Recommended

Selimut Debu 56: Ladang Candu

Jarak dari Faizabad menuju kota Ishkashim di timur hanya 160 kilometer. Tetapi seperti halnya seluruh jalanan di Badakshan, jalanan ini pun berdebu, tidak beraspal. Transportasi sangat sulit dan tidak terjamin.

Provinsi yang sejuk ini termasuk daerah paling tertinggal di Afghanistan. Bahkan ibukota provinsi pun sama sekali tidak memiliki jalan beraspal. Selama di Faizabad aku tinggal di rumah seorang jurnalis merangkap petani bernama Jaffar Tayyar, di pinggiran kota. Seperti biasa, semua kendaraan umum jarak jauh berangkat pagi-pagi buta karena bepergian di negeri tanpa jalan beraspal dan tanpa listrik di malam hari sangatlah berbahaya. Untuk mencapai terminal bus Faizabad, aku harus meninggalkan desa tempat tinggal Tayyar sejak pukul 4 subuh.

Tidak ada kendaraan yang langsung menuju Ishkashim. Semua harus berhenti dulu di Baharak, 42 kilometer atau sekitar 2 jam perjalanan dari Faizabad, dengan ongkos Af 150 (US$3).  Baharak adalah dusun pasar yang teramat biasa. Di sinilah kita bisa menemukan kendaraan menuju Ishkashim. Semua kendaraan baru berangkat ketika penumpang penuh, tapi Ishkashim bukanlah tujuan yang umum, sehingga jadi berangkat atau tidaknya sangat tergantung pada keberuntungan.

Aku beruntung karena ketika aku tiba di Baharak, ada sebuah kendaraan Toyota 4WD (yang bertuliskan besar-besar “ATOYOT”, mungkin yang menulis adalah orang Afghan yang terbiasa menulis dari kanan ke kiri) yang sudah hampir penuh. Setelah menunggu sekitar setengah jam, 20 penumpang berhasil didesakkan di mobil mungil ini. Aku kebagian tempat di depan, sehingga jauh lebih nyaman dibanding mereka yang di bangku belakang. Biaya perjalanan ini adalah Af400. Total dari Faizabad menuju Ishkashim memakan biaya perjalanan sebesar Af650, atau sekitar US$13 untuk jarak 160 kilometer. Sungguh bepergian di Afghanistan tidaklah murah.

Ini perjalanan yang menyiksa. Aku kena diare. Dan mungkin gara-gara diare, aku juga rentan terkena penyakit ketinggian. Ketinggian Faizabad hanya 1.200 meter di atas permukaan laut, sedangkan Ishkashim mencapai 2.600 meter. Karena kenaikan ketinggian yang tiba-tiba dan tubuhku yang lemah, kepalaku pusing sepanjang jalan. Pemandangan indah di luar jendela sama sekali tidak mengesankan bagiku, karena aku terlalu penuh oleh perasaan tersiksa. Aku bahkan lupa bertanya siapa nama penumpang yang duduk di sampingku.

Sepanjang jalan, yang kulihat adalah barisan ladang opium. Begitu banyaknya, seolah sudah menggantikan beras dan gandum sebagai makanan pokok warga di sini. Candu terutama berada di Distrik Baharak dan Jurm. Tanaman opium ini kelihatannya sungguh cantik dan lucu, dengan bunga-bunga yang terbungkus selubung hijau bulat. Ketika bunga-bunga itu mekar, pemandangannya sungguh dahsyat. Ungu bertebaran sejauh mata memandang, terkadang diselingi warna lain seperti putih dan biru. Ada beberapa orang lelaki, termasuk juga bocah ingusan, yang bekerja di ladang candu untuk memanen tanaman mereka. Bulan Juni dan Juli adalah saat panen. Mereka mengorek selubung bunga dan akan diolah menjadi berbagai narkotika dan obat terlarang.

Pada pukul 13:00, kami berhenti di sebuah desa, yang semestinya sudah tidak jauh dari Ishkashim. Kami berhenti untuk makan siang. Aku berjumpa dengan seorang pesepeda dari Ceko, yang bersepeda terus dari negaranya menuju India. Ketika bertemu aku, pertanyaan yang pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Here not many tourists, right?”. Jelas menunjukkan, keberadaan turis asing selain dirinya akan mendiskon makna petualangannya di Afghanistan.

