Recommended

petualangan

Garis Batas 95: Tangan Tuhan

Belajar menembak (AGUSTINUS WIBOWO) Saya ingat, tak sampai dua bulan yang lalu, saya datang ke KBRI Tashkent dengan bercucuran air mata. Empat ratus dolar saya tiba-tiba raib dari dompet, yang saya sendiri pun tak tahu bagaimana ceritanya. Ceroboh, ceroboh, ceroboh, saya memaki-maki sendiri. Satu per satu diplomat dan staf KBRI duduk di hadapan saya, memberikan penguatan. “Gus, mungkin Tuhan memang punya kehendak,” kata Pak Pur, seorang diplomat, “mungkin dengan kejadian ini Tuhan mengingatkan kamu supaya lebih rajin bekerja, lebih rajin memotret, lebih rajin menulis. Semua itu ada hikmahnya.” Pak Pur kemudian bercerita tentang puluhan ribu dolar yang dicuri orang waktu naik kereta di Rusia. Lebih sakit rasanya. Tetapi akhirnya beliau juga bisa mengikhlaskan. Bicara tentang Tuhan, mengapa Tuhan tak mengizinkan saya melanjutkan perjalanan lagi, saya ingin sekali melihat negeri-negeri Kaukasus yang dilupakan orang, eksotisnya padang pasir Timur Tengah, serta Afrika yang liar. Apa daya, Tuhan tak mengizinkan, uang saya tak banyak lagi tersisa. Empat ratus dolar, begitu besar artinya bagi saya. Mungkin Pak Pur benar, Tuhan berkehendak lain. Setelah meratap berhari-hari, saya akhirnya berusaha bangkit dari keterpurukan. Saya mencari lowongan kerja di sana-sini, mengontak kawan ini dan itu, hingga pada akhirnya, hari ini, saya tersenyum kecil melihat sebuah visa Afghanistan [...]

October 24, 2013 // 2 Comments

Garis Batas 94: Kembali ke Dunia Normal

Pagi di Turkmenabat (AGUSTINUS WIBOWO) Eksodus. Lima hari di negeri yang penuh keanehan dan keajaiban sudah lebih dari cukup untuk mendorong setiap bintik sel dalam tubuh saya menggelegak, tak sabar lagi untuk kembali ke dunia normal. Ruhnama memang punya gaya gravitasi yang tiada duanya. Para penumpang kereta bak magnet tertarik ke arah saya, orang asing dari negeri seberang yang begitu khusyuk membaca Ruhnama. Ada yang antusias melantunkan lagu kebangsaan Turkmenistan, “Ciptaan agung Sang Turkmenbashi, tanah air, negeri berdaulat, Turkmenistan cahaya dan nyanyian jiwa, berjayalah selama-lamanya…” Saya jadi akrab dengan Kalkali, seorang tentara muda berumur 20 tahun. Dia adalah minoritas etnik Azeri, wajahnya tampan, alisnya tebal, hidungnya mancung, mata lebarnya hitam pekat, dan perawakannya sangat gagah perkasa. Orang-orang Azeri, pemilik negara Azerbaijan di seberang Laut Kaspia sana, adalah salah satu kaum minoritas terbesar di Turkmenistan. Kalkali bukan orang Turkmen biasa, dunianya bukan cuma Ruhnama. Dia sudah pergi ke Kyrgyzstan, Uzbekistan, India, Sri Lanka, sebagai atlet sepak bola nasional. “Saya juga sudah melihat dunia,” katanya bangga. Sekarang Kalkali jadi tentara. Semua pria Turkmen harus menjalani wajib militer selama dua tahun. Tentang kehidupannya sebagai tentara, Kalkali cuma bilang lumayan dan tidak terlalu buruk. Gajinya 5 dolar per bulan. Masih jauh lebih bagus daripada [...]

October 23, 2013 // 1 Comment

Detik (2013): Traveling ke Afghanistan, Seberapa Aman?

