Recommended

Titik Nol 165: Negeri Para Petarung (1)

Gunung-gunung Kashmir yang megah (AGUSTINUS WIBOWO)

Gunung-gunung Kashmir yang megah (AGUSTINUS WIBOWO)

Dari segala kisah-kisah aneh yang saya dengar di sini, tidak ada yang lebih tidak masuk akal daripada cerita tentang orang Kandar, suku petarung di puncak gunung.

Kandar adalah sebuah desa kecil terletak di puncak bukit yang terlihat di belakang Noraseri. Jaraknya cuma empat kilometer, naik turun gunung, dan butuh waktu tiga jam untuk mencapainya. Walaupun demikian, bagi sebagian besar orang normal, Kandar sama sekali bukan tempat yang bisa dikunjungi.

Ada apa dengan Kandar? Namanya tersohor di seluruh pelosok perbukitan. Tak ada orang Noraseri yang tak kenal desa kecil di atas sana itu. Bahkan di kota pasar Pattika dan Muzaffarabad yang jauh di bawah sana, semua orang pernah mendengar nama desa ini.

“Walaupun cuma empat kilometer jauhnya,” kata Rashid, sukarelawan dari Islamabad, “orang Kandar sudah nampak jauh berbeda dari penampilan fisiknya. Mereka selalu berjalan ke mana-mana dengan tongkat kayu. Tongkat ini selalu siap untuk memukul orang. Mereka juga menggantungkan syal di leher.” Saya jadi terbayang pejuang Pashtun di Afghanistan, apalagi nama Kandar mirip dengan Kandahar, kota lahirnya Taliban.

“Kalau Afghanistan punya Kandahar, maka Kashmir punya Kandar,” Rashid melanjutkan, “orang-orangnya sama-sama suka perang.” Tanggal 12 Januari 2006, pernah kejadian orang Kandar membajak helikopter yang mengangkut bala bantuan, sampai-sampai semua organisasi kemanusiaan enggan bekerja di desa puncak gunung itu.

Bagaimana mungkin penduduk desa terpencil, mayoritas tidak terpelajar, dan tidak ikut terbang, bisa membajak sebuah helikopter? Susah sekali membayangkan kejadian ajaib ini. Rashid berkisah, orang-orang Kandar dengan beringasnya memanjat tali tambang yang terjulur dari helikopter. Pilot yang tak berdaya diturunkan dari helikopter, dan barang bala bantuan langsung menjadi rebutan.

“Bukan hanya NGO yang malas bekerja di Kandar. Orang Kandar sendiri pun menolak kedatangan organisasi mana pun untuk mendistribusikan barang bantuan. Mereka maunya membagi-bagi jatah bantuan ke Kandar menurut kemauan mereka sendiri. Susah sekali bekerja dengan orang-orang macam itu.”

Helikopter membawa bahan bantuan ke Harama. Bayangkan ketika para petarung ganas dari Kandar membajak helikopter yang sedang terbang (AGUSTINUS WIBOWO)

Helikopter membawa bahan bantuan ke Harama. Bayangkan ketika para petarung ganas dari Kandar membajak helikopter yang sedang terbang (AGUSTINUS WIBOWO)

Sejak kejadian helikopter yang dibajak dengan penuh beringas, bantuan ke Kandar kini dialihkan ke Harama, terletak di kaki bukit di bawah Noraseri. Di Harama ada landasan helikopter. Orang Kandar sekarang harus berjalan kaki lima kilometer melalui medan gunung yang susah untuk mengambil sendiri bahan bantuan di Harama. “Walaupun demikian, karakter asli mereka yang suka bertarung tidak hilang begitu saja. Sebagai ‘tamu’ di desa Harama, mereka berkelakuan tetap seperti orang Kandar – berkelahi untuk berebut bahan bantuan.”

