Recommended

Garis Batas 8: Khorog, Pejuangan dari Balik Gunung

Khorog, ibu kota provinsi GBAO (AGUSTINUS WIBOWO)

Khorog, ibu kota provinsi GBAO (AGUSTINUS WIBOWO)

Khorog, ibu kota propinsi GBAO, adalah sebuah kota kecil yang tenang dan sunyi di bawah teduhnya gunung-gunung raksasa. Walaupun berhadapan langsung dengan Afghanistan dan polisi, tentara, agen KGB berkeliaran di mana-mana, suasana di Khorog masih tetap lengang dan santai. Sejuknya udara pegunungan memang membuat malas. Tidak ada pengemis, gelandangan, pedagang asongan, pencopet, pengamen, dan simbol-simbol kemiskinan lainnya. Rumah-rumah mungil tertata tanpa maksud menantang gunung-gunung raksasa yang mengililingi, terjalin seperti sulaman, tidak berpagar rapat, dengan pekarangan sambung-menyambung. Orang bebas masuk-masuk ke halaman tetangga. Tidak ada ketakutan yang memagari hubungan manusia dengan lingkungannya. Mungkin yang paling mengganggu hanya anjing-anjing besar yang sering berkelahi atau mengejar-ngejar sapi malang.

Tetapi gambaran Khorog yang tenang dan damai adalah sebuah ironi dari kisah kegagalan sebuah negara muda. Ketika perang saudara meletus, seluruh propinsi GBAO memproklamirkan kemerdekaan, yang segera dibalas oleh Dushanbe dengan isolasi total. Jalan menuju GBAO ditutup. Blokade diberlakukan. GBAO adalah daerah pegunungan, di mana puncak-puncak raksasa seakan saling berlomba menggapai angkasa dan orang harus mendongakkan kepala untuk melihat birunya langit. Tidak banyak lahan yang tersisa untuk pertanian. Musim dingin sangat menggigit. Sumber air bersih memang melimpah, tetapi tidak untuk bahan bakar minyak. Empat tahun boikot pemerintah pusat menggiring penduduk GBAO ke tepi jurang kelaparan.

Pada saat itu uang tidak ada artinya lagi. Tak ada barang yang bisa dibeli. Orang-orang kembali lagi ke zaman purbakala, jual beli dengan sistem barter. Pada puncak krisis, bahkan uang pun ikut lenyap dari peredaran, bersama barang-barang yang semakin langka. Hampir semua orang kehilangan pekerjaan. Yang bekerja pun sebenarnya adalah separuh pengangguran.

Adalah Aga Khan, pemimpin spiritual sekte Ismaili, yang disebut-sebut sebagai dewa penyelamat di GBAO. Aga Khan, yang memiliki organisasi badan amal raksasa, menegosiasikan aliran bantuan makanan menembus keterisolasian GBAO. Truk bahan pangan datang berduyun-duyun dari Kyrgyzstan, melintasi jalan-jalan berliku di Pegunungan Pamir. Penduduk mendapat jatah ransum makanan, sehingga walaupun tak punya pekerjaan orang masih bisa tetap makan. Sekarang, setelah Tajikistan kembali hidup dalam kedamaian, organisasi-organisasi milik Aga Khan menawarkan berbagai program pembangunan, mulai dari kredit lunak, universitas, sekolah, keterampilan, pertanian, hingga jalan dan jembatan. Afghanistan di seberang sungai sana, juga dihuni oleh para pemeluk Ismaili. Aga Khan membangun sebuah jembatan dekat Khorog, untuk menghubungkan komunitas Ismaili yang terbelah oleh garis perbatasan internasional.

Dengan keindahan alam yang sukar ditandingi oleh negara lain di dunia, GBAO punya potensi yang luar biasa. Aga Khan juga mengupayakan sektor pariwisata sebagai penggerak perekonomian penduduk.

“Syukur kepada Allah, syukur kepada Aga Khan, atas segala kemurahan hati mereka,” kata Mamadrayonova Khurseda, wanita mantan jurnalis berusia 60 tahun.

Sejak kemerdekaan, kehidupan keluarganya tidak pernah mulus. Kini ia boleh tersenyum bangga, karena MSDSP (Mountain Society Development Support Program) baru saja menurunkan izin kepadanya untuk menerima turis asing. Ia sudah mendapat pelatihan bagaimana melayani turis, menyediakan kamar yang nyaman, masakan yang lezat, dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Kalau ia hanya menggantungkan pada dana pensiun dari pemerintah pusat, yang hanya 6 dollar per bulan, bahtera keluarganya pasti sudah lama karam.