Sri Anindiati Nursastri – detikTravel – Jumat, 11/10/2013 07:42 WIB http://travel.detik.com/read/2013/10/11/074232/2384172/1382/1/traveling-ke-afghanistan-seberapa-aman Jakarta – Bagi sebagian traveler, Afghanistan membangkitkan rasa penasaran. Negeri itu seperti dirundung konflik tak berkesudahan. Padahal alamnya sangat memukau, sejarah dan budayanya kaya. Seberapa aman traveling ke Afghanistan? Bicara soal Afghanistan, yang terlintas di benak Anda pastilah Taliban. Banyak orang menyebut Afghanistan sebagai ‘negeri perang’. Konflik dengan Taliban bahkan bahkan masih berlangsung sampai sekarang. Padahal, Afghanistan punya banyak cerita. Budaya dan sejarahnya memukau traveler dari berbagai belahan dunia. Ada Kabul sebagai ibukota, Bamiyan yang dulu punya patung Buddha terbesar sedunia, juga Herat yang beratmosfer Persia. Soal keindahan alam, Afghanistan jagonya. Ada dataran tinggi Pamir tempat para pendaki menikmati panorama ala Puncak Dunia. Ada pula Band-e Amir National Park, yang punya 5 danau berwarna biru bak safir! Agustinus Wibowo adalah salah satu traveler Indonesia yang pernah berkeliling Asia Tengah. Perjalanan itu ditorehkannya lewat buku-buku berjudul Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Traveling ke Afghanistan, menurut Agustinus, cenderung aman dan tak selalu berisiko. Afghanistan cukup besar sehingga kondisi kemanannya pun bervariasi. “Daerah-daerah di utara cukup aman. Banyak pendaki gunung dan trekker yang terpukau [...]

October 11, 2013 // 1 Comment

Garis Batas 86: Puja dan Puji

Puja bagi Ruhnama (AGUSTINUS WIBOWO) Taman Abad Emas Saparmurat Turkmenbashi yang Agung, nama tempat di mana segala puja dan puji terhadap Sang Pemimpin Besar dipanjatkan setiap minggu, disiarkan secara langsung ke seluruh penjuru negeri oleh televisi negara. Inilah altar pemujaan, yang sepeninggal Sang Pemimpin masih terus melantunkan nyanyian pujian ke angkasa raya. Hari Sabtu dan Minggu sore, taman ini selalu ramai dikerumuni orang. Letaknya di hadapan patung emas Turkmenbashi yang gagah berdiri menyibakkan jubah. Dengan berbekal kamera saya mencoba menyelinap ke tengah kerumunan itu. Tahu-tahu saya diciduk polisi. “Hei, kamu! Mau ke mana?” Saya jawab mau ikut konser. Si polisi tambah curiga, menhardik, “Kamu dari kelas mana? Grup mana?” tanya polisi yang satunya. Kelas? Grup? Waduh, saya kan orang asing yang menyelundup, kok ditanya grup dan kelas. Kedua polisi itu mulai mengancam akan menjebloskan saya ke penjara. Nada-nadanya para pegawai kecil ini ingin mempertunjukkan kekuasaannya. Saya hanya ikut permainan mereka, tersenyum-tersenyum kecil, dan terus memohon-mohon. Ketika mereka lengah saya berhasil menyelinap ke kerumunan orang ramai ini. Sekarang baru saya sadar mengapa polisi-polisi itu mencegat saya. Semua orang yang datang ke tengah kerumunan ini berpakaian hampir sama. Para prianya mengenakan kemeja, dasi, jas hitam kualitas tinggi, dan topi tradisional berbentuk bundar [...]

October 11, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 84: Ketakutan

Penuh tentara (AGUSTINUS WIBOWO) Saya masih mencoba untuk mencari jawab akan rasa hormat dan takzim yang demikian tiada bandingan terhadap Sang Turkmenbashi. Apakah euforia abad emas yang begitu memesonakan? Atau mungkin hasil cuci otak dengan bilasan ideologi? Atau bahkan rasa takut yang sudah tersembunyi di sudut hati dan ikut mengalir bersama aliran darah? Rasa takut terus menghantui saya ketika menyusuri jalanan kota Ashgabat. Bukan karena lalu lintas maut seperti di Jakarta, karena jalanan megah dan lebar di kota ini hampir selalu lengang. Bukan karena pencopet atau pencuri, karena kota ini tak pernah ramai. Juga bukan karena patung-patung bisu Turkmenbashi. Saya merasa seperti berada di kota perang. Polisi dan tentara berseragam berpatroli di mana-mana, tanpa henti, sepanjang hari. Ada mata-mata jelmaan KGB yang terus mengintai. Di tiap sudut jalan setidaknya ada sepasang tentara yang mondar-mandir dengan langkah tegap, menyebarkan aura kegagahan dan keperkasaan. Tetapi aura yang mencapai permukaan kulit saya adalah rasa takut yang mencekam. Saya merasa setiap langkah saya selalu diawasi oleh mata-mata tanpa wujud. Setiap gerak-gerik saya terpantau, bahkan mungkin hembusan nafas saya di negeri ini pun ada yang memindai. Pusat kota Ashgabat memang daerah yang teramat sangat sensitif, yang menjadi alasan ketatnya pengamanan. Ada istana presiden yang berkubah [...]