Dia baru saja datang dari Tajikistan, menyeberang perbatasan ke Ishkashim, dan sekarang menuju Mazar-e-Sharif di Afghanistan Utara, lalu ke Kabul dan ke Pakistan.

Tahu aku berasal dari Indonesia, dia sangat antusias.

Wow! I like your country very much!” serunya.

Ia masih terkenang betapa damainya ”surga” di Bali dan Gili Trawangan, setahun lalu. Aku seakan tak percaya mendengar Gili Trawangan disebut di dekat hamparan ladang candu di middle of nowhere Afghanistan. Kemudian dia sibuk menceritakan betapa indahnya gunung-gunung Tajikistan, ”You should go there, it’s fantastic!”

Fantastis, gunung-gunung yang berpuisi, aliran sungai yang memahat, dan padang hijau yang mewarnai. Belum lagi wanita-wanita di sana yang bebas berkeliaran di jalan-jalan. Setelah menyeberangi perbatasan Tajikistan, ia seakan tiba di dunia lain. Jalan berdebu. Keledai yang melangkah perlahan menggantikan mobil. Warung kumuh dari tanah liat dengan makanan yang susah ditelan. Perempuan hilang dari pandangan. Dan tentu saja, ladang opium yang menghampar membuatnya bertanya-tanya apakah ia sedang berada di bumi yang sama.

Dari cerita menggebu-gebu pemuda Ceko inilah aku mulai meraba bayang-bayang Tajikistan. Ya, negeri tetangga itu terasa begitu dekat di sini.

Kami baru sampai di Ishkashim sekitar pukul 15:30. Tajikitan bahkan sudah terlihat dari sini. Bukit-bukit yang terlihat di kejauhan sana adalah wilayah Tajikistan. Di belakangku ada bukit menjulang. Di atas bukit itu ada tulisan besar-besar dalam huruf Farsi:

KHOSH AMADED

“SELAMAT DATANG!”. Itulah ucapan Selamat Datang dari Republik Islam Afghanistan bagi siapa pun yang menyeberang dari Republik Tajikistan.

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

1.Hijaunya Badakhshan (AGUSTINUS WIBOWO)

1. Hijaunya Badakhshan (AGUSTINUS WIBOWO)

2.Di daerah pegunungan, mereka membangun rumah hingga ke pinggang bukit. (AGUSTINUS WIBOWO)

2. Di daerah pegunungan, mereka membangun rumah hingga ke pinggang bukit. (AGUSTINUS WIBOWO)

3.Baharak (AGUSTINUS WIBOWO)

3. Baharak (AGUSTINUS WIBOWO)

4.Pemandangan menuju Ishkashim (AGUSTINUS WIBOWO)

4. Pemandangan menuju Ishkashim (AGUSTINUS WIBOWO)

5.Ladang opium yang menghampar indah (AGUSTINUS WIBOWO)

5. Ladang opium yang menghampar indah (AGUSTINUS WIBOWO)

6.Beginilah caranya memanen opium (AGUSTINUS WIBOWO)

6. Beginilah caranya memanen opium (AGUSTINUS WIBOWO)

7.Alam yang begitu berbeda, kita sudah di Asia Tengah (AGUSTINUS WIBOWO)

7. Alam yang begitu berbeda, kita sudah di Asia Tengah (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

4 Comments on Selimut Debu 56: Ladang Candu

  1. Temenku yang orang afghanistan bilang negeri mereka penghasil opium terbesar dan terbaik dunia..

  2. Pernah mengikuti cerita sedih dibalik ladang opium di Afghanistan via program Four Corners’ Opium Bride dari ABC, TV lokal Australia.
    http://www.abc.net.au/4corners/stories/2012/07/12/3544562.htm

  3. akhirnya bisa tahu juga pohon opium yang melegenda itu.. ijin ambil gambarnya cak…suwun

  4. Kapan bisa berpetualang seperti ini ya???? sangat mendebarkan sekaligus menggiurkan

Leave a comment

Your email address will not be published.


*