Perkelahian orang Kandar tidak hanya terbatas dalam masalah-masalah pelik macam barang bantuan bencana. “Bahkan di pesta pernikahan pun mereka berkelahi,” kata Paman Bashir, tetangga sebelah kamp kami. Paman Bashir bercerita, suatu hari ia pernah diundang ke pesta pernikahan orang Kandar. Sudah susah payah naik gunung jauh-jauh, sesampainya di sana, bukannya dijamu malah dibentak-bentak. Para tamu diusir keluar, karena tuan rumah mau makan semua masakan terlebih dahulu. Baru setelah mereka selesai makan, para tamu dipaksa masuk untuk menyantap makanan sisa.

“Mereka orang ajaib,” lanjut kakek Bashir tentang acara pernikahan aneh itu, “bukan hanya berebut makanan dengan para tamu, mereka pun berebutan sesama mereka sendiri. Hanya demi sepotong ayam dan seiris daging, tak jarang pesta malah berubah menjadi ajang pukul-pukulan.”

Saya memutuskan untuk ke Kandar, mencari tahu siapa orang Kandar sebenarnya.

“Apa kamu gila?” teriak Samera, putri Haji Sahab, “jangan ke sana! Nanti kamu bisa mati.”

“Orang-orang Kandari itu semua harami, anak haram!” dokter Zaman menatap saya serius dengan matanya yang besar. Jenggot putih dan mulut yang terkatup menambah tingkat keseriusannya.

Orang Kandar memang tangguh (AGUSTINUS WIBOWO)

Orang Kandar memang tangguh (AGUSTINUS WIBOWO)

Hanya satu orang yang mendukung sepenuhnya cita-cita saya menuju Kandar. Farman Shah, seorang terkemuka di desa Noraseri, pemeluk Syiah dan berperut buncit. Orang bilang di dalam perutnya ada tiga bayi yang sudah 20 tahun tidak lahir juga. Dengan tubuhnya yang besar, saya yakin Farman bisa jadi bodyguard yang handal. Ia punya banyak teman di Kandar. Farman juga orang partai, pendukung setia Benazir Bhutto, dan sudah barang tentu dihormati di pelosok gunung sini. Bersamanya ke Kandar pasti aman.

“Kapan pun kamu mau berangkat ke Kandar, saya selalu siap!” demikian janji Farman.

“Hati-hati dengan Farman,” dokter Zaman mengingatkan, “ia orangnya agak licik. Bisa-bisa karena malas mendaki ke Kandar, kamu malah dibawa ke desa lain. Toh kamu juga tidak tahu mana yang Kandar mana yang bukan.”

Saya menyimpan nasihat dokter Zaman dalam hati.

Pukul 7:45 saya sudah siap di rumah Farman, 15 menit terlambat dari janji semula. Saya kira masih cukup normal di Pakistan, yang jam karetnya lebih parah daripada Indonesia. Tetapi tidak untuk urusan makan. Karena terlambat, Farman sudah makan duluan.

Di tanah Kashmir yang indah ini hidup pula suku petarung (AGUSTINUS WIBOWO)

Di tanah Kashmir yang indah ini hidup pula suku petarung (AGUSTINUS WIBOWO)

Akhirnya kami berjalan bersama meninggalkan Noraseri. Jalan belakang gunung ini cukup panjang, datar, dan tidak terlalu susah. Kecuali di beberapa tempat yang kena longsoran dari puncak, jalan tertutup tumpukan batu-batu. Saya paling susah kalau lewat jalan seperti ini. Seram sekali kalau harus melintasi tumpukan bongkahan batu sedangkan di bawah sana jurang menganga dan dari puncak sana batu besar bisa turun setiap saat.

“Cepat! Cepat!” kata Farman menyoraki. Melintasi daerah longsoran memang harus cepat, karena tanah tidak stabil dan longsor masih bisa terjadi. Saya malah merangkak dengan kedua telapak tangan di atas bebatuan seperti bayi baru belajar berjalan.

Perjalanan ke negeri para petarung memang membutuhkan sejumput lebih banyak jiwa petualang.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 24 Maret 2009

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Titik Nol 165: Negeri Para Petarung (1)

  1. Aaah… seru seru cerita tentang asia tengah selalu menarik. mas…
    boleh tahu dimana bisa beli bukunya? klo bisa online mas. soalnya di aceh rada susah nemu bukunya mas :)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*