October 9, 2013 // 2 Comments

Klikpositif.com(2013): Saya Mencari Hal-hal yang Tak Terduga

http://www.klikpositif.com/news/read/3082/wawancara-agustinus-wibowo-saya-mencari-hal-hal-yang-tak-terduga.html Minggu, 06 Oktober 2013 | 11:02 WIB Wawancara: Agustinus Wibowo, Saya Mencari Hal-hal yang Tak Terduga Bagi saya, perjalan itu seperti cermin. Dengan melakukan perjalan keluar wilayah asal kita, disana kita akan tahu siapa diri kita. Penulis: Ahmad Bil Wahid | Editor: Andika D Khagen Agustinus Wibowo adalah sang petualang. Ia telah mengunjungi negara-negara di Asia Barat dan Asia Tengah. Ia menuju Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, dan menembus Pakistan, Afghanistan, Iran, lalu ke Asia Tengah,  Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan, dan Turkmenistan. Baginya, hidup adalah menaklukkan hal-hal yang tak terduga. Ia tidak membayangkan berada di India pada 2008, ketika negara itu diserang bom. Pengalamannya telah menuangkan dalam tiga buah buku, Selimut Debu, Titik Nol dan Garis Batas. Pria kelahiran 8 Agustus 1981—yang tak menamatkan studinya di Institut Sepuluh November Surabaya ini—menceritakan sepenggela pengalamannya kepada jurnalis KLIKPOSITIF, Ahmad Bil Wahid, Sabtu, 5 Oktober 2013. Berikut petikannya.   Apa yang mendorong Anda untuk melakukan perjalan? Awalnya, saya ingin melihat dunia luar, tahun 80an belum ada internet tapi karena hobi menulis saya sudah punya banyak teman pena di berbagai negara. Jadi sejak saya kecil, dorongan untuk melihat dunia luar itu sudah ada. Kenapa memilih hidup dengan bertualang? Bagi [...]

October 6, 2013 // 1 Comment

Garis Batas 80: Turkmenistan Menyambut Anda

Pintu gerbang Kota Cinta Ashgabat (AGUSTINUS WIBOWO) Kota terakhir Iran sebelum memasuki Turkmenistan adalah Guchan di utara Mashhad. Serpihan Iran yang satu ini memang bukan kemegahan macam Tehran Di kota ini gubuk-gubuk tersebar semrawut di kaki-kaki gunung berdebu. Iran, negara kaya raya ini, ternyata punya juga daerah yang morat-maritnya mirip Pakistan. Perbatasan Turkmenistan di desa Bajgiran masih 75 kilometer lagi. Bajgiran sudah seperti dunia lain. Padang-padang hijau menghampari kurva mulus bukit-bukit, membuat saya seakan sudah berada di Asia Tengah lagi. Kalau bukan tulisan-tulisan huruf Arab bahasa Persia, serta perempuan-perempuan yang dibungkus chador hitam, mungkin saya sudah lupa kalau saya masih di Iran. Penukar uang gelap berebutan menjajakan uang Turkmen. Semua membawa kresek hitam besar-besar, yang isinya hanya duit. Sebegitu tidak berharganya kah uang Turkmenistan sampai dibungkus kresek seperti dagangan kismis? Mata uang Turkmenistan namanya Manat. Nilai tukar resmi pemerintah Turkmenistan, 1 dolar = 5.500 Manat. Tetapi harga pasar gelap 25.000 Manat, hampir lima kali lipat. Tanda-tanda negara dengan perekonomian tidak sehat. Walaupun duitnya kecil, pecahan terbesar uang Turkmen hanya 10.000 Manat, yang kira-kira 3.600 Rupiah saja. Saya hanya menukar 100.000 Rial (kira-kira 100.000 Rupiah) dan langsung mendapat sekresek uang Manat pecahan 5000-an. Rasanya benar-benar seperti beli sekantung kismis. Di setiap [...]

