Recommended

Reader’s Digest Indonesia (2010): Menyingkap Selimut Debu Afghanistan

IBRD121025-NUKILAN.indd

N U K I L A N
READER’S DIGEST INDONESIA DESEMBER 2010

Menyingkap Selimut Debu Afghanistan

Perjalanan menelusuri raga negeri yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan bangunan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum, akan membuka mata Anda kepada prosesi kehidupan di tanah magis itu.

Oleh Agustinus Wibowo

“Selimut Debu” oleh Agustinus Wibowo; diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, 2010

Khaak adalah Afghanistan. Dalam bahasa Dari dan Pashto – dua bahasa resmi Afghanistan, khaak berarti debu. Tak ada yang bisa lari dari khaak. Kerudung pria Afghan tidak menghalangi khaak. Khaak terbang menembus kisi-kisi burqa yang membungkus kaum perempuan. Bulir-bulir debu mengalir bersama angin, menyelinap melalui setiap rongga udara, langsung menembus ke sanubari. Debu memang menyelimuti seluruh penjuru Afghanistan, dari utara hingga selatan, dari timur hingga barat, menjadi makanan sepanjang hari, mengalir bersama embusan napas. Namun khaak juga bisa berarti tanah kelahiran, tumpah darah, segenap hidup dan mati.

IBRD121025-NUKILAN.indd

Saya melewati portal garis batas Pakistan. Sekitar 20 meter di depan saya, tampak gapura Afghanistan. Saya berdiri terseok-seok, bersama khaak dan setumpuk mimpi. Jubah qamiz dan celana kombor shalwar bekas yang saya pakai sudah lusuh. Khaak sudah memenuhi ronga mulut, kerongkongan dan paru-paru.

Ada bimbang dalam hati, ketika melangkah perlahan di antara gerbang kedua negara. Bendera Pakistan melambai-lambai, seolah mengucapkan selamat jalan. Saya melangkahkan kaki menuju Afghanistan.

“Afghanistan, man miayam. Saya datang.”

Peshawar, Juni 2006
“Apa yang mau kaucari di Afghanistan?” tanya si pria muda di sebuah sudut gelap ruang tunggu visa yang kotor, di kantor konsulat Afghanistan di Peshawar, Pakistan, beberapa waktu sebelumnya. Pertanyaan itu pun sering menghantui saya. Apa yang saya cari di tempat berdebu dan panas, yang orang pun malas untuk membayangkannya? Si pemuda kemudian mencolekkan tangan kanannya di lantai, yang diselimuti selapis debu tebal.

“Kamu mau melihat Afghanistan? Lihat saja tanganku. Kamu lihat debu ini? Kamu sudah melihat Afghanistan. Cukup. Tak perlu ke sana! Di sana cuma ada debu!” katanya.

Debu halus berterbangan bersama embusan napasnya. Saya terbatuk.

Namanya Wahid, berumur 25. Kulitnya putih, wajahnya bersih dan tampan. Bahasa Inggrisnya sangat fasih, seperti belajar di negeri Barat saja. Orang tuanya berasal dari keluarga yang cukup terpandang di Kabul.

Sebagai seorang Afghan, Wahid menggambarkan kampung halamannya hanya seperti selapis debu. Jelas ia sangat kecewa. Ada kebanggaan, tetapi terkubur oleh nestapa dan kejengkelan melihat kehancuran yang semakin mengoyak tanah Afghan. Kekecewaan yang terlihat di mata Wahid sudah merasuki seluruh jiwanya. Ada hujatan yang selalu meluncur terhadap segala macam kebodohan orang-orang senegaranya, yang semakin lama semakin bobrok.

Ia tak percaya ada orang asing berpakaian shalwar qamiz datang mengemis visa Afghanistan. Setelah itu ia mulai mengkritik saya. Mulai dari kecintaan saya terhadap Pakistan, shalwar dan qamiz abu-abu yang melekat di tubuh saya, hingga “kegilaan” saya untuk melihat Afghanistan. Apakah hanya debu yang ada di Afghanistan?

IBRD121025-NUKILAN.indd
Dua Sisi Kabul
Sebuah pusat perbelanjaan berdiri megah. Lantai marmernya super mengilap, memantulkan refleksi tubuh para pengunjung. Toko-toko berjajar menawarkan laptop mungil, komputer, kamera digital model terbaru, mesin cuci ribuan dolar, perhiasan emas dan permata, DVD, hingga parfum Prancis. Di negara yang jaringan listriknya hampir nihil – bahkan di ibu kotanya sekalipun – barang elektronik semacam itu memang bukan untuk dinikmati rakyat jelata. Hanya orang kaya dan orang asing yang bisa menikmati listrik sepanjang hari, dengan generator yang minyak dieselnya pun tak murah.

Eskalator berjalan lambat mengantar orang dari lantai ke lantai. Ada dua lift tembus pandang, meluncur dari sebuah kafe di lantai dasar hingga belasan lantai di atas sana. Ikut hilir mudik bersama kedua lift itu, terlekat layar televisi yang memamerkan gemerlap dunia, mulai dari iklan perhiasan mahal hingga hotel bintang tujuh di Dubai.

