Recommended

Garis Batas 10: Selamat Datang di Rumah Pamiri

Bocah-bocah Ishkashim belajar di rumah mereka yang tradisional. (AGUSTINUS WIBOWO)

Seorang bocah Tajik di Istaravshan di dalam musholla. (AGUSTINUS WIBOWO)

Muhammad Bodurbekov, penumpang satu mobil dari Khorog, membawa saya ke rumahnya di Ishkashim. Rumah Muhammad adalah rumah tradisional Pamiri, dalam bahasa setempat disebut Chid. Karakteristik utamanya adalah adanya lima pilar penyangga ruangan, masing-masing melambangkan Muhammad, Ali, Bibi Fatima, Hassan dan Hussain. Angka lima melambangkan jumlah rukun Islam. Bentuk rumah seperti ini sama dengan rumah-rumah orang Ismaili di Pakistan Utara dan Afghanistan. Rumah adat Pamir sebenarnya sudah ada jauh sebelum datangnya Islam. Simbol-simbol Islam menggantikan simbol-simbol agama kuno Zoroastrian (Zardusht), di mana kelima pilar melambangkan dewa-dewa Surush, Mehr, Anahita, Zamyod, dan Ozar.

Karakter lain rumah tradisional Pamir adalah adanya lubang jendela di atap, tempat menyeruaknya sinar matahari menyinari seluruh penjuru ruangan. Jendela ini bersudut empat, melambangkan empat elemen dasar: api, udara, bumi, dan air.

Dibandingkan rumah-rumah orang Tajik Ismaili di Pakistan dan Afghanistan, memang rumah di Tajikistan ini jauh lebih modern. Lubang di tengah ruangan sudah tidak lagi digunakan untuk memasak, tetapi lebih sebagai dekorasi saja. Dindingnya dicat rapi, dihiasi dengan karpet-karpet indah, poster, dan foto keluarga. Lantainya dari kayu, dipelitur mengkilap. Di setiap ruangan selalu dipasang foto Aga Khan, pemimpin spiritual Ismaili yang didewakan sebagai penyelamat hidup di GBAO. Ada lampu listrik yang menerangi di kala malam. Di Afghanistan dan Pakistan sana, orang masih bergantung pada lampu petromaks.

Orang Tajik yang tinggal di Pegunungan Pamir di propinsi GBAO ini memang berbeda dengan orang-orang di Dushanbe dan sekitarnya. Bahasa penduduk sini berasal dari bahasa kuno Sogdian, berbeda dengan bahasa Tajik yang mirip bahasa Persia. Agamanya pun berbeda. Di sini hampir semua orang Pamiri adalah penganut Ismaili, sedangkan orang Tajik adalah Muslim Sunni.

Dulu orang Pamiri dianggap etnis tersendiri, tetapi kemudian ahli etnografi Soviet, dengan alasan politik, menjadikannya bagian dari etnik Tajik. Sekarang orang Pamiri dikenal sebagai Tajik Pamiri, dan masih memelihara kekhasan bahasa, agama, dan kultur mereka.

Ketika saya memasuki ruangan rumah Pamiri ini, Muhammad serta merta menyiapkan kurpacha, karpet duduk, tepat di antara pilar Ali dan Nabi Muhammad. Saya harus duduk di atas kurpacha ini sambil menyeruput teh yang dihidangkan. Bagi tuan rumah, ini adalah lambang penyambutan tamu. Bagi tamu, duduk di atas kurpacha melambangkan syukur dan terima kasih atas kebaikan tuan rumah.