October 3, 2013 // 3 Comments

Garis Batas 79: Menuju Antah Berantah

Bendera Turkmenistan (AGUSTINUS WIBOWO) Tak sampai sebulan berselang, saya sudah berada di Bandara Internasional Mehrabad, Republik Islam Iran. Dingin langsung menyambut saya, yang menginjakkan kaki kembali ke tengah negeri-negeri yang tak pernah pupus dari mimpi. Dingin yang sama digemakan oleh pilar-pilar, koridor, eskalator. Bandara Mehrabad sudah tua umurnya. Kosong, lengang, tak beraturan. Tak bernyawa. Saya hanya merasa berada di sebuah bandara. Tak kurang tak lebih. Pesawat kami terbang dari Kuala Lumpur, tempat belanja favorit orang Iran di Asia Tenggara. Setiap penumpang membawa berkoper-koper barang, sepertinya tak ada yang mau menyia-nyiakan kesempatan berbelanja di sebuah surga shopping dunia. Roda bagasi berputar perlahan-lahan. Satu per satu barang bawaan muncul entah dari mana. Di antara barang-barang itu, ada banyak kotak besar berisi makanan bubuk dan popok bayi. Aneh-aneh saja belanjaan favorit orang Iran ini. Dua ratusan penumpang Iran berbaris dengan sabar di depan bea cukai, yang sangat teliti memeriksa semua barang. Saya malah melengang begitu saja, mungkin karena mereka tidak tertarik dengan ransel kumal saya. Tak banyak yang saya lakukan di kota Tehran, selain mengurus visa Uzbekistan dan Turkmenistan. Yang pertama sangat gampang. Dengan berbekal surat undangan dari Tashkent, paspor saya langsung ditempeli stiker visa hanya dalam waktu lima menit. Yang bikin pusing [...]

October 2, 2013 // 3 Comments

Garis Batas 76: Suatu Malam di Tashkent

Tashkent, tersenyum ceria di siang hari, namun bisa jadi ganas di malam hari. (AGUSTINUS WIBOWO) Tak sangka, ketika hujan rintik-rintik mengguyur, di atas jalanan taman yang becek, saya mengalami kejadian paling mendebarkan selama tiga bulan saya tinggal di Uzbekistan. Sudah cukup lama saya tinggal di apartemen Temur Mirzaev, seorang pelajar Bahasa Indonesia di Tashkent. Apartemennya terletak di barisan gedung-gedung perumahan tinggi di sebelah pasar Yunusobod. Pasar ini adalah tempat yang ceria di siang hari, dengan para pemilik warung yang berteriak berebut pembeli. Di waktu malam, daerah ini jadi gelap gulita, karena kurangnya lampu jalan. Hari-hari pertama saya di rumah Temur dulu, saya selalu was-was kalau keluar rumah saat malam. Selalu ada yang mengantar saya, kalau bukan Temur sendiri ya sepupu-sepupunya. Tapi lama-kelamaan saya malah jadi terbiasa dan semakin berani keluar sendirian. Sore itu, sepulangnya dari berinternet ria di warnet seberang jalan, saya melintasi taman di depan apartemen Temur. Sambil berjalan saya menelepon seorang kawan, membuat janji untuk makan malam di restoran. Saat itu, melintas empat orang pemuda Uzbek yang tinggi-tinggi. Mereka memandang saya lekat-lekat. “Ah, paling orang-orang kurang kerjaan yang tidak pernah lihat orang asing,” pikir saya. Puas menelepon, saya ke pasar dulu untuk beli bakmi goreng langganan saya. Di [...]

September 27, 2013 // 2 Comments

Garis Batas 74: Raja Umat Manusia

Seorang mullah dari Shakhimardan (AGUSTINUS WIBOWO) Gerbang perbatasan terakhir yang harus kami lewati untuk menuju Shakhimardan adalah pintu Uzbekistan. Tiga gerbang perbatasan sebelumnya berlalu dengan mulus, berkat kecerdikan Bakhtiyor aka. Namun tidak yang satu ini. Sardor nampak gelisah. Bibirnya tak berhenti komat-kamit membaca doa. Bakhtiyor aka sudah cukup lama turun dan bernegosiasi dengan tentara perbatasan. Seperti yang Bakhtiyor bilang, peluang kami bisa masuk Shakhimardon cuma fifty-fifty. Tentara muda itu datang mendekati Sardor. Sardor di suruh turun, menunjukkan paspor dan dokumen-dokumennya. Saya hanya disuruh tunggu di mobil seorang diri. Tak lama kemudian Sardor berlari ke arah mobil dengan senyum terkembang. Berita bagus, pastinya.              “Kita boleh masuk, kita boleh masuk….,” dia tertawa riang. “Berapa sogokannya?” “Tidak usah sama sekali,” kata Sardor, “kamu boleh masuk karena kamu dari Indonesia. Saya bilang kamu adalah Muslim, dan kita akan pergi berziarah. Tetapi kita hanya punya waktu 45 menit. Tak lebih.” Empat puluh lima menit lagi akan ada pertukaran tentara perbatasan. Kami harus keluar dari Shakhimardan sebelum tentara muda yang berbaik hati ini berganti giliran. Kalau sampai kami terlambat dan tentara lain yang menjaga perbatasan, maka kami tidak akan bisa keluar dari Shakhimardan dengan selamat. Sardor menyebut-nyebut ziarah. Nama Shakhimardan dalam bahasa Tajik [...]