Tempat itu bernama Kabul City Center, tempat perbelanjaan termewah di seluruh negeri. Di atas pusat perbelanjaan tiga lantai, ada barisan kamar hotel berbintang Safi Landmark – boleh jadi merupakan simbol modernitas yang muncul bergitu saja di Kabul sejak invasi tentara AS. Cahaya temaram terpancar dari lampu-lampu di koridor hotel, menambah suasana elegan.

Para pengunjung kafe kebanyakan pemuda Afghan yang mengenakan T-shirt dan jins ketat. Gaya rambut dan pakaian menunjukkan bahwa mereka tak mau ketinggalan dengan perputaran roda modernitas di luar negeri. Kafe ini menghidangkan menu berbeda dari warung di jalanan. Secangkir cappuccino panas mungkin cocok dengan beef burger. Atau, mungkin Anda mau mencoba jus mangga dari Jalalabad yang dipadukan dengan secangkir Pop Mie dari Indonesia? Di sini, mi instan bisa berubah menjadi menu eksotik dari negeri seberang. Asap rokok bertebaran dari puluhan mulut yang berbicara perlahan, menampilkan derajat kesopanan yang kontras dengan teriakan orang berjenggot di pasar kota.

Sesekali tampak juga lelaki berjubah panjang dan berserban hitam menjuntai ala Suku Pashtun. Perempuan yang mengenakan burqa biru pun ada, memilih-milih kalung dan cincin mahal di toko perhiasan. Namun dari kualitas jubah, serban sutra, kerudung dan kain burqa mereka, sudah terlihat status sosial yang tinggi.

Tak semua orang Afghan bisa masuk ke sana. Mereka yang berpenampilan tak layak, mencurigakan atau berasal dari kelas ekonomi yang jelas-jelas tak mampu mengonsumsi barang-barang yang ditawarkan di sana, tak diizinkan masuk. Orang asing biasanya tinggal melenggang, tetapi saya yang datang dengan jubah kotor turut kena stop. Penampilan saya sering dikira seperti penduduk setempat, bahkan oleh orang Afghan tulen sekali pun. Di negara ini, ada suku minoritas Hazara, yang berkarakter fisik teramat Mongoloid – bermata sipit dan berhidung pesek, tak bercambang, berjenggot jarang – sungguh pas dengan ciri wajah saya. Petugas penjaga pintu menggeledah semua barang bawaan. Pengunjung harus melewati pintu berdeteksi logam, seperti yang ada di bandara. Tak boleh bawa pistol dan bom. Kamera pun harus dinyalakan untuk memastikan bukan bom samaran. Sejak Ahmad Shah Massoud – pemimpin pejuang Mujahiddin yang kini diangkat sebagai pahlawan nasional Afghanistan – dibunuh oleh pelaku bom bunuh diri yang menyamar sebagai fotografer pada 2001, kamera jadi barang sensitif.

Saya datang bersama kawan baru yang saya kenal di Kedutaan Indonesia. Yang satu, laki-laki, bekerja sebagai chef utama di satu-satunya hotel bintang lima di Kabul, dengan kamar bertarif 250 dolar AS per malam, dan restoran yang menyajikan nasi goreng Indonesia seharga 25 dolar AS seporsi. Kawan lainnya, perempuan, bekerja di bar khusus ekspatriat. Sebagai teman baru, mereka mengajak saya ke lantai atas pusat perbelanjaan itu untuk makan siang.

Pilihannya hanya buffet. Semua jenis makanan tersedia, mulai dari ayam panggang, spaghetti, sate kambing, pizza, hingga mee goreng. Ada lebih dari selusin puding aneka warna dan rasa yang menerbitkan air liur. Teman-teman baru itu mencerikan kehidupan di Kabul. Tentang rutinitas pekerjaan, jadwal kerja yang ketat, dan peraturan yang mengekang. Sebagai pekerja asing, mereka tidak mempunyai kebebasan untuk keluar berjalan-jalan tanpa persetujuan atasan. Juga tentang kemungkinan membeli mobil di Kabul, yang harganya sangat murah karena belum dikenai pajak. Tidak ada cerita tentang perang, debu atau kemiskinan. Makan siang kami seharga 14 dolar per orang, cukup untuk makan setengah bulan di Peshawar.

Ketika saya datang pertama kali ke Kabul tiga tahun silam, sungguh tak terbayangkan akan muncul pusat perbelanjaan semewah itu di sini. Sama sekali tak pernah terlintas di benak saya untuk menikmati hidangan di restoran berlantai pualam yang terletak di puncak gedung termodern di seluruh Afghanistan. Sungguh suatu dunia yang sama sekali berbeda, terpisahkan oleh kaca tembus pandang dari rumah-rumah kumuh yang berserak tak beraturan di punggung-punggung bukit.

Bukit-bukit itu tidak hijau, melainkan cokelat gersang. Dari kaki bukit hingga setengah jalan menuju puncak, dirayapi ratusan rumah berwarna senada. Warna lumpur kering dan tanah berdebu. Dari jauh, wajah bukit tampak penuh kerutan sudut lancip di seluruh penjuru. Dari dekat, bak selimut mozaik – keindahan muncul dari kesemrawutan. Rumah dari lempung bisa muncul di titik mana saja untuk mengisi kekosongan.