Sebagai pekerja sosial, Muhammad punya banyak cerita. Bahasa Inggrisnya sangat bagus. Dia berkisah tentang modernitas yang membuat orang-orang Ismaili Tajikistan lebih maju daripada saudara-saudara seiman di Afghaistan dan Pakistan. Adalah orang Rusia yang memajukan pendidikan di daerah terpencil ini. Pendidikan adalah kunci utama kemajuan. Bahkan Rabindranath Tagore, pujangga India yang termasyhur yang mengunjungi Rusia tahun 1930’an pun mengungkapkan kekagumannya. “Ketika menginjakkan kaki di bumi Rusia, hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah di bidang pendidikan, dalam tingkat mana pun, mulai dari petani hingga buruh, semuanya membuat kemajuan luar biasa dalam hitungan beberapa tahun teakhir ini. Mereka bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kelas tertinggi dalam masyarakat (India) kami dalam kurun waktu seratus lima puluh tahun sekalipun. Orang Rusia bahkan tidak takut untuk memberikan pendidikan seutuhnya bahkan bagi bangsa Turkmen di pedalaman Asia.”

Penduduk Tajikistan sangat berbangga dengan tingginya taraf pendidikan di sini. Walaupun negaranya miskin, semua orang di sini melek huruf. Semuanya memakai pakaian ala Barat yang terkadang dihiasi topi dan kerudung tradisional.

“Tajikistan adalah percampuran harmoni antara tiga budaya, Rusia, Islam, dan Barat,” kata Muhammad mengutip pidato Aga Khan ketika mengunjungi Tajikistan pada masa perang dulu.

“Lembaga internasional yang datang ke sini harus menghormati ketiga unsur budaya ini. Kebudayaan Rusia menjunjung persamaan hak bagi perempuan. Kebudayaan Islami adalah nilai moral dan etika. Dan kebudayaan Barat adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.” Percampuran ketiga hal inilah yang menyebabkan umat Ismaili Tajikistan sangat berbeda dengan umat Ismaili Afghanistan di seberang sungai sana.

“Ketika mereka mulai memecah belah daerah ini,” lanjut Muhammad, “orang-orang sempat berpikir, betapa beruntungnya mereka yang di seberang sungai sana. Mereka yang berada di bawah pemerintahan Inggris tentunya akan lebih baik daripada kami yang dijajah Rusia.”

Afghanistan di awal abad 19 adalah negara boneka Inggris. Saya kemudian menunjukkan foto-foto kehidupan orang-orang Afghanistan persis di seberang sungai sana. Ada kota Ishkashim-nya Afghanistan, yang persis berhadap-hadapan dengan Ishkashim-nya Tajikistan. Ada foto perempuan yang memakai burka. Mohammad tercekat melihat rumah Pamiri di Afghanistan sana, kumuh dan gelap. Juga pakaian yang dikenakan wanita-wanita di sana yang sudah masuk museum di Tajikistan sini.

“Sekarang saya bahagia dengan takdir yang saya jalani,” kata Muhammad sambil mengelus dada. Keterbelakangan di seberang sungai sana membuatnya semakin bersyukur dengan kehidupan di Tajikistan sini, yang walaupun tidak berduit, tetapi masih jauh lebih daripada keterbelakangan yang seakan tiada pernah berakhir.

Pukul sembilan malam, Muhammad mengajak saya keluar berjalan-jalan. Di kejauhan seberang sana tampak Ishkashim-nya Afghanistan berkelip-kelip.

“Lihat, mereka sudah kaya sekarang,” kata Muhammad, “mereka sudah punya listrik.”

Pukul sembilan di sini, pukul 8:30 di seberang sana. Saya juga menerka-nerka. Sinar kelip-kelip itu pasti karena semua orang sedang menyalakan generator, karena tidak mau ketinggalan mengikuti sinetron India tentang Tulsi, si anak menantu yang berjuang bersama ibu mertuanya.

Dari seberang sungai sini, imajinasi dan memori saya tentang Afghanistan di sana teraduk-aduk. Sebuah negeri, yang hanya dipisahkan oleh seutas sungai, tetapi terkunci dalam aliran waktu.

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan ulang sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 19 Maret 2008

Leave a comment

Your email address will not be published.


*