September 25, 2013 // 6 Comments

Garis Batas 73: Menyelundup

Qadamjoy dan semangat Kirghizia-nya (AGUSTINUS WIBOWO) Dunia antah berantah ini bertaburan kampung-kampung terpencil yang dikelilingi negara-negara asing. Shakhimardan, tempat yang paling ingin saya kunjungi di Asia Tengah, adalah sebuah lembah tersembunyi milik Uzbekistan yang dikelilingi gunung-gunung tinggi Pamir Alay milik Kyrgyzstan. Tetapi bagaimana caranya ke sana? Saya harus melewati pintu-pintu gerbang perbatasan Uzbekistan dan Kyrgyzstan, tanpa visa apa pun. Bakhtiyor aka (aka dalam bahasa Uzbek artinya kakak laki-laki), adalah seorang supir taksi dari Vuadil yang kebetulan juga tetangga Sardor. Melihat Sardor yang kelimpungan mencari kendaraan untuk menyelundupkan saya ke Shakhimardan, Bakhtiyor pun menawarkan bantuan. “40 ribu Sum saja,” katanya. Sekitar 35 dolar. Terlalu mahal untuk ukuran kantong kami berdua yang masih standar pelajar. Shakhimardan hanya 25 kilometer jauhnya dari Vuadil, tetapi karena pos-pos perbatasan Uzbekistan dan Kyrgyzstan itulah yang  bikin mahal. Berkat hubungan tetangga, Sardor berhasil menawar sampai 20 ribu Sum untuk misi rahasia bin berbahaya ini. “Kamu harus berjanji,” kata Bakhtiyor aka, “nanti lewat pos perbatasan, sembunyikan kameramu. Jangan bicara apa-apa. Pura-pura bisu. Davai?” “Davai,” saya mengangguk. Bakhtiyor adalah warga negara Uzbekistan, tetapi mobilnya berplat nomer Kirghiz. Dengan mobil ini, Bakhtiyor bisa melaju melintasi semua pos perbatasan Kyrgyzstan tanpa [...]

September 24, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 72: Terkurung

Shakhimardan, desa Uzbekistan yang dikelilingi gunung-gunung Kyrgyzstan. (AGUSTINUS WIBOWO) Kalau Anda merasa Gulshan dan Halmiyon adalah aneh-anehnya negeri antah berantah, tunggu dulu, Anda mesti ke Shakhirmardan untuk melihat ajaibnya Asia Tengah. Pernahkah Anda membayangkan tinggal di sebuah kampung kecil yang dikepung oleh negara lain, sehingga untuk keluar kampung pun Anda mesti menyiapkan paspor dan visa? Ini bukan mengada-ada, enklaf-enklaf bertaburan di Lembah Ferghana. Enklaf artinya daerah kantong, seperti misalnya enklaf Oecussi-Ambeno milik Timor Leste yang dikelilingi provinsi NTT Indonesia. Bedanya, enklaf-enklaf Asia Tengah sangat kecil, biasanya cuma sebesar kampung, dan saking kecilnya banyak yang sampai tidak termuat di peta. Ada sejumput Tajikistan bertaburan di wilayah Uzbekistan, sejumput Uzbekistan di wilayah Kyrgyzstan, dan desa-desa Kirghiz terkepung distrik Ferghana-nya Uzbekistan. Ketiga negara ini, dengan segala konflik ego dan nasionalismenya, tak bisa hidup lepas satu sama lain. Politik regional Asia Tengah dibuat semakin ruwet dengan adanya enklaf-enklaf terisolasi ini, yang sengaja ditanam oleh pemerintah Soviet untuk menjadi ‘bom waktu’ kalau negara-negara ini nekat merdeka. Dan benar saja, konflik teritorial di Lembah Ferghana semakin memanas dengan pertikaian antar Uzbekistan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan yang berdiri di atas garis-garis batas yang hanya Tuhan yang tahu kenapanya. Salah satu contohnya adalah Sokh, enklaf [...]