Rumah-rumah itu bangunan ilegal – tanpa izin, tanpa pajak. Itu merupakan pilihan terakhir karena harga tanah di Kabul sangat mahal, sementara lahan dan perumahan yang tersedia terbatas. Penghuni baru terus berdatangan, sejalan dengan gelombang pengungsi yang dipulangkan dari Pakistan dan Iran, serta pendatang dari desa yang ingin menikmati cipratan kemakmuran Kabul. Dalam kurun waktu beberapa tahun saja, penduduk Kabul sudah berlipat empat daripada waktu Taliban masih berkuasa.

PLAKKKK! PLAKKK!!!

Tiba-tiba dua tamparan telapak tangan besar mendarat di tengkuk saya, disusul tendangan di pinggul. Lelaki itu marah, menyerang bertubi-tubi. Sedangkan Wali, pewarta foto Afghan kurus yang tadi jalan bersama saya, sudah terbirit-birit melarikan diri meninggalkan saya.

Saya pun lari tanpa menoleh lagi ke belakang. Wajah orang yang menakutkan itu tak melekat di ingatan, kecuali tatapan mata yang sangat garang.

“Kamu tahu, orang itu tadi bawa pistol?” tanya Wali.

Saya tidak tahu karena shock dengan tamparan mendadak itu.

“Yang tinggal di sana itu orang Panjshir semua. Manusia berbahaya!” Wajah Wali masih berselimut ketakutan. Saya baru tahu stereotip orang dari Lembah Panjshir, tempat kelahiran pahlawan nasional Afghanistan, Ahmad Shah Massud.

Orang Panjshir terkenal karena wajah mereka yang rupawan – kontur wajah yang tegas, hidung mancung, bahkan mata biru dan hijau. Konon mereka adalah keturunan pasukan Iskandar Agung dari Makedonia. Namun di Kabul, penduduk asal Panjshir yang mendiami perkampungan kumuh di perbukitan Deh Afghanan itu, dikenal sebagai komunitas yang susah diatur, berbahaya dan suka berkelahi. Senjata api masih bebas beredar di sana. Salah sedikit saja, bisa berujung maut.

“Orang itu tadi marah karena mengira kamu mengambil gambar rumahnya. Orang itu meneriaki kamu sebagai mata-mata Amerika!”

Perumahan kumuh di perbukitan Deh Afghanan menyimpan rahasia di balik tembok yang mengelilinginya. Sering kali lebih baik kita tidak tahu rahasia apa itu.

IBRD121025-NUKILAN.indd
Peradaban yang Runtuh
Bamiyan adalah potret Afghanistan yang selalu terkenang dalam mimpi saya – bukit cadas, relung kosong, patung Buddha yang sudah berubah menjadi tumpukan batu, padang hijau menghampar, kedamaian yang menjadi ironi dari kehancuran perang.

Meski potongan jalan menuju Bamiyan merupakan perjalanan paling menyiksa buat saya, namun pemandangan indah menghampar di kanan jalan. Rumput hijau bak permadani membungkus wajah-wajah gunung. Padang luas diselingi gemercik air sungai yang jernih, membuat saya merasa seakan-akan diterbangkan ke tengah hamparan luas padang Asia Tengah.

Jalan kecil yang berdebu, berkelok-kelok melintasi lusinan desa mungil dan tenang. Keramaian lalu-lintas Kabul sudah seperti dunia lain di sini. Pohon rindang meneduhi. Bocah-bocah kecil tertawa kegirangan, tersiram debu yang terhambur karena lindasan roda kendaraan. Keledai terangah membawa karung barang, ditunggangi kakek tua berjenggot putih berserban, lengkap dengan tongkat panjangnya. Zaman Nasruddin atau si Abu Nawas-kah ini?

Bamiyan hanya sekitar 150km dari Kabul, namun gunung-gunung raksasa cukup mengisolasi kawasan itu. Bahkan di zaman modern pun, Bamiyan masih tak mudah dijangkau. Mobil hanya bisa merayap pada kecepatan 20km per jam. Itu pun masih belum ditambah dengan hambatan alam yang keras. Ketika mobil kami melintasi jalan berlumpur, seluruh badan jalan tergenang air. Tuneis kami tersangkut di dasar lumpur yang dalamnya sedengkul. Semua penumpang terpaksa turun, mendorong dan menarik kendaraan malang itu. Didorong, ditarik, didorong, ditarik, asap hitam tersembur…. Sia-sia. Setengah jam menanti di tengah kubangan lumpur, barulah melintas mobil besar yang mau menggeret kendaraan kami dengan tali tambang.

Sepuluh jam perjalanan, saya sampai di Bamiyan dengan kaki gempor, nyaris tak kuat menyokong tubuh lagi. Terpincang-pincang, saya melangkah menuju Radio Bamiyan. Hadi Ghafuri, penyiar sekaligus reporter untuk kantor berita Pajhwok di Kabul, menyambut saya.

Tiga tahun lalu, ketika saya pertama kali datang ke desa itu, tak terbayangkan bakal ada internet di Bamiyan. Sekarang, Hadi menunjukkan dengan bangga internet satelit yang antenanya terpasang di pekarangan kantor. Bentuknya seperti parabola, biaya langganan sekitar 600 dolar per bulan.

