Recommended

Selimut Debu 38: Latif Si Pencuri Ulung

Belajar dari kebijaksanaan keledai (AGUSTINUS WIBOWO)

Belajar dari kebijaksanaan keledai (AGUSTINUS WIBOWO)

Di tengah padang sunyi, kami meneruskan penantian.

Satu mobil lain melintas, dilanjutkan yang lain, dilanjutkan yang lain lagi. Tampaknya sedang ada acara pernikahan di Bamiyan. Tetapi semua penuh diisi penumpang perempuan. Tentu saja mereka tak mungkin mengangkut dokter Kabul yang laki-laki ini. Adat melarang perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim untuk duduk bersebelahan.

Baru dengan mobil kelima, setelah setengah jam menunggu sang dokter kawan kami akhirnya bisa berangkat balik ke Bamiyan.

Dari sini ke Bamiyan butuh waktu satu jam. Pergi pulang paling cepat dua jam. Belum lagi masih harus mencari sopir dan kendaraan, bisa-bisa habis waktu sepanjang hari. Semangatku semakin redup.

Aku mengeluarkan buku yang teronggok di dalam tasku. Judulnya Afghan Caravan. Karavan Afghanistan. Negeri ini adalah perlintasan karavan para musafir, melintasi gunung dan padang. Perjalanan adalah jiwa sejarah negeri ini, semua termaktub dalam buku kompilasi berisi kumpulan kisah-kisah legendaris dari Afghanistan, mulai dari dongeng, humor, sampai resep masakan. Satu cerita yang tepat sekali kubaca di tengah kegelisahan ini adalah kumpulan petualangan lucu Latif si Pencuri Ulung.

Sungguh bodoh orang yang menangisi kesialan dan tak mau belajar dari pengalaman. Demikian ajaran Latif si Pencuri Ulung yang begitu menohokku saat ini.

Seperti halnya kisah-kisah Mullah Nasruddin, hikayat Latif juga bagian dari kebijaksanaan Sufi. Ada ajaran yang terselip dari setiap cerita lucu yang berakar dari tradisi Afghan ini. Belajar agama tak melulu hanya berasal dari kitab suci.

Alkisah Latif adalah pencuri nomor wahid yang tak pernah gagal melaksanakan aksinya. Apa pun bisa dicuri, mulai dari kambing sampai putri raja. Hasil curiannya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi dibagi-bagi untuk orang miskin. Ia Robin Hood versi Afghan. Kali ini incaran Latif boleh dibilang sederhana—seorang kakek tua yang duduk di atas keledai ringkih yang melintasi padang pasir. Malam hari, kakek tua mendirikan tenda di tengah padang. Ia jatuh tertidur.

Latif mengendap-endap. Keledai ringkih dengan mudah diboyongnya. Pelita milik kakek tua yang masih menyala remang-remang disambarnya pula.

Keesokan paginya kakek tua meraung keras meratapi keledainya dan pelita minyaknya yang hilang. Ia menyesali nasib sebagai orang paling malang di dunia.

Tetapi Latif berkata, justru kakek tua ini adalah orang paling beruntung. Si kakek tak tahu, ketika ia tertidur, melintas barisan tentara berkuda kaisar Mongol yang terkenal bengis, membantai semua makhluk hidup di negeri-negeri yang diperanginya.

Kalau saja pelitanya masih ada dan menyala, tentu kakek tua itu ketahuan dan langsung dibunuh di padang pasir malam itu juga. Andai saja keledainya masih ada, tentu ia akan tiba di kota tepat pada saat tentara Mongol sedang membantai semua penduduk.

Tetapi si kakek bodoh tetap meratapi nasibnya yang malang.

Apakah aku sama seperti si kakek bodoh yang tak pernah bersyukur terhadap rencana alam yang paling sempurna?

Matahari sudah benar-benar di puncak langit ketika sopir Hazara itu datang dengan mobilnya dari arah Bamiyan. Penumpang bersorak-sorai.

Tinggallah sopir seorang diri dalam mobilnya yang rusak, di tengah kesunyian padang dan bukit. Perjalanan kami berlanjut, walaupun sekarang sudah terlalu siang untuk berangkat.