Suami Khurseda meninggal 12 tahun lalu, ketika negara Tajikistan ini masih seumur bayi. Anaknya tinggal dua, laki-laki semua. Timur, si sulung, berusia 35 tahun. Ia baru saja menikah. Seperti sebagian besar penduduk Khorog, Timur dan istrinya sama-sama pengangguran abadi. Yang bungsu dulu bekerja sebagai pilot di Dushanbe. Jangan menganggap jadi pilot berarti banyak uang. Gajinya cuma 40 Somoni, atau sekitar 15 dollar saat itu, per bulan. Gaji satu bulan seorang pilot pesawat terbang bahkan tidak cukup untuk membayar karcis bus dari Dushanbe ke Khorog. Sekarang si bungsu menjadi tenaga kerja di Moskwa, dan menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.

Saya bisa memahami ketika Khursheda terkenang kembali masa-masa kejayaan Uni Soviet, hari-hari ketika semuanya berjalan dengan teratur. Koran tempat dia bekerja dulu adalah satu-satunya harian di GBAO. Tetapi ketika perang meletus di negara muda ini, korannya ikut menyusut menjadi mingguan tipis. Blokade pemerintah pusat membuat uang dan makanan menjadi barang langka. Siapa lagi yang peduli untuk beli koran? Hari ini, ketika kedamaian telah datang ke Tajikistan, hidup pun masih susah. Ketika harga-harga melonjak tinggi, siapa lagi yang mampu menghidupi tiga mulut hanya dengan 6 dolar uang pensiun per bulan?

“Syukur kepada Allah. Syukur kepada Aga Khan. Syukur kepada turis. Kini turis-turis mancanegara pelan-pelan datang kemari, dan kita pun bisa hidup lagi,” kata Khurseda.

Rumah Khurseda terbilang besar dan nyaman. Berbahan kayu, berlantai dua. Ruangan yang paling besar dan indah disewakan untuk turis asing, kebanyakan para petualang, pesepeda gunung, pendaki, dan trekker. Harga sewa kamarnya, sesuai yang ditetapkan oleh MSDSP, adalah 10 dolar per malam. Tetapi semua masih bisa ditawar. Waktu saya datang, tidak ada turis lain.

“Udara sudah mulai dingin di bulan Oktober. Musim turis sudah hampir lewat,” kata Khurseda.

Dibandingkan ibunya yang masih penuh semangat menggebu-gebu, Timur nampak sudah bosan dengan hidupnya. Gurat-gurat wajahnya membuatnya tampak jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Kebosanan karena tak ada yang dilakukan sepanjang hari. Kemarin, hari ini, esok, esoknya lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, tiga tahun lagi, semuanya adalah hari-hari yang sama, datar, tanpa perubahan.

“Hidup sebagai pengangguran itu amat sangat membosankan,” kata Khurseda menjelaskan, “waktu berjalan begitu lambat. Orang jadi cepat tua kalau tidak punya pekerjaan. Saya juga begitu. Setiap hari menyulam, menyulam, dan hanya menyulam. Benar-benar membosankan.”

Pemuda tetangga sebelah rumah, Khan Jon, 24 tahun, juga baru saja memulai hidup sebagai pengangguran. Baru saja ia menamatkan lima tahun pendidikan elektro di universitas setempat. Seperti sarjana muda lainnya, ia kini berpredikat sarjana pengangguran.

“Tidak ada jeleknya sama sekali,” kata Khan Jon, “lihat, kami masih bertahan hidup.”

Ia menghabiskan waktunya di kebun, bertanam tomat dan wortel. Kebun tomatnya gagal total. Wortelnya masih bisa dimakan, tetapi karena kecil dan jelek, tidak mungkin dijual. Hidup Khanjon bergantung kepada ayahnya yang bekerja sebagai wartawan, yang gajinya 30 dolar dari koran dan 30 dolar dari TV. Enam puluh dolar per bulan, termasuk gaji besar di sini.

Perdamaian yang dibawa ke Tajikistan, bukan hanya mendatangkan turis asing, tetapi juga gairah perekonomian di Khorog. Malik, pedagang batu mulia, mengatakan bahwa kalung lapis lazuli khas Badakhshan termasuk barang incaran utama turis-turis asing. Wanita desa juga dilatih oleh LSM untuk menghasilkan kerajinan tangan seperti topi tradisional dan pakaian adat, yang bisa dijual cukup mahal.

Hidup tidak mudah. Tetapi orang-orang tidak menyerah.


(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan ulang sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 17 Maret 2008

1 Comment on Garis Batas 8: Khorog, Pejuangan dari Balik Gunung

  1. Cak agus, kenapa koleksi fotonya sedikit sekali ?

Leave a comment

Your email address will not be published.


*