“Bamiyan maju lumayan pesat,” katanya, “karena keamanan selalu baik. Tak ada Taliban, tak ada perang. Damai dan tenteram.” Pasar Bamiyan yang cuma sepanjang satu jalan, sudah bertambah panjang dua kali lipat. Kios-kios kayu berjajar di pinggir jalan berlumpur dan berbatu, menjual apa saja, mulai dari barang kelontong, alat elektronik, sampai buku tulis dan kerajinan tangan untuk turis. Sudah banyak warung, hotel dan restoran yang bertebaran. Ada pula pusat kebugaran – dengan papan nama bertuliskan Buddy Building, warnet, stasiun radio, bahkan stasiun televisi lokal. Turis berdatangan, umumnya kalangan ekspartriat yang siap merogoh kantong hingga ratusan dolar per hari.

“Kota baru” dibangun untuk menampung para pengungsi yang berdatangan. Bangunan baru mulai bermunculan, kantor organisasi asing, konservasi situs sejarah, rumah penduduk hingga universitas. Namun jaringan listrik masih belum mencapai Bamiyan. Orang harus mengandalkan generator. Saat tengah hari dan menjelang malam, kota itu bising oleh bunyi generator, karena itu waktunya makan sambil menonton televisi yang menyiarkan lagu Bollywood. Sementara di sekeliling lembah, gunung-gunung cadas berdiri membisu, tegak melintasi alur zaman selama berpuluh abad.

Walaupun pernah menjadi pusat peradaban kuno untuk agama Buddha, penganut Buddhisme sudah tak tersisa sama sekali di Bamiyan. Penduduk Hazara – yang mendiami kawasan itu – adalah penganut Syiah yang taat. Karena aliran agama mereka yang berbeda, juga karakter fisik yang dianggap “jelek” oleh etnik lain di Afghanistan, Hazara sering mendapat perlakuan rasis, dianggap ras yang lebih rendah kedudukannya.

Taliban, yang mengikuti aliran Sunni garis keras, pernah melakukan pembantaian terhadap etnik Hazara. Akibatnya, ribuan pengungsi Hazara berduyun-duyun meninggalkan Afghanistan. Ramazan, misalnya, yang pada 2001 bersama dengan 240 rekan seperjalanan, menumpang perahu menuju tanah impian, Australia. Sayang, mereka tertangkap polisi perbatasan dan ditampung di Pulau Roti, Indonesia. Setahun lebih ia tinggal di Indonesia, sempat melihat Jakarta dan Bali, tetapi tak terbersit sedikit pun minatnya untuk tinggal di Indonesia. “Untuk apa? Tak ada pekerjaan. Tak mungkin bisa dapat uang. Lebih baik saya kerja di Afghanistan,” ujarnya.

Setelah Taliban jatuh, ia kembali ke kampung halaman, dan kini bekerja sebagai pedagang. Perang menyebabkan hidupnya terasa kosong.

Para pengungsi miskin sekarang masih tinggal di gua-gua sekitar patung Buddha. Dulu gua-gua itu penuh ukiran dan lukisan religius, sempat menjadi basis tentara Taliban dan penyimpanan senjata perang. Namun sekarang jangan berharap lagi melihat keindahan ukiran dan mural Buddhis. Semua sudah hancur ditelan zaman. Bahkan yang masih tersisa pun dilempari sepatu dan dicoret-coret.

Sungguh tak mudah mengobati kekecewaan Ramazan melihat kampung halamannya porak-poranda akibat perang dan kebodohan. Kini grup konservasi situs sejarah dari UNESCO datang melakukan restorasi reruntuhan Patung Buddha raksasa di Bamiyan. Para pekerja sibuk mengangkut batu dalam gerobak-gerobak. Turis pun mulai banyak. Namun padang di hadapan Patung Buddha bertebaran batu bercat merah dan putih.

Tempat itu penuh ranjau!

IBRD121025-NUKILAN.indd
Mukjizat di Danau Suci
Yakawlang berpesta. Lapangan desa dipenuhi ratusan lelaki, perempuan, bocah-bocah, jagung, labu, sapi dan kambing. Badan domba-domba gemuk dicat merah dan jingga, leher mereka dikalungi bunga seperti turis yang disambut di Hawaii. Sementara itu, tanduk sapi-sapi dicat dan dipasangi mahkota kembang, mirip peserta kontes putri ayu. Badan kuda dibungkus pelana sulaman tangan, dan keledai pun semakin tampak bodoh dengan gemerlap dekorasi bergemerincing.

Siapa bilang orang yang bergumul dengan perang berpuluh tahun tak punya rasa seni? Para petani di pedalaman Bamiyan itu seperti berlomba menunjukkan, hewan mereka yang tergemuk, tersehat dan tercantik.

Hasil ladang yang dibawa juga tak kalah menakjubkan. Ahmadullah menunjukkan kentangnya yang seberat dua kilogram. Shibghatullah dengan labu raksasa berdiameter setengah meter, atau Hamidullah dengan batang jagung dan bunga matahari yang jauh lebih tinggi daripada lelaki dewasa. Kaum perempuan tak mau kalah, masing-masing membawa hasil kerajinan terbaik mereka, mulai dari gorden bersulam hingga permadani dengan motif tribal.

