12 Juni 2016

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

34 Comments on Matinya Agama Tua

  1. Salut Agus, teruskanlah berpetualang menggali kebudayaan Tanah Air tercinta. Jaga kesehatan dan keselamatan
    😍

  2. Cak Agus lagi keliling Indonesia yaa. Kalo sempat mohon di buatkan artikel2 mengenai agama/kepercayaan mula penduduk2 di kepulauan Indonesia (sebelum kedatangan agama impor)

  3. tulisanmu dr dulu ku ikuti , bny menginspirasi bung…filosofi & kesederhanaan hidup… ada baiknya promo lewat grup kompas gramedia… agar tak melulu berita politik kotor yg jadi trendsetter… salut Bung…

  4. mohon yg di papua nugini lanjutkan kisahnya sampai kembali ke Indo… apapun kisahmu walau ‘langkah kecil’ kok bermakna besar…

  5. Dengan kamu di sini, foto-foto nenek akan keliling dunia.😢

  6. Ridtwo Love // April 5, 2017 at 6:56 pm // Reply

    di kampungku, di sana msih bnyak aluk todolo. Ritual2 jg msih dilakukan pd saat masanya tiba.di sana msih ad bbrp yg tdk bisa membaca bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia. Aku sbgai salah satu penganut Aluk Todolo yg msih muda yakin kalau Aluk Todolo tidak akan pernah punah😊
    btw really inspiring artcl.good luck🙏

  7. Mas Agus harus ke Sumatera Utara, karena tanah kami juga punya Agama asli leluhur.

  8. keren, short, sharp, full, yet elegant and telling.

  9. Nicholas Joni Mangampa

  10. Sementara di dalam ruangan, anak perempuan sang nenek, duduk di bawah mayat duduk ibunya, tetap tersenyum pada saya, berkata, “Nenek sungguh beruntung. Semasa hidup, dia tidak pernah keluar kampung. Ke Makassar pun tidak pernah. Sekarang, dengan kamu di sini, foto-foto Nenek akan keliling dunia.”

    Mendengar itu, malah saya yang menangis.

  11. Ryan G Rantelili // April 6, 2017 at 6:11 am // Reply

    Salut Mas agus. Secara garis besar tulisan anda sangat menyentuh. Saya orang Toraja asli dan bergelut tentang budaya. Memang agama tua “aluk todolo” sudah hampir punah terkikis oleh agama2 impor, kami seperti di anak tirikan di daerah sendiri. Salam dari aluk todolo.
    Terimakasih banyak

  12. Deby Pali Bubun // April 6, 2017 at 8:27 am // Reply

    Toraja memang unik dan akan selalu ada hal yang membuat kita penasaran tentang toraja dan ingin kembali ke toraja
    Dari budaya, alam, toleransinya, bahasa toraja pun susah yang biasa kami gunakan sekarang itu bahasa toraja yang sudah terkena moderenisasi,bahsa toraja yang asli tidak bisa kami mengerti
    Mungkin mas bisa bahas hal itu
    Dan hal lainnya di toraja😊😊

    #meolikosangtorayan

  13. Menarik mas.
    Bagaimana negara sampai mengatur tentang apa yang boleh masyarakatnya percaya dan apa yang tidak, dan bagaimana masyarakat harus memiliki kelenturan untuk bisa tetap bertahan terhadap negara.

  14. Selalu menarik, tapi sungguh dibalik tulisan yang menawan terdapat perjuangan yang berat. Salut mas…

  15. Dulu waktu ke Toraja sempat ngobrol dengan salah satu bapak2 di Pasar Kerbau Rantepao,
    Kalau orang Toraja itu merantau cari uang agar bisa bikin acara yang meriah pada saat orang tua atau keluarganya meninggal.

  16. Maria Roswati // April 6, 2017 at 7:11 pm // Reply

    Tulisan mudah dipahami dan ceritanya mengalir, kami tunggu cerita lain tentang Toraja mas Agus

  17. terharu ada sisi lain yg membuat saya bangga mnjdi orng torajaa..smangat truss mas aguss

  18. nia_sima_lindangan. // April 6, 2017 at 10:42 pm // Reply

    sungguh sy sangat bertrimakasih mas agus, sy keturunan simbuang, keturunan ketiga dari salah satu tetua aluk todolo di simbuang (lindangan), banyak hal yg tidak saya pahami kenapa sebagiaan besar keluargaku bertahan dalam aluk todolo… sy kadang berfikir mereka kuno, tapi ternyata tidak!
    trimakasih telah dengan susahnya mas agus menyusur jauh ke kampung kami simbuang, tempat yang ditakuti banyak orang untuk di jejaki…
    sungguh luar biasa mas agus bisa menyaksikan “to di pato’dang” yang saya saja tidak pernah menyaksikannya hanya mendengar ceritanya…
    trimakasih… trimakasih… trimakasihh
    telah membangunkan kami anak simbuang..

  19. Rosalina Rabi // April 7, 2017 at 7:35 am // Reply

    makasi mas Agus suda membuat artikel saat nenek aku di patokdang. nie suatu kehormatan bagi kami cucuhnya bisa ada seorang penulis mau berkunjung k tempat pedalaman untuk membuat artikel ini. semoga arwah nenek nonning bahagia disana. buat mas agus kedepanx semoga makin suskses dlm karyanya

  20. Big thanks Mas Agus, ini nenek aku salah satu cucu yang ber agama islam tp kami tetap satu.

  21. Tulisan yg sangat indah tentang budaya kami orang toraja.

  22. Masih banyak yg unik dari daerah toraja, yg tdk ada duanya di dunia.

  23. Bahasannya berat tapi tulisannya bisa ringan! Salut Kak!

  24. Ini yah donna materinya .. Anti mainstream … DOnna Malliwa dibaca baik2 dan dimengerti

  25. Bang Agus…

    Yudi masih penasaran akan cerita bang agus pas ke.aceh tahun lalu.. akan kah sehebat ini? Heheh

  26. Claudius Nugroho // April 10, 2017 at 11:26 am // Reply

    Masih perlukah warisan orba itu dilanjutkan? Warisan nenek moyang dibuang, barang impor disembah.

  27. sebenarnya agama asli itu tidak bisa dikatakan ditinggalkan 100% di Toraja, cuma status aja yg agama yg di KTP tapi hampir semua sisi kedihupan sehari-hari Toraja didasarkan pada aluk, karena aluk todolo itu tidak mengatur agama dan hal hal rohani tapi menyangkut semua aspek kehidupan, seperti menanam padi, bekerja dll.

  28. Ini kampung nenekku. Saya pernah ke simbuang.orang tua nenekku bernama nenek teak dan nenek mamma,mereka merupakan tokoh yang berpengaruh pada jamannya di simbuang. Bisa deh di cek di negri belanda, kemungkinan masih ada dokumentasinya.mereka hidup sekitar tahun 1800-an.keturunannya masih ada juga di simbuang sampai detik ini. :)

1 2

Leave a comment

Your email address will not be published.


*