September 23, 2013 // 1 Comment

Garis Batas 71: Cermin Gulshan, Cermin Halmiyon (3)

Pasar ‘internasional’ (AGUSTINUS WIBOWO) Garis perbatasan internasional yang melintang ke sana ke mari di Lembah Ferghana menciptakan kantung-kantung suku minoritas di mana-mana. Salah satu contohnya adalah Halmiyon. Desa orang Uzbek yang hanya sepuluh langkah kaki dari Uzbekistan kini merupakan bagian wilayah Distrik Osh, Kyrgyzstan. Anak-anak sekolah di Halmiyon berusaha keras belajar bahasa Kirghiz, menghafal hikayat kepahlawanan Manas, mengenal pernik-pernik adat bangsa nomaden, dan yang paling penting dari semua itu, menyamakan detak jantung dan deru nafas dengan saudara setanah air nun jauh di Bishkek sana.  Republik-republik baru bermunculan di atas peta Asia Tengah menyusul buyarnya Uni Soviet. Mulai dari Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgyzstan, hingga Kazakhstan. Semuanya adalah negara-negara yang didirikan atas dasar ras dan etnik. Turkmenistan punyanya orang Turkmen, Uzbekistan untuk Uzbek, Tajikistan negeri bangsa Tajik, demikian pula Kyrgyzstan dan Kazakhstan bagi orang Kirghiz dan Kazakh. Kini kelimanya berdiri tegak sebagai negara-negara merdeka dan berdaulat penuh. Siapa lagi yang dulu membuat kelima negara etnik ini kalau bukan sang induk semang Soviet. Bahkan definisi suku-suku, mana yang disebut orang Uzbek, mana yang namanya Tajik, mana si Kirghiz dan si Kazakh, juga buatan Soviet.  Ketika Soviet bubar, negara-negara buatan ini berdiri di atas setumpuk masalah. Tidak perlu bicara soal ekonomi yang carut-marut ketika [...]

September 20, 2013 // 8 Comments

Garis Batas 70: Cermin Gulshan, Cermin Halmiyon (2)

Bocah-bocah Uzbek di sekolah Kirghiz (AGUSTINUS WIBOWO) Gulshan adalah sebuah desa di Uzbekistan yang dipotong-potong oleh garis perbatasan Kyrgyzstan yang hanya para komrad Soviet dan Tuhan yang tahu apa mengapanya. Ada perbatasan di tengah gang kecil, ada keluarga yang dipecah-pecah oleh batas negara, ada bangunan rumah yang separuh ikut Uzbekistan separuh ikut Kyrgyzstan. Tepat di sebelah Gulshan, ada desa Halmiyon. Orang-orangnya, kulturnya, rumah-rumahnya, bahasanya, semua sama persis dengan Gulshan, yang cuma sepuluh langkah kaki jauhnya. Bedanya, di Halmiyon yang berkibar adalah bendera merah Kyrgyzstan. Saidullo mengendarai mobil Tico-nya, made in Uzbekistan, membawa saya melintasi jalan setapak di belakang desa. Jalan ini tak beraspal dan becek. Gunung-gunung salju berjajar di hadapan. Itu gunungnya Kyrgyzstan, Negeri Gunung Surgawi yang memang tak pernah lepas dari gunung dan salju. Sebenarnya jalan setapak ini juga sudah masuk wilayah teritorial Kyrgyzstan. Saya sedang dalam misi penyelundupan lintas batas tanpa paspor masuk ke wilayah Kyrgyzstan secara ilegal. Tetapi kata Saidullo, ini sudah biasa, orang-orang Halmiyon pun tidak mungkin bisa hidup tanpa interaksi dengan Gulshan, demikian pula sebaliknya. Apalagi pernikahan internasional antara penduduk dua desa sudah sangat lazim. Saidullo mengemudikan kendaraannya ke pusat Halmiyon. Saya dibawa ke sebuah sekolah, gedungnya berdiri megah, papan namanya bertulis “Sekolah Toktogul No. [...]

September 19, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 69: Cermin Gulshan, Cermin Halmiyon (1)

Presiden kita, kebanggaan kita. (AGUSTINUS WIBOWO)) Desa Gulshan di selatan kota Ferghana ini memang tidak tampak istimewa. Deretan rumah berbaris di sisi sebuah gang sempit yang tidak beraspal. Dari depan rumah kita tidak bisa melihat kehidupan si empunya rumah. Kultur orang Uzbek membungkus rumahnya rapat-rapat di balik tembok. Inilah satu hal yang membuat tempat ini berbeda. Orang-orang yang rumahnya di berada di sisi kiri gang memegang paspor Uzbekistan, sementara di sebelah kanan adalah warga negara Republik Kirghizia. Saya masih terpesona dengan lapangnya ruang tamu di rumah Temur Mirzaev, seorang kawan Uzbek yang belajar Bahasa Indonesia di Tashkent. Ruangan ini begitu lapang, karpet-karpet merah menyala menghiasi dinding. Tiga buah bohlam lampu menggantung tersebar begitu saja di sudut-sudut ruangan. Tiba-tiba satu bohlam mati. Yang dua tetap nyala.             “Listrik Uzbekistan putus,” kata Saidullo. Listrik Uzbekistan? Maksudnya? “Lampu tadi disambung dengan listrik dari Uzbekistan,” jelas Saidullo, “sedangkan yang dua ini pakai listriknya Kyrgyzstan. Musim dingin begini, biasa, listriknya Uzbekistan sering putus.” Ketika rumah-rumah lain kegelapan gara-gara pemadaman listrik mendadak, rumah ini tak akan pernah gelap gulita karena ada cadangan listrik dari negara tetangga. Rumah Temur berada di sisi jalan yang menjadi wilayah Kyrgyzstan. Kakek Hoshim, Nenek Salima, Saidullo, istri Saidullo dan [...]