Penduduk desa itu berpesta merayakan panen raya. Jeshn, festival. Tak perlu heran, ladang gandum yang menghampar di seluruh Yakawlang teramat hijau. Tanamannya tumbuh tinggi dan rapat, bulir-bulirnya besar. Musim panen tiba, dan kini saatnya bersyukur untuk rahmat yang tak terhingga.

Ada enam danau Band-e-Amir yang menghidupi seluruh Lembah Bamiyan. Menurut hikayat setempat, keenam danau yang terletak di antara Yakawlang dengan kota Bamiyan tercipta berkat mukjizat Hasrat Ali, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad, yang makamnya menjadi ziarah penting di Mazar-e-Sharif. Ia diagungkan umat Syiah Afghanistan sebagai figur mistik dengan segala kekuatan magis yang tiada bandingan, menciptakan berbagai keajaiban di muka bumi.

Di antara keenam danau yang diciptakan oleh Hazrat Ali, yang paling suci adalah Band-e-Haibat, atau “Bendungan Hebat”. Danau itu seperti bak raksasa. Air biru kelam, mendekati hitam, laksana batu pirus di tengah gunung-gunung jingga dan cokelat gersang yang mengelilinginya. Danau terbendung oleh tembok bebatuan yang menjulang dari tanah setinggi lebih dari sepuluh meter, mengelilingi seluruh badan air. “Tembok” batu itu hampir seragam lebarnya, seperti diciptakan dengan teliti, walaupun tak perlu diragukan kalau danau itu adalah karya alam yang menakjubkan. Kedalaman danau seperti kolam renang, dari tepian dinding batu, melewati sedikit daerah dangkal, kedalaman langsung melonjak drastis sampai ke dasar danau. Tak ada yang tahu berapa kedalaman danau itu. Yang pasti, dalam sekali, sehingga warna airnya biru gelap menyeramkan.

Dengan karakter fisik yang demikian istimewa, penjelasan ilmiah tak sanggup mengalahkan kepercayaan penduduk terhadap jawaban supranatural – kekuatan sihir Hazrat Ali. Di tepi Danau Haibat dibangun tempat sembahyang sederhana, dengan gundukan suci di dalamnya. Tempat itu dinamai Qadamjoy Aulia – tempat Ali turun dari kuda dan menginjakkan kaki di tanah. Para peziarah rela menempuh perjalanan berat dan berbahaya ribuan kilometer ke danau suci itu, demi mengharap cipratan mukjizat memecahkan segala permasalahan yang membelenggu hidup.

Kaum perempuan menangis tersedu-sedu mengelilingi gundukan yang menjadi tempat ziarah. Mulut mereka komat-kamit membaca doa. Jiwa mereka dipenuhi pengharapan dan iman. Ziarah itu kemudian menanjak kepada level yang lebih menyakitkan – menceburkan diri ke danau yang dalam dan dinginnya mematikan.

Ada tempat terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Kaum lelaki melepas baju mereka, sedangkan yang perempuan terlepas dari cadar mereka. Setiap peziarah diikat pinggangnya dengan tali tambang, kemudian melompat ke dalam danau.

“Ya… ALIIIII!!!!”

Teriakan lantang terdengar mengiringi setiap ceburan. Lantang, melukiskan harapan yang luar biasa untuk pertolongan dari mukjizat Sang Hazrat. Namun kemudian teriakan penuh iman itu berubah menjadi isak tangis kesakitan karena dingin yang menusuk kulit.

Tak banyak orang yang bisa bertahan berenang lebih dari lima menit di sana. Untuk kebanyakan orang, bahkan sepuluh detik pun sudah merupakan siksaan yang tak akan terlupa seumur hidup, beberapa menit bisa berujung fatal – kematian karena infeksi paru-paru bagi mereka yang tak kuat fisik. Apalagi memasuki Oktober, musim dingin merambah daerah pegunungan itu.

Peziarah yang menangis kemudian dikerek ke tepian menggunakan tali tambang. Begitu sampai di daratan, isak tangis meledak. Namun juru kunci tak jatuh iba, mendorong si peziarah dengan kuat untuk kembali mencebur ke danau.

“Tiga kali! Minimal tiga kali! Berteriaklah, ‘Ya, Ali!’ sekeras-kerasnya! Ia pasti akan menolong. Ya Ali Madad!” kata juru kunci tegas.

“Ya… ALIIIII!!!!”
Byurrrrr.
“Ya… ALIIIII!!!!”
Byurrrrr.
Terdengar tangis.
Terdengar sorak-sorai para pengantar, “Afarin! Afarin! Bravo!!!”

Melihat tangisan dan teriakan kesakitan para peziarah itu, saya yang sudah hampir sebulan tak mandi pun jadi hilang nafsu untuk ikut mencebur.

“Orang-orang bodoh ini,” kata Anwar, pengunjung Hazara dari Bamiyan. “Mereka benar-benar percaya bahwa danau ini dibuat dengan mukjizat Imam Ali.” Anwar, seperti halnya mayoritas orang Hazara, juga pemeluk Syiah, tetapi ia pernah belajar ilmu agama di Iran, dan ia lebih logis. “Sebenarnya, memercayakan kesembuhan dari danau dan mukjizat tempat suci, sama sekali bukan ajaran Islam. Kita seharusnya hanya mengandalkan pertolongan Tuhan. Tetapi penduduk sini tak berpendidikan, mereka memegang teguh tradisi secara membabibuta dan percaya bahwa tradisi itu adalah agama.”