Seharusnya kalau tidak ada musibah tadi, kami sudah sampai di Kabul pukul dua atau tiga sore. Tetapi sekarang sudah pukul empat dan kami baru berhenti di sebuah chaikhana untuk makan siang. Ini baru separuh jalan menuju Kabul.

Pertama kali aku merasa tak berdaya seperti ini, bahkan untuk membeli makanan di warung tengah jalan pun tak mampu. Aku tak makan dan minum apa pun sejak 24 jam lalu, tetapi aku hanya sanggup memesan teh hijau. Sepoci harganya tujuh afghani, cukup untuk dua cawan. Ini pun sudah terasa mahal sekali.

Mungkin Tuhan sedang menghukumku, yang terlalu teliti menghitung setiap sen pengeluaran. Sebagai backpacker dengan modal teramat pas-pasan, aku juga selalu gigih menawar harga, di mana pun dan kapan pun, dengan menggunakan kalimat ampuh, ”Tolong… Man bepul hastam. Aku tak punya uang.”

Omonganmu doamu, pepatah ini sungguh manjur adanya. Sekarang aku benar-benar merasakan susahnya tak punya uang.

Masih ada empat jam perjalanan lagi sampai Kabul. Perutku sudah berontak, meneriakkan melodi kelaparan. Seorang penumpang jatuh iba. Ia membagikan separuh nasi yang tak habis dimakan. Rasanya hambar, tetapi senyum persahabatan penuh simpati yang ditawarkan para penumpang berjubah ini membuatku bertahan. Aku terus melahap makanan sisa, yang bagi sebagian orang lebih cocok disebut ”sampah”.

Kami sampai di Kabul menjelang gelap. Seorang penumpang lain membayarkan karcis bus kota dari terminal hingga ke daerah pusat kota. Aku masih harus berjalan kaki sendirian menuju daerah kedutaan.

Sebuah rangkulan hangat kuterima di pintu gerbang KBRI. Maulana Syahid, seorang diplomat muda Indonesia, sungguh tak menyangka bertemuku dalam keadaan seperti ini. Mendengar ceritaku, Maulana bahkan menawarkan penampungan selama beberapa hari di wisma.

Malam ini, KBRI adalah rumahku. Aku mendapat sofa di sebuah ruangan besar dan mewah untuk tidur. Kawan sekamarku adalah seorang staf Indonesia yang telah tinggal empat tahun di Pakistan dan kami banyak berdiskusi sepanjang malam tentang negeri-negeri asing yang kami tinggali. Maulana meminjamiku banyak buku tentang Afghanistan, dan aku baru menyadari betapa sedikitnya yang kuketahui tentang negeri ini. Aku juga berkesempatan menonton saluran televisi Indonesia SCTV. Rasanya sudah belasan tahun aku tidak menonton acara gosip artis dan berita-berita kriminalitas yang memenuhi layar kaca negeri kita. Maulana bahkan meminjamiku CD terbaru Peter Pan, grup musik favoritku yang lagu-lagunya susah payah aku dapatkan dengan mengunduh dari warung internet. Aku makan masakan Indonesia, bicara dalam logat Jawa, dan tinggal dalam ruangan tradisional yang penuh pernak-pernik Indonesia. Secara harfiah aku memang tak punya uang sepeser pun. Tetapi uluran tangan kedutaan membuatku masih dapat bertahan.

Merah putih berkibar di lapangan. Aku merenungkan arti bersyukur. Entah apakah ini memang jalan yang sudah diatur oleh-Nya.

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

Sementara hatiku gelisah, dunia tetap berlangsung dalam kegembiraannya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Sementara hatiku gelisah, dunia tetap berlangsung dalam kegembiraannya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Rumah Indonesia, sahabat-sahabat Indonesia, makanan Indonesia... aku pulang! (AGUSTINUS WIBOWO)

Rumah Indonesia, sahabat-sahabat Indonesia, makanan Indonesia… aku pulang! (AGUSTINUS WIBOWO)

 

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Selimut Debu 38: Latif Si Pencuri Ulung

  1. Bukan sembarang cerita, sangat menarik!!

Leave a comment

Your email address will not be published.


*