September 18, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 68: Di Kiri Uzbekistan, di Kanan Kyrgyzstan

  Di kiri Uzbekistan, di kanan Kyrgyzstan. (AGUSTINUS WIBOWO) Apa rasanya jika hidup di persimpangan garis-garis perbatasan internasional yang silang-menyilang tak tentu arah? Anda bisa menemukan jawabannya di desa Gulshan, desa kecil yang menjadi batas dua dunia. Temur, seorang kawan pelajar bahasa Indonesia di Tashkent, menganjurkan saya untuk mengunjungi kampung halamannya di Lembah Ferghana untuk belajar lebih dalam tentang keajaiban garis-garis batas negara yang diciptakan pada zaman Soviet untuk memecah belah Asia Tengah. Temur sendiri tidak sempat menemani saya ke Gulshan, tetapi ia berjanji untuk mengatur semuanya dari jarak jauh. Ahror, seorang kerabat Temur, datang menjemput saya saat saya sedang terlena dalam hingar bingarnya pesta pernikahan di Margilan. Kendang masih bertabuhan, dan suara band memekakkan telinga mengiringi lagu-lagu Uzbek yang membawa nuansa padang pasir. Saya belum sempat mencicip nasi plov yang disediakan tuan rumah, Ahror sudah menggeret saya untuk segera pergi mengikutinya. Ahror, bertubuh agak besar, usianya baru 25 tahun tetapi untuk ukuran orang Indonesia ia nampak jauh lebih tua. Jaketnya hitam, topi bulunya yang juga hitam membumbung tinggi dan bulat, mirip rambut kribo. Beberapa giginya berlapis emas, menyilaukan mata. Ahror mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi melintasi jalan-jalan Ferghana yang gelap dan sepi, menuju selatan, perbatasan Kyrgyzstan. Menjelang tengah malam, [...]

September 17, 2013 // 8 Comments

Garis Batas 63: Diciduk Polisi (2)

Polisi Uzbek berpatroli (AGUSTINUS WIBOWO) Halim yang baru saya kenal di dalam bus, setelah mengajak saya berputar-putar di desa yang sama sekali asing, kini membawa saya ke sebuah apartemen kuno di Ferghana. Saya tak tahu lagi ini ada di mana. Saya hanya memasrahkan nasib saya kepada orang ini, yang kini sedang bercakap-cakap dengan gadis berdaster di sebuah apartemen remang-remang dengan temaram lampu merah jingga. Saya tidak paham apa yang dirundingkan antara Halim dengan perempuan itu. Tak sampai lima menit mereka bercakap-cakap, Halim langsung menyeret saya keluar dari gedung bobrok dan bau itu. “Kita ke tempat lain saja,” katanya. Siapa perempuan itu tadi? “Adik,” jawabnya singkat, seolah ingin menghindari cecaran pertanyaan saya yang dungu ini. Halim memanggil taksi lagi. Saya semakin bingung ada di bagian kota mana ini. Malam yang gelap gulita membuat saya mustahil mengingat jalan dan gedung-gedung yang bisa saya jadikan penanda. “Halim aka…..,” sambut seorang wanita hamil yang muncul dari balik pintu sebuah apartemen kecil di lantai dasar. Aka, bahasa Uzbek, artinya kakak laki-laki. Si wanita itu bicara tanpa henti. Saya tak mengerti apa pun, hanya merasakan nada bicara yang merajuk manja. Semua giginya berlapis emas. Halim mengajak saya untuk masuk ke sebuah ruangan. Kosong, tumpukan kurpacha, matras [...]