IBRD121025-NUKILAN.indd
Di Tapal Batas
Peta Afghanistan berbentuk bulat telur dengan lidah sempit dan panjang menjulur di pucuk barat laut. Lidah itu terbentang sepanjang sekitar 300km dari Ishkashim, ditempelkan secara paksa ke wajah Afghanistan. Tanah itu bernama Koridor Wakhan, wilayah sempit yang menyambungkan Afghanistan dengan Cina, dan memisahkan Rusia dari Inggris. Di beberapa bagian, koridor itu hanya selebar 15km, terimpit oleh dua negara raksasa di utara dan selatan.

Perjalanan menuju Koridor Wakhan sudah jadi impian saya karena misterinya. Bagaimana rasanya hidup di tapal batas? Berjalan ke kanan sudah ke negara lain, ke kiri juga sudah ke luar negeri. Sungguh tempat terpencil di ujung Afghanistan itu tak mudah digapai. Angkutan umum nihil, tidak banyak pilihan yang ditawarkan. Jalan kaki. Naik kuda. Naik keledai. Menumpang mobil lewat, yang belum tentu ada satu dalam seminggu.

Saya menumpang traktor Juma Khan, pria Pakistan berkulit hitam, berwajah bundar, berkumis tebal, agak gemuk, berumur empat puluhan, hingga ke Qala Panja. Dari semua desa di tanah Wakhan, Qala Panja adalah yang paling terkenal. Namanya disebut-sebut dalam berbagai catatan perjalanan berabad-abad silam.

Kata Qala berarti benteng, dan reruntuhan benteng kuno memang masih terlihat. Qala Panja merupakan tempat kediaman pemimpin besar Muslim Ismaili di Wakhan, mulai dari Ishkashim hingga ke Boroghil. Namanya Said Ismail. Gelarnya Shah, berarti raja, atau lengkapnya Shah-e-Panja, sang raja dari Panja. Saya turun dari traktor dan langsung menuju ruang tamu kediaman Shah.

Kemurahan hati Shah sudah termashyur di seluruh pelosok Wakhan. Ia suka menjamu semua musafir yang melintas dengan makanan mewah dan tempat tidur yang nyaman. Tampaknya itu sudah jadi tradisi turun-temurun. Dan tentu saja, Shah mempunyai kemampuan finansial luar biasa untuk bisa melakukan semua ramah-tamah itu.

Menjelang malam, Shah datang menemui tamunya. Ia berpakaian sederhana. Shalwar qamiz warna abu-abu dipadu rompi hitam. Kepalanya berbalut serban bundar dan tebal. Bicaranya tenang, suaranya lembut ada aura yang terpancar dalam setiap kata yang mengalir. Walaupun ia tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak terlalu mahir bahasa Farsi, ada dorongan entah dari mana yang membuat saya selalu ingin belajar dari kebijaksanaannya.

Motaaseb. Kata itu digunakan Salahuddin, putra sulung Shah, untuk mendeskripsikan orang Afghan, berarti fanatik, mengandung makna konotasi kekeraskepalaan dan kebodohan.

“Perempuan kami terpaksa membungkus diri mereka dengan burqa kalau belanja ke Ishkashim. Ini gara-gara pedagang Sunii yang banyak di Ishkashim. Orang-orang motaaseb ini, pikirannya memang sudah buta. Mereka tidak suka melihat wajah perempuan. Kalau sampai wajah seorang perempuan terlihat, mereka marah. Apalagi itu namanya kalau bukan motaaseb?” kata Salahudding berapi-api.

Kaum perempuan Wakhi bangga dengan pakaian berwarna-warni cantik yang mereka pakai setiap hari. Sejak meninggalkan Ishkashim, saya melihat dunia yang berbeda dengan Afghanistan yang saya kenal sebelumnya. Perempuan berkerudung mencolok bekerja di ladang gandum, dengan wajah terbuka yang terlihat jelas. Kerudung, baju, rompi, rok, celana kombor, sepatu, semuanya dengan warna-warni berbeda yang memikat.

“Adat perempuan kami tidak memakai burqa. Tetapi mulai dari Ishkashim dan seterusnya ke pedalaman Afghanistan, kami tidak punya pilihan selain memakaikan burqa kepada kaum perempuan kami,” seorang warga Panja bercerita.

Ada kepatuhan yang terpaksa. Namun Shah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemaksaan pakaian perempuan itu dengan bijaksana, “Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.” Perkataan itu langsung tertancap ke dalam benak saya, dan selalu saya ingat dalam setiap langkah perjalanan saya di Afghanistan.

Insaniat, kemanusiaan, adalah prinsip dasar Ismaili. Umat diajarkan untuk mencintai sesama manusia tanpa melihat suku dan agamanya. Sekte-sekte di Afghanistan, walau sama-sama mengucap kalimat syahadat, saling curiga dan memandang rendah. Umat Ismaili dari Lembah Wakhan kerap terpinggirkan. Namun di tempat waktu tak mengalir itu, pemahaman terhadap agama justru sangat maju. Penduduk desa sepanjang Koridor Wakhan tidak pernah sekali pun – tidak barang sekali – bertanya apakah saya Muslim. Padahal pertanyaan tentang agama hampir selalu menjadi pembuka pembicaraan di belahan lain di Afghanistan.

Seorang kakek tua dari Kret, begitu melihat saya, langsung mengawali percakapan dengan pertanyaan, “Berapa tahun kamu sekolah? Bapak ibu kamu masih hidup?”

Baginya, pendidikan dan keluarga saya jauh lebih penting daripada agama saya. Ada rasa kemanusiaan mendalam yang saya rasakan dari penduduk desa. Teh, roti dan genangan nasi berminyak selalu disajikan dengan ketulusan. Tak pernah sekalipun orang-orang itu meminta bayaran akan keramahtamahan mereka. Saya sering jadi malu sendiri karena tak punya apa-apa untuk membalas kebaikan mereka.

“Tashakor. Zahmat dadam. Muftah khordam,” saya selalu mengakhiri undangan mereka dengan terima kasih, dan minta maaf karena banyak merepotkan dan sudah makan gratis.

Tak apa, sudah kewajiban, begitu jawab mereka.

IBRD121025-NUKILAN.indd
Sebongkah Mimpi
Stiker visa hijau Tajikistan berhologram sudah tertempel di paspor saya. Cantik. Secantik impian penduduk Ishkashim dan Koridor Wakhan yang memandangi negeri di seberang aliran Amu Darya. Saya bersiap meninggalkan semua kengerian, menuju negeri lain yang menawarkan mimpi indah tentang kedamaian, kebebasan, dan gunung-gunung “fantastis”.

Bom tak berhenti meledak di Kabul, dan suasana di Kandahar semakin hari semakin mencekam. Semua sudah jadi memori. Saya hanyalah seorang pengunjung di negeri Afghan, negeri kuno yang selalu berkutat dalam angan. Saya hanyalah musafir yang datang, meresapi kehidupannya, ikut bermimpi bersamanya, ikut menangis dengan deritanya, lalu pergi begitu saja bak angin gurun yang menebarkan bulir-bulir khaak.

Lembar demi lembar kenangan perjalanan Afghanistan seakan berputar kembali di benak, sementara saya menatap Amu Darya yang mengalir deras. Betapa pikiran saya dikungkung oleh imaji tentang negeri berselimut debu, ketika saya ikut mengunyah khaak yang menyeruak ke rongga mulut bersama kaum pengungsi di Peshawar. Betapa kengerian dan romantisme Khyber Pass sempat membuat darah saya berdesir cepat bersama nuansa petualangan medan bahaya.

Melintasi kota-kota kuno hingga ke tepian Amu Darya (darya berarti sungai), pedalaman Gurun Laili, gunung-gunung Ghor dan Hazarajat, menembus selubung selimut debu, saya temukan perjuangan di tengah deraan derita perang. Dalam kekotoran khaak, tersimpan kebanggaan akan kampung halaman, sejarah, masa lalu, impian, harapan, keberanian, cita-cita, identitas dan takdir.

Saya teringat pertandingan buzkashi yang dihelat di lapangan Kabul menyambut kedatangan musim dingin. Puluhan kuda menjejakkan kaki mereka dengan garang di atas lapangan berdebu. Para chapandaz – penunggang kuda bertarung dalam kerumunan yang rapat, semua berjubah, berjaket tebal dan bertopi bulu atau berserban, seperti baru saja tiba dari ratusan abad silam. Kuda-kuda berukuran besar dan garang, dengan gigi menyeringai seram, bertarung liar memperebutkan bangkai.

Buzkashi, secara harfiah berarti “menarik kambing”. Kerasnya kehidupan tergambar dalam pertandingan itu. Selimut debu membungkus. Kuda saling jejak, terkadang sampai berdiri tegak, nyaris menggulingkan sang penunggang. Beringas, kuda-kuda itu punya daya membunuh.

Namun, betapa pun bahayanya, dalam kamus chapandaz, tak pernah ada kata gentar. Kegagahan, kejantanan, kejujuran, keberanian, kegigihan, dan jiwa ke-Afghan-an terlukis sempurna dalam buzkashi. Seorang chapandaz Suku Uzbek berkata dengan penuh bangga, “Lebih baik mati sebagai pahlawan daripada selamat sebagai pengecut.”

Kata-kata itu senantiasa terngiang di benak saya. Di negeri yang diterpa kehancuran, ada keberanian dan kepercayaan diri yang tak tertunjukkan. Bukankah itu keberanian para gerilyawan sederhana yang mengusir kedigdayaan penjajah Uni Soviet yang mengandalkan persenjataan modern? Bukankah itu kepercayaan diri yang membuat negeri itu bertahan di tengah permainan papan catur negara-negara asing? Bukankah itu semangat identitas yang bisa menyatukan berbagai suku bangsa, mulai dari Pashtun di balik pagar tembok yang kokoh hingga gembala berpindah di Kirghiz di puncak gunung raksasa?