September 10, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 62: Diciduk Polisi (1)

Kovurma laghman, mie goreng yang menjadi santapan saya bersama Halimjon di Ferghana (AGUSTINUS WIBOWO) Bukan maksud saya untuk mencicipi rasanya ditangkap polisi Uzbekistan. Tetapi malam itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan sepanjang petualangan saya di negeri ini. Damas, angkot jarak jauh, penuh sesak oleh penumpang yang semua berjaket tebal-tebal. Kendaraan berbentuk seperti roti ini mengangkut saya dari terminal Qo’ilok Bazaar di Tashkent menuju ke Lembah Ferghana. Seperti halnya Tajikistan yang harus bersusah payah membangun jalan berbahaya lewat gunung-gunung untuk menghubungkan Dushanbe dengan Khojand di utara, Uzbekistan juga harus membangun jalan dan terowongan melintasi Puncak Kamchik untuk menghubungkan Tashkent dengan Lembah Ferghana. Ini karena setelah negara-negara Asia Tengah merdeka, jalan dataran rendah yang biasanya dipakai sudah masuk wilayah negara lain. Jalan paling nyaman dari Tashkent menuju ke Lembah Ferghana adalah lewat Khojand Tajikistan, sekarang musuh bebuyutan yang untuk melintas saja harus pakai visa. Sekarang bus tidak boleh lewat jalan ini, karena sulitnya medan. Angkutan umum hanya dibatasi taksi dan mobil kecil macam minivan Damas ini. Biaya transportasi pun melangit. Sekali jalan, orang setidaknya harus merogoh kocek 5500 Sum, sekitar 50 ribu Rupiah. Kalau naik taksi, harganya bisa lipat dua. Salju sudah mulai turun di Puncak Kamchik. Saya pun sudah mulai akrab [...]

September 9, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 53: Mafia

Dunia yang langsung mengabur (AGUSTINUS WIBOWO) Saya tertidur lelap dalam sebuah bus malam yang melaju menuju Bukhara. Dan, terbangun dalam ketidakberdayaan, terjebak dalam sebuah taksi yang berhubungan dengan mafia, dan larut dalam kegelapan malam. Dari segala kecerobohan yang pernah saya lakukan, mungkin tak ada yang lebih parah daripada ini. Saya tertidur lelap dalam bus malam yang akan berangkat menuju Navoi, kota kecil di dekat Bukhara. Saya tidak tahu mengapa saya begitu suka tidur di bus. Duduk tegak dalam bus yang pengap, penuh sesak, dan berguncang-guncang, mungkin bukan posisi terbaik untuk tidur. Tetapi bagi saya sama nyamannya dengan tidur di atas kasur empuk dalam istana. Saking nikmatnya, saya merasa air liur pun menetes tanpa sadar. Tas ransel saya taruh di bawah bangku. Tas kamera saya peluk erat-erat. Dan mulut saya terus menganga mengiring lelap, bertengger di wajah saya yang menyandar ke arah jendela kaca yang dingin. Saya tak ingat apa-apa lagi. Bus gelap gulita, hanya suara deru mesin kendaraan kuno ini yang mengisi malam. Saya hanya merasakan beberapa kali penumpang yang duduk di sebelah saya berganti-ganti. Saya duduk di dekat pintu bus, sehingga tempat kosong di samping saya menjadi persinggahan penumpang yang mau turun. Tidur lelap saya terganggu, ketika saya mendengar [...]

August 27, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 45: If You Wanna Live

Almaty menuju gerbang negeri modern (AGUSTINUS WIBOWO) Hari yang cerah. Saya berjalan melintasi jalan taman yang rindang di seberang Gedung Parlemen Almaty. Taman ini memang menjadi tempat favorit orang Almaty untuk nongkrong menikmati matahari yang menghangatkan musim dingin. Hari ini tak banyak orang yang bermandi matahari di taman ini. Hanya dua orang pemuda Kazakh yang duduk-duduk di bawah monumen peringatan perang. Salah seroang dari pemuda itu mencegat saya, mau pinjam HP, katanya. Saya tidak menghiraukan. Saya memang tidak punya HP. Mereka mulai mengajak saya ngobrol dengan bahasa Inggris yang rusak parah. Saya tak punya waktu. “Stop! Stop!” teriak salah seorang dari mereka. Saya tetap tak menghiraukan mereka dan bergegas menuju kantor pos untuk mengirim beberapa kartu. Pegawai kantor pos, seperti di negara-negara Stan lainnya, memang judes dan ogah-ogahan kerjanya. Saya sampai harus memohon-mohon dengan penuh penderitaan supaya mereka mau menjual prangko kepada saya. Saya menghabiskan waktu kira-kira satu jam di kantor pos, sebelum akhirnya menuju ke sebuah warnet di dekat Silkway Gipermarket. Saya hanya satu-satunya pengunjung. Ketika sedang asyik-asyiknya berselancar di dunia maya, tiba-tiba ada sebuah lipatan kertas yang terlempar ke atas keyboard. Pelemparnya adalah seorang pemuda, yang langsung melenggang ke sebuah komputer tak jauh dari tempat saya duduk. “READ!” [...]

August 15, 2013 // 0 Comments

1 6 7 8 9