Perjalanan negeri itu begitu panjang. Dari gunung-gunung cadas, bermula peradaban kuno yang menyokong perputaran roda sejarah umat manusia. Lalu perang datang silih berganti, melumat generasi demi generasi. Ada kebanggaan dan kehormatan yang tak boleh dikorbankan sekalipun nyawa menjadi taruhan. Ada mimpi yang tergantung, juga perjuangan melawan penindasan, berpadu dengan kemurahan hati untuk mengulurkan tangan, menawarkan kehangatan teh hijau segar, dan menyajikan roti bagi musafir malang. Tak peduli betapa pun miskinnya, sekalipun dapur tak lagi mengepul dan minyak telah mengering, melayani tamu dan berbagi makanan adalah kebanggaan yang tak berbanding. Saya pun ikut bertahan, larut dalam semangatnya.

IBRD121025-NUKILAN.indd
Mehman navazi, keramahtamahan, adalah jalan hidup. Perang berkepanjangan tak melunturkan rasa cinta sebagai bagian dari harkat kemanusiaan. Saya teringat seorang kawan Afghan berkewarganegaraan AS berkomentar tentang kebanggaan bangsanya, “AS memang negara kaya, sangat modern. Tetapi manusianya tak lagi punya hati. Mereka tak seperti kita, tak suka mengundang teman bertandang ke rumah. Bahkan orang sana bilang, teman terbaik mereka adalah anjing. Anjing lebih dipercaya dan disayang daripada sesama manusia. Mereka takkan pernah mengizinkan anjing mereka kelaparan atau bersedih, sedangkan ketika melihat orang-orang miskin yang tak punya makanan, hati mereka tak tergerak. Mereka menyedihkan, bukan?”

Kemanusiaan adalah anugerah Tuhan yang tersisa di Afghanistan, sementara kebanggaan dan peradaban hancur oleh perang berkepanjangan.

Kebanggaan dan kehormatan. Nang dan namus. Bagi orang Afghan, tiada yang lebih penting daripada itu. Apakah itu mimpi dan ego yang membuat manusia bertahan melintasi perubahan peradaban? Itukah kebanggaan yang membuat para pejuang rela mati mempertahankan bukit gundul, gersang, penuh debu? Khaak yang dibela mati-matian dengan segenap jiwa raga, kebanggaan yang tak boleh direndahkan, terkadang hanya berwujud bulir-bulir debu tanpa makna. Khaak memang hampa, tanpa nama, seringkali tak berupa, tetapi kebanggaannya penuh kuasa.

Sebongkah mimpi dan segunduk kebanggaan, terbungkus selimut debu.

Saya melangkah menuju gerbang Tajikistan. Amu Darya yang lebar mengalir perlahan. Di belakang, angin masih menderu, bernyanyi seram. Debu membungkus kembali desa-desa dengan rumah-rumah lumpur, dengan perempuan berbalut burqa berjalan terseok, dan lelaki berjubah shalwar qamiz duduk santai di atas keledai mungil. Sementara di depan, terbentang impian-impian utopis. Apakah di Tajikistan kenyataan seindah impian Afghanistan? Entahlah. Menyaksikan kebanggaan yang beterbangan bersama angin gurun, impian boleh jadi adalah benda yang sama nisbinya.

Saya hanya musafir, yang mensyukuri dan mengagumi keindahan peradaban. Saya bersiap melangkah menuju zaman berbeda, hanya dengan menginjakkan kaki di pintu gerbang negeri seberang. Sementara negeri Afghan tetap merayap dalam dimensi zamannya sendiri.

Khaak, kebanggaan itu bukan sekadar bulir debu biasa yang beterbangan diterpa angin kering.
—–
IBRD121025-NUKILAN.indd

Pada 2006, Agustinus mulai melintasi perbatasanantar negara menuju Afghanistan, dan selama duatahun ia menetap di Kabul sebagai fotografer jurnalis. Catatannya di buku ini adalah hasil perenungan setelah menelusuri negara itu.

8 Comments on Reader’s Digest Indonesia (2010): Menyingkap Selimut Debu Afghanistan

  1. Nella S Wulan // November 29, 2010 at 8:33 pm // Reply

    waaah, nice!
    suka bacanya! take care always ya
    salamku … :)

  2. asyik bener ceritanya,gaya bahasanya juga oke punya.pokonya mantap bener….

  3. sastrapertala // December 28, 2010 at 4:57 pm // Reply

    numpang copy-paste buat goodreads ya..

  4. Mas Agus, saya dah ubek2 toko buku kok gak nemu ya? mau beli dong edisi terbaru. dimana?, transfer ke mana?, thanks

  5. mas agus, saya cari-cari bukunya di toko buku kok ngga ada?, pengen banget baca!. Kapan2 adain traveling ke sana lagi nyook. Mas agus yang mandu. :). Kalo mau beli bukunya dimana ya?, transfer ke rek mana? thanks

  6. Keren bgt. Serasa ikut berpetualang. Sangat menyentuh hati perjalananx. Thx 4 writing 😉

  7. blog yg keren,, gak banyak blog yg membahas tntg problema negara2 seperti afganistan & pakistan dgn pglamannya sendiri..
    aku jd bisa dpt sudut pandang yg lebih real..

  8. MashaAllah …. suka banget baca certianya….. ” terimakasih karena sudah membuat pengalaman travelling dan mengupas lengkap tuntas budaya dan sejarahnya….jazzakaloh khyr…semangat terus utk menulis dan sharing nya,,,,

Leave a comment

Your email address